Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 28


__ADS_3

Aku sampai di kantor dan mengerjakan tugasku. Aku menyibukkan diri dan sengaja mematikan ponsel agar pikiranku bisa fokus dan mengurangi sedikit kesedihanku.


"Coklat panas mbak" Vivi meletakkan secangkir coklat panas di mejaku.


"Thank you sistaa" ucapku menyeruput coklat panas buatannya.


"Sama-sama" Vivi berlalu ke meja nya. Aku kembali fokus ke pekerjaanku.


Kring kring


"Hallo" ucapku.


"Istirahat dulu" ucap Given membuat ku mengernyitkan dahi lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.


'Udah jam setengah 1 ternyata' gumamku.


"Lu ke ruangan gue sekarang, gue udah buat makan siang" ucapnya lalu memutuskan sambungan telfon.


Aku meletakkan gagang telfon pada tempatnya, meng-save As pekerjaanku dan mengambil ponsel lalu menuju ke ruangan Given yang setengah terbuka. 


Toktoktok


Aku mengetuk pintu dan langsung masuk dan langsung duduk di dsofa ruangan Given.


Aku tidak langsung makan karena pemilik ruangan juga tengah menunaikan ibadah jadi aku menunggunya selesai sambil memainkan ponsel yang sedari pagi tidak ku sentuh.


Begitu ponselku menyala ada beberapa panggilan yang tak terjawab di iringi pesan-pesan yang masuk ke ponselku.

__ADS_1


Dokter Wanda rekaman apa. Batinku


Karena penasaran aku klik rekaman itu.


"Apa gue terlalu jahat ya Nda, gue hancur waktu liat dia nangis kemarin. Lebih baik dia nge-benci gue, daripada teruss nungguin orangnpenyakita kayak gue"


Deg


Ya benar itu suara Rizwan, aku menutup mulutku menggunakan sebelah tangan. Aku memejamkan mata sejenak sebelum mendengarkan isi rekaman kedua yang di kirimkan Dokter Wanda.


"Padahal gue tahun ini mau ngelamar dia, umur kita juga udah pas buat menjalin hubungan yang lebih serius, tapi semua udah hancurr Nda hancur" suara Rizwan terdengar frustasi.


"Kenapa nggak lo coba dulu" suara Wanda mencoba memberi nasehat.


"Heh, gue nggak sePercaya diri itu Nda, bisa ajakan gue mati 3 atau 4 bulan lagi, dia juga berhak bahagia, dia juga berhak dapet pasangan yang sehat, gue cuman mau lihat dia senyum terus Nda" suara Rizwan dengan kekehan lirih membuat air mataku kembali memetes.


"Ven, hiks hiks" aku menangis.


"Rizwan nggak mau kemo , dia mikirnya percuma. Ujung-ujungnya juga mati" ucap Given


"Nomer gue di blok sama dia Ven, hue kemaren abis dari rumahnya, gue nggak nyangka ternyata ada banyak foto gue di kamarnya, gue juga nemuin ini terus di pakai'in sama tante Sekar" aku menunjukkan cincin bertahta berlian kecil yang melingkar di jari manisku.


"Ya, emang Rizwan suka sama lu sejak lu masuk SMA, waktu masih MOS, tapi dia nggak berani deketin lu gegara lu kan orangnya jutek" kekehnya membuatku ikut terkekeh.


"Kan gue nggak kenal, kalo udah kenal mah gue orangnya asik" sombongku .


"Narsis lu ah, dah ayok makan" ucap Given mengacak rambutku membuatku mendelik lalu merapikan rambutku.

__ADS_1


Aku dan Given makan di selingi Given yang bercerita masa SMA, masa dimana Given dengan gaya tengilnya mengajak'ku berkenalan sampai mengikutiku masuk kelas. Membuatku tertawa dan melupakan kesedihanku.


"Dah selesai, gue balik ya. Thanks traktirannya" godaku menaik turunkan alisku.


"Iyeee, sono kerja sono lu, jangan mewek mulu" jawabnya.


"Hahaa, iyaaaa" ucapku lalu keluar sari ruangannya.


"Kenapa tadi aku nggak di ajakin makan siang?" Tanyaku menatap Vivi, Eri san Risa bergantian.


"Udah di ajak kok, tapi mbak nggak nyahutin apa-apa, kita pikir mbak Nay istirahatnya belakangan" jawab Risa yang di angguk'i Vivi dan Eri..


"Okeeee" jawabku lalu meneruskan langkah ke mejaku.


Aku membuka ponsel dan membuka peaan dari Alan.


Papi Ara [ Nay]


Papi Ara [kok gak aktif]


Papi Ara [ jangan lupa makan siang]


Papi Ara [kalau udah baca pesan dariku, balas ya]


Aku menghela nafas lalu mengetikan pesan balasan. Aku tidak mau terlalu dekat dengan Duda anak 1 ini.


Karena jantungku selalu tidak aman ketika dekat dengannya, aku bukan AbG lagi, aku mengerti bahwa aku mengaguminya, tapi aku juga takut semakin terperosok jatuh dalam pesonanya sedangkan aku memiliki kekasih yang sangat mencintaiku dan sedang berjuang untuk hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2