
Aku merasakan nyeri di tubuhku, lalu aku merasakan sesuatu mengalir di hidungku, aku dengan cepat mengambil tisue di meja dan menutupi hidungku.
"Maaf saya keluar sebentar" aku berdiri dan segera keluar.
"Jangan sekarang dong" gumamku.
Aku merasakan sakit yang hebat di kepala, aku mencoba memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusingku.
"Anda sakit? Mau periksa dulu tidak?" Tanya Alan yang ternyata menyusulku keluar.
"Tidak, saya hanya sedikit pusing. Saya boleh minta tolong" aku membuka mata dan menatapanya.
"Apa?"
"Tolong sampaikan ke Naya kalau saya pulang duluan, dan tolong sampaikan maaf saya karena tidak bisa mengantarnya pulang" ucapku berdiri lalu berjalan perlahan menjauh.
Sampai di Lobby, aku meminta salah satu satpam rumah sakit untuk memesankan taksi. Aku tidak kuat jika harus menyetir sendiri.
POV END
kembali pada Naya yang sedang mengusap puncak kepala Ara agar cepat tidur saat Alan masuk.
"Rizwan mana mas?" Tanya Naya dengan suara lirih.
"Pulang, dia tadi mengeluh sedikit pusing jadi dia pulang duluan dan minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang" jawab Alan.
"Pulang" gumamku lirih dengan dahi berkerut.
Naya melirik ke arah Ara yang sudah tertidur, perlahan Ara turun dari ranjang dan mengambil ponsel di dalam tasnya
__ADS_1
Naya mencoba menghubungi Rizwan namun tidak di angkat.
Naya duduk di samping Alan dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf Nay kalau saya dan Naya merepotkan kamu" ucap Alan.
"Gapapa Mas, saya hanya khawatir sama Rizwan, mungkin sakitnya kambuh jadi dia mengeluh pusing" jawabku.
Alan dan Naya sama-sama diam hingga akhirnya Alan menjatuhkan kepalaya di pundak Naya memnuat si empunya terlonjak kaget.
Saat Naya melirik ke arah Alan, ternyata Alan memejamakan mata mungkin kelelahan menjaga Ara hingga ketiduran.
Naya membiarkan pundaknya menjadi sandaran Alan, tanpa Naya sadari Alan menarik sedikit kedua bibirnya ke atas.
Karena terlalu lelah bermain ponsel dan di tambah suasana sepi membuat Naya juga ikut tertidur.
*
*
Namun sedetik kemudian aku terbangun karena tanganku menyentuh lantai.
"Sudah jam 5 ternyata" ucapku sembari menguap.
Ceklek
Suara pintu yang di buka dari luar membuatku menoleh.
"Hai , udah bangun rupanya"ucap Alan mau dengan menenteng tas kresek berisi makanan.
__ADS_1
"Iya mas, Ara mana ?" Tanyaku karena tak melihat Ara di ranjangnya.
"Lagi di taman di temani suster , saya mau beres-beres dulu karena Ara boleh pulang" jawabnya.
"Yaudah saya bantu Mas".aku menawarkan diri membantunya.
"Tidak perlu, barangnya hanya sedikit kok Nay" tolaknya.
Aku hanya mengamati Alan yang sedang membereskan tas Ara, kemudian Alan bersiri di depanku.
"Ayo kita susul Ara di taman Nay, sekalian kita pulang" ajaknya.
"Iya Mas" aku berdiri dan mengikutinya yang sudah lebih dulu keluar
Aku dan Alan berjalan bersisihan dengan Alan. Aku menatapnya dari samping dia terlihat sangat lelah.
"Ara biar di rumahku dulu aja Mas, disana kan ada Mama jadi bisa bantu merawat Ara" ucapku.
"Gapapa aku ngrepotin lagi" ucapnya berbinar .
"Gapapa mas, lagian nggak ngrepotin. Mama juga sayang sama Ara" jawabku.
"Baiklah" ucapnya.
Kami mendekati Ara dan berterimakasih pada suster yang menjaga Ara.
"Ara pulang ke rumah nenek mau ?ke rumah tante Nay?" Tanyaku.
"Mau tante,, yeeeey. Bolehkan Papi?" Tanya anak itu pada Alan dengamnmata puppeeyes nya membuatku gemas.
__ADS_1
"Tentu saja boleh" jawabku dan Alan tersenyum mengangguk.