
"Tadi Ara nangis karena aku kekencengan ngikat rambut dia Mas" jawabku.
"Oh, Papi kirain kenapa? Kunciran Ara bagus kok" ucap Alan melihat ke arah anaknya.
"Iya bagus, papi nggak pernah bisa bikinin kunciran sebagus tante Nay" ejek Ara.
"Yang penting papi kan udah berusaha sayang" jawabnya lalu bercanda dengan Ara.
Aku yang melihat mereka hanya bisa terdiam, salam benakku berpikir bagaimana laki-laki ini bisa membesarkan anaknya sendiri tanpa di dampingi istri.
Di samping dia harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan dia juga harus meluangkan waktunya untuk menjaga anaknya.
Aku selalu saja keinget Papa kalau kayak gini, gimana perjuangan dia buat nyekolahin aku, Althaf dan Nuha, sekarang aku yang mengalami, uang yang du kekuarkan seriap bulan itu tidaklah sedikit, tapi Papa tidak pernah mengeluh ataupun bilang 'tidak' saat aku, Nuha, dan Althaf menginginkan sesuatu.
Sedangkan aku yang baru saja berjuang 3 tahun terkadang masih suka mengeluh dan pusing karena uangku terkadang tidak cukup, aku juga pernah sampai berhutang pada Given.
"Nay !"
Sentuhan di pundaku membuyarkan semua lamunanku, aku menatap Alan dan Ara yang menatapku heran
"Ya?" Jawabku.
"Saya boleh masuk? Saya mau pamit sama tante sekalian berterima kasih sudah menjaga Ara kemarin" ucapnya
"Boleh, ayo masuk" aku berdiri tapi1 Ara sudah mendahuluiku masuk ke dalam rumah membuatku menggelengkan kepala
"Nay" Alan menarik tanganku saat aku akan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Maaf" dia melepaskan tanganku saat aku melihat tangannya yang mencekal lenganku.
__ADS_1
"Nay, saya serius dengan perkataan sata di Bandara.kemarin, tolong pikirkan lagi" ucapnya.
"Anda tahu kan kalau saya sudah mempunyai kekasih, apa masih pantas anda mengatakan itu" tegasku.
"Saya juga tahu kalau sebenarnya kalian sudah putus" jawabnya menohok hatiku.
"Saya mohon pikirkan lagi Nay" ucapnya lalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku yang mematung di depan rumah.
"Ya kami memang sudah putus, tapi aku tidak ingin meninggalkannya di saat seperti ini"gumamku lirih.
________
Aku segera merebahkan diri di ranjang setelah Ara dan Alan pulang.
Aku melihat dr. Wanda mengirimkan foto Rizwan yang sedang bercanda di taman rumah sakit dengan anak-anak.
Aku tersenyum melihat foto itu.
Aku tidak mempunyai teman dekat di SMA, hanya Given dan Rizwan yang menjadi teman dekatku meskipun mereka seniorku.
"Mbak, aku sama Mama mau ke tempat Papa, ikut nggak?" Tanya Nuha dari luar kamar.
Aku segera beranjak dan membuka pintu kamar.
"Mbak di rumah aja dek, jagain 2 kunyuk itu, masih pada di kamar kan ?" Tanyaku.
"Masih mbak, paling juga lagi MABAR" jawab Nuha.
"Yaudah biarin aja, nanti pulangnya beli rujak buah ya dek, kayaknya seger kita ngerujak siang-siang" ucapku.
__ADS_1
"Iyaa mbak, yaudah aku berangkat dulu. Assalamualaikum"
"Walaikumslam"
Aku kembali melanjutkan kegiatan rebahanku dan bermain ponsel.
Tapi tak lama aku mendengar suara seseorang marah-marah di drpan rumahku.
"Keluar kamu Imran !"
"Papa tahu kamu ada di dalam" teriaknya.
Aku segera kekuar kamar dan melihat Imran dengan wajah menegang berdiri di depan kamarku.
"Gapapa, biar mbak yang nemuin Papa kamu, kamu masuk kamar aja" aku meyakinkan Imran kakau semua akan baik-baik saja.
Aku melangkahkan kakiku membuka pintu dan keluar rumah.
Aku melihat Laki-laki dewasa sekitar 40tahunan dan wanita seksi di belakangnya.
"Ada apa ya, kenapa teriak-teriak di depan rumah saya?" Tanyaku.
"Saya mencari anak saya Imran" jawabnya.
Ohh jadi ini papanya Imran. Batinku.
"Mari masuk dulu dan selesaikan semua dengan baik-baik , jangan berteriak di depan rumah orang" aku mempersilahkannya masuk.
Wanita seksi itu terus saja bergelayut di lengan laki-laki itu, hingga nama yang di ucapkan Papanya Imran membuatku menegang dan geram .
__ADS_1
"Jessi, jangan begini"