Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 40


__ADS_3

"Ara sama Om Althaf sebentar ya" aku langsung memberikan Ara pada Althaf.


"Bawa masuk Ara ke dalam kamar kamu dulu, jangan bawa keluar sebelum Mbak minta." perintahku pada Althaf yang langsung di jalankannya dengan Imran yang mengikuti Althaf masuk kembali ke dalam rumah.


Aku masih mengamati mereka bertiga hingga pintu rumah tertutup kemudian aku langsung berbalik dan menatap tajam pada wanita titisan dakjal itu.


"Kenapa Nay?" Tanya Alan yang merasa heran dengan ekspresiku.


Aku tak mengindahkan ucapan Alan, aku melangkah maju ke depan dan langsung menampar pipi jesi dengan keras hingga membuatnya terhuyung.


"Hey, apa-apaan ini" tanyanya marah.


"Anda kenapa menampar calon istri saya" ayah Imran ikut bertanya dengan nada tinggi.


Aku masih diam saja dan menatap tajam pada Jessi.


"Nay, ada apa ?" Tanya Alan lembut membuatku menoleh ke arahnya.


"Maa masih ingat bukan kejadian di resort tempo lalu, dia yang ngunciin Ara di Kamar mandi, dia juga sudah melakukan hal yang membuat Ara trauma" jawabku dingin.


"Kakau kamu nggak bisa melakukan hal yang harusnya kamu lakukan biae saya yang melakukan itu Mas" aku kembali menampar sebelah pipi Jesi.


"Dasar sialan, berani banget loe ya nampar gue" geramnya melayangkan tangannya hensak membalasku tapi aku cekal dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.


"Anda itu apa-apaan, kenapa anda kasar sekali" ucap Ayah Imran dengan nada tak suka.


"Apa bedanya dengan anda ?anda juga melakukan hal yang samaa bukan bahkan pasa darah daging anda sendiri" balasku membuatnya langsung kicep terdiam.

__ADS_1


Aku berjongkok di hadapan Jesi yang memundurkan badannya .


"Kenapa ? Loe takut? Gue ingetin ya nona Jessi yang terhormat, jangan sekali-kali anda menampakkan diri anda di depan Ara lagi kalau anda tidak ingin saya berbuat lebih dari ini!!" ancamku.


"Dan anda, lebih baik anda cari tahu lebih dulu orang seperti apa yang akan anda jadikan istri, jangan sampai anda dapat barang bekas yang sudah bobrok" ucapku pada ayah Imran sembari melirkk ke arah Jessi.


Alan sedari tadi hanya diam saja menyaksikanku menampar Jesi.


"Dasar wanita miskin bar-bar" geram Jessi membuatku tersenyum miring.


Aku bersidekap lalu berjalan dengan anggun mengelilingi Jessi.


"Saya memang miskin tapi saya punya otak" ucapku menunjuk kepalaku


""Aahhh sudahlah, tolong bawa calon istri anda ini pergi , saya tarik ijin saya untuk membiarkan Imran lulang, biarkan dia disini sampai anda menyingkirkan ular berbisa dari sisi anda sebelum anda kena patuk" aku berbicara dengan tersenyum.


"Awas loe ya!" Ucap Jessi sebelum masuk ke dalam mobil Ayah Imran.


Setelahnya aku berbalik dan akan masuk ke dalam rumah tapi Alan mencekal tanganku.


"Makasih" ucapnya dengan senyum sendu.


"Hmmmmm" dehemku lalu melepas cekalan tangannya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ara mana dek?" Tanyaku pasa Akthaf.


"Tidur di kamar aku mbak, badannya anget" jawab Althaf

__ADS_1


Aku masuk san menggendong Ara dengan hati-hati lalu memindahkannya di kamarku.


"Mammmii" igaunya.


Aku mengusap puncak kepalanya agar dia merasa nyaman dan aman.


"Saya tidak tahu kalau Jessi sangat keterlaluan" suara Alan terdengar di ambang pintu kamarku.


"Ya itu karena kamu tidak pernah bertanya ataupun mencari tahu" sinisku.


"Ya kamu benar Nay, saya memang Ayah yang bodoh dan tidak berguna" ucapnya sarat akan penyesalan.


"Tentu saja , kalau kamu pintar Ara nggak bakalan punya trauma" aku semakin menyudutkannya.


Kami terdiam, aku menyesaki ucapanku yang terkesan menyalahkannya dan Alan menyesali akan ketidaktahuannya.


"Ayo kita menikah Nay" ucap Alan tiba-tiba membuatku mematung.


"Menikah itu tidak sama seperti kita beli barang Mas, yang bisa dengan cepat kamu beli dan kamu hempaskan ketika kamu bosan" jawabku.


...*...


...*...


...*...


...Di pikir Nikah itu beli baju kali ya....

__ADS_1


...Tinggal tunjuk langsung jadi....


...Nggak mudah menakhlukan hati Naya si gadis bar-bar kali Mas Dud 😜...


__ADS_2