Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 35


__ADS_3

Aku kembali ke rumah setelah membereskan dapur bi Denok menjadi bersih dan kinclong.


"Mbak ponsel kamu dari tadi bunyi terus tuh" Mama langsung memberikan ponsel begitu aku masuk ke dalam rumah.


"Alan" gumamku lalu mengangkat telfonnya.


"Hallo" ucapku


"Hai hallo, Ara sudah bangun ?" Tanyanya


"Sudah"


"Ohh, apa kamu masih marah sama saya Nay?" Tanyanya lagi.


"Menurut mas?" Aku menaikkan sebelah alisku meskipun dia tidak melihatnya.


"Maafkan saya" ucapnya setelah beberapa saat terdiam.


"Ya, yaudah saya tutuo telfonnya ya Mas, saya harus bekerja. Maaf. Assalamualaikum" aku langsung menutup telfonnya tanpa menunggu sahutan dari orang di sebrang telfon.


Aku bergegas masuk ke dalam kamar, mandi dan segera sarapan dan berangkat kerja.


"Ma, mama gapapa di rumah sama Ara ?" Tanyaku.


"Ya gapapa dong, ya nggak sayang" ucap Mama melihat ke arah Ara yang sedang makan.


"Iyaaa nenek, tante Nay tenang aja" ucapnya sok bijak membuatku gemas.

__ADS_1


"Okay, jangan ke rumah sebelah lagi ya Ara, !" Peringatku membuat Ara menutup mulutnya cekikikan.


"Kamu naik mobilnya Alan Nay?"  Tanya Mama saat aku sudah berdiri dan mencium pipinya.


"Enggak, aku udah telat Ma. Jam segini kalau naik mobil suka macet. Aku naik ojeg aja" jawabku lalu berpamitan dan pergi bekerja.


________


"Nay kamu kok nggak laporan sama Pak Rahmat abis dari luar kota kemren" tanya mbak Hasna saat kami bertemu di lobby.


"Dihh ngapain, orang om Rahmat sama Alan ngerjain aku" sungutku membuat mbak Hasna tertawa.


"Hahaaa, Pak Rahmat kayakmya emang mau jodohin kamu sama Duda Keren itu Nay" ucap mbak Hasna si selingi tawanya.


"Biarin ajalah Mbak" aku mengedikan bahu.


Ting-pintu lift terbuka.


"Aku bulan depan mau cuti Nay, kamu nggak mau gantiin aku buat jadi sekretarianya Pak Rahmat, lumayan loh bisa ketemu terus sama tuh Duren" mbak Hasna masih gencar menggodaku.


"Nggak usah jadi sekretaris juga dia selalu ada aja cara ketemu sama aju mbak, anaknya aja sekarang ada di rumahku" aku langsung menutup mulutku karena keceplosan.


"Hahaha tuh kan ngaku juga haha, emang benee Nay anaknya ada di rumah kamu" godanya menaik turunkan alisnya.


"Apasih mbak, aku duluan ya mbak" untung saja lift segera terbuka jadi aku bisa menghindari pertanyaan dan godaan mbak Hasna.


"Hahahaaa" aku masih mendengar tawa renyah mbak Hasna.

__ADS_1


Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sambil bergumam tak jelas.


"Lo kenapa Nay? Sakit?" Tanya Given saat aku masuk ke dalam ruangan.


"Kagak" jawabku.


"Pagiii" lanjutku menyapa para penghuni ruangan.


"Pagii Mbak" jawab mereka kompak.


Aku segera menuju mejaku, sambil menunggu komputerku menyala, aku mengeluarkan ponselku.


Ada pesan dari Alan dan Dr.Wanda. Wanda ? Oh iya aku mau mengirimkan video, bagaimana bisa aku lupa . Aku menepuk dahiku.


Dr. Wanda [ kamu nggak jadi kirim bideo Nay]


Me [ jadi dok, sebentar ya] .


Aku langsung ngacir ke ruangan Given dan masuk tanpa mengetuk pintu.


"Pagi-pagi udah kayak maling kenapa lu? Nggak kerja malah kesini" ucapnya


"Diem lu! Gue mau bikin video loe diem aja, oinjem ruangannya sebentar" jawabku lalu meletakkan ponselku menyender ke vas yang ada di meja lalu aku merapikan penampilanku.


Aku menghela nafas sebelum memulai Video.


"Hai, apa kabar? Aku harap kamu jauh lebih baik dari sebelumnya (aku teesenyum lalu terdiam sesaat sebeelum melanjutkan ucapanku) . Pulang ya sayang , kenapa kamu harus sembunyi dan menjauhiku (aku mukai menitikan air mataku dan dengan cepat aku menghapusnya) kamu lihat ini ( aku menunjukkan cincin yang tersemat di jari Manisku) yaa aku pakai cincin dari kamu Wan, katanya kamu mau lamar aku ? Ayo pulang, lamar aku dan kita menikah (ucapku di iringi isak tangis) . Kamu jahat tahu nggak ? Kenapa kamu nggak pernah mau bagi beban ataupun masalah kamu sama aku, kenapaa ? (Aku mulai tidak bisa mengontrol perasaanku). Pulang ya sayang, i miss you and i love you so bad"

__ADS_1


Aku langsung menyimpan video dan mengirimkanny pada dr. Wanda.


"Jangan nangis Nay" entah kappan Giben duduk di sebelahku dan langasung merengkuhku dalam pelukannya. Namun yang pasti saat ini aku butuh bahu untuk sekedar bersandar barang sebentar.


__ADS_2