Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 26


__ADS_3

"Boleh saya temani kamu duduk disini Nay"suara Alan menginterupsi membuatku menoleh.


"Boleh mas" aku menggeser duduk'ku memberi ruang untuk Alan.


Semilir angin sore menerpa wajah kami, anginnya begitu kencang tapi memberi efek sejuk.


"Kamu kenapa bisa ada disini Mas" tanyaku.


"Saya habis bertemu client di Cafee Pujangga sana" tunjuinya papda Caffe yangbtak jauh dari taman.


"Oh" jawabku.


Ting- 1 peaan membuatku membukanya


Dr. Wanda [kamu pasti penasaran dengan keadaan Rizwan, dan hubungan saya dengannya kan]


Aku hanya membacanya tidak berniat membalas karena masih ada orang lain di sini, aku hanya ridak ingin di anggap tidak sopan karena mengacuhkannya.


"Kenapa nggak di balas?" Tanyanya


"Nanti aja gapapa mas,. Em saya mau pulang. Kamu masih ingin disini atau ?" Tanyaku menggantungkan kalimat.


"Tentu saja pulang" jawabnya tersenyum, membuatku ikut tersenyum.


"Saya antar?" Tawarnya.


"Nggak usah Mas, saya masih ada sesuatu yang harus di beli, lagian saya juga bawa motor. makasih tawarannya" jawabku.


"Okee, saya duluan ya Nay" ucapya masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya.


Aku menaiki motor dan menuju rumah Rizwan. Aku membeli buah-buahan sebagai buah tangan. Selama menjalin hubungan aku pernah di ajak ke rumahnya beberapa kali.


Rumah Rizwan juga hanya beberapa blok dari rumah Given.


Sampai di si depan rumah berpagar coklat aku diam sebentar menghembuskan nafas perlahan dan turun dari motor.


'Bismillah' tekatku mulai melangkah mendekati pintu


Tok tok tok


"Assalamualaikum" seruku.


Tok tok tok


"Assalamualaikum, permisii" aku mengulang salamku

__ADS_1


"Walaikumsalam, sebentar" sahutan dari dalam terdengar membuatku sedikit lega.


Ceklek


Begitu pintu terbuka aku langsung memasang wajah full senyu.


"Cari siapa neng?" Tanya wanita paruh baya itu


"Tante Sekar ada bik?" Tanyaku


"Ada silahkan masuk. Saya kayak pernah liat Eneng sebelumnya" tanyanya dengan wajah mengernyit.


Aku tersenyum dan mengelus pundaknya perlahan.


"Aku Naya bik, bibi lupa ya sama aku?" Tanyaku.


"Oalahhhh ya Allah,Bibi lupa Neng eh Mbak. Mbak Naya kenapa nggak pernah kesini lagi?" Tanya Bi Ningsih langsung memelukku.


"Iyaa bi, soalnya sibuk kerja. Tante dimana bi?" Tanyaku.


"Ibu ada di kamar Mbak, mau kesana ?" Tawar bi Ningsih.


"Boleh bik" jawabku berdiri mengikuti bi Ningsih dari belakang.


Toktoktok


"Siapa bi?" Tanya tante Sekar.


"Mbak Naya, pacarnya Den Rizwan" jawab bibi.


Hening tidak ada sahutan lagi membuatku dan bibi saling bertukar pandangan.


Ceklek


Pintu terbuka sari dalam menampilkan wajah tante Sekar yang sedikit pucat.


"Nayaaaa" tante Sekar langsung memelukku dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku mengelus punggungnya, mataku mulai memanas dan ingin menangis rasa-rasanya. Tante Sekar melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Masuk yuk" ajaknya menarikku masuk ke dalam kamarnya, dan mendudukan diri di sofa yang ada di kamarnya.


"Kamuu apa kabarnya?lama nggak main kesini" Tanya tante Sekar basa basi.


"Alhamdulillah aku baik tante, maaf kalau aku lama nggak kesini. Tante sendiri apa kabar, tante sakit ya kenapa mukanya pucat" aku menjawab sembari melempar pertanyaan.

__ADS_1


"Tante juga baik sayang, tadi hanya sedikit pusing" Tante Sekar tersenyum menutupi kesedihan dan rasa kesepiannya.


"Aku kemarin abis dari Surabaya tante" aku melihat ekspresi tante Sekar tang terlihat terkejut.


"Oh yaa, Naya ngapain ke Surabaya" tanyanya menampilkan wajah biasa saja tapi tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dari gerak tubuhnya.


"Aku ada tugas dari kantor ke Malang, pulangnya aku mampir ke Surabaya ketemu sama Rizwan" jawabku.


"Tante kenapa nggak bilang sama aku kalau Rizwan sakit tante" aku memegang kedua tangan tante Sekar dengan linangan air mata.


"Maaf maafin tante Nay" tante Sekar terisak membuatku tak tega dan menarik tubuh tante Sekar dalam pelukanku.


Aku tahu sebagai orang tua tunggal pasti tante Sekar juga lebih sakit dari pada diriku.


"Maafin tante Nay. Awalnya tante juga nggak tahu , beberapa bulan yang lalu tante menemukan Rizwan pingsan di dalam kamarnya" Tante Sekar menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.


"Tante panggil dokter keluarga, dan tante juga baru tahu detik itu juga kalau Rizwan mengidap penyakit yang sama dengan Ayahnya" tante Sekar menangis tersedu-sedu mungkin juga mengingat alm.suaminya. aku mengusap punggungnya sampai tante Sekar sedikit lebih tenang.


"Ikut tantee yuk" tante Sekar menarik tanganku menuju lantai 2.


Dan berhenti di depan pintu.


"Ini kamar Rizwan, masuk yuk" ajaknya.


Ceklek.


Pertama kali yang ku lihat adalah suasana kamar yang rapi dan bersih menggambarkan karakter Rizwan yang memang selalu tampil rapi dan selalu menjaga kebersihan.


"Tante suruh bibik bikin minum dulu ya, kamu disini aja gapapa"tante Sekar meninggalkanku sendiri di kamar Rizwan.


Aku melangkahkan kakiku lebih masuk ke dalam, dan melihat foto-foto kebersamaan kami dari masa putih abu-abu tertempel di dinding dengan rapi.


"Hiks hiks hiks" aku menutup mulutku agar tangisku tak bersuara.


"Jahaat banget sih" ucapku pada foto Rizwan yang tengah menampilkan senyum bahagianya.


Aku berjalan ke meja belajar Rizwan san menemukan kotak beludru dimeja dan note yang tertempel di komputernya.


"Ingin bersamanya tapi takdir sepertinya tak merestui"


"Apa maksudnyaa?" Tanyaku tak mengerti arti tulisan itu.


"Sebenarnya Rizwan mau melamar kamu waktu itu Nay, tapi dia mengurungkan niatnya karena tak ingin menjadi beban untukmu ketika dia pergi nanti" ucap Tante Sekar di belakangku.


Aku menoleh ke arah tante Sekar dan membuka kotak yang berisi cincin itu.

__ADS_1


"Ini Rizwan pesan khusus untuk kamau, dan selamanya hanya milik kamu" tante Sekar memakaikan cincin itu di jari manisku.


"Rizwaan" ucapku lirih menyentuk cincin yang melingkar di jariku.


__ADS_2