Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 23


__ADS_3

Di perjalanan pulang aku dan Alan tidak ada yang berbicara, Ara pun sudah terlelap di bangku belakang.


Aku memilih memejamkan mata karena aku tidak menyukai situasi canggung seperti ini. Tak lama aku membuka mata dan ingin ke kamar mandi.


"Mampir ke Pom bensin dulu ya Mas, aaya mah ke kamar mandii" ucapku.


"Hmm" dehemnya lalu membelokkan mobil ke Pombensin.


Aku segera turun begitu mobil Alan berhenti.


Aku lekas ke kamar mandi , setelah itu mencuci tangan dan kembali ke mobil.


Aku sengaja masuk dan langsuung duduk di bangku belakang.


"Kenapa pindah?" Tanyanya dengan dahi berkerut.


"Gapapa, saya hanya ingin di dekat Ara saja" jawabku.


"Pindak ke depan Nay, saya bukan supir!" Ucapnya .


"Nggak mau, sata disini saja"jawabku keras kepala.


"Kamu tuh kenapa sih" tanyanya sedikit ngegas.


"Bapak yang kenapa?aneh tiba-tiba aja diem, trus swkarang malah marah-marah" jawabku nyolot.


Alan mengusap wajahnya kasar berulang kali lalu menatapku lembut.


"Maaf Nay, saya hanya lelah. Tolong oindah ke depan ya , kita ngobrol biar saya nggak ngantuk" pintanya lembut.


"Nyalain radio aja, saya sudah terlanjur PeWe disini" ketusku.


Alan membuang nafas dan mengalah lalu melajukan mobil. Aku sebenarnya kasihan tapi aku juga dongkol. Apa selahku? Kenapa dia tiba-tiba baik lalu tiba-tiba diam lalu marah.


Begitu sampai di hotel aku langsung menggendong Ara dalam dekapanku.


"Ara langsung tidur sama saya saja" ucapku begitu lift membawa kami ke lantai tempat kami menginap.


Saat aku akan menutup pintu tangan Alan mencegahnya membuatku mau tak mau membiarkannya masuk karena menggendang Ara cukup membuatku pegal.


Aku meletakkan Ara di kasur, melepas sepatu san menyelimutinya.


Aku menghadap Alan yang kini tengah menatapku.


"Saya benar-benar minta maaf Nay" ucapnya. Aku terdiam laku menghembuskan nafas perlahan.


"Baiklah, saya sudah memaafkan Mas. Sekarang saya mohon Mas Alan kembali ke kamar Mas,.saya juga ingin istirahat"pintaku.


"Baik, selamat malam" ucapnya mengusap puncak kepalaku lalu beejalan keluar kamarku.


"Malam" jawabku memegang kepalaku yang tadi di usapnya.

__ADS_1


Tak ingin berlarut dalam ke-Baperan, aku langsung ke kamar mandi untuk berganti baju dan mencuci muka, berlanjut crim malam. Dan merebahkan diri di samping Ara.


Aku mencari ponselku di tas lalu mengirim pesan ke Given.


Me [gue besok mau ke Surabaya, sore mau balik dari Surabaya, lu mau balik bareng apa gimana?] Send


Aku mematikan ponsel lalu merangkai keindahan di alam mimpi.


*


Keesokan paginya aku sudah siap mengemas pakaianku dalam koper.


Toktoktok


"Lu mau ketemu Rizwan dulu di Surabaya" tanya Given begitu aku membuka pintu.


"Assalamualaikum dulu napa siih, gak sopan banget lu"protesku.


"Walaikumsalam, buruan jawab pertanyaan gue tadi" desaknya.


"Iyalaahh, mumpung dekat gini" sinisku.


"Minggir sana, gue mau keluar. Lu mau ikut pulang nggak ?" Tanyaku


"Gue ntar sore balik naik kereta dari sini"ucapnya." Lu ati-ati"lanjutnya.


"Kuylah" jawabku lalu keluar bersamaan dengan Alan dan Ara yang keluar dari kamarnya.


"Sudah semua, nggak ada yang ketinggalankan ?" Tanyanya.


Kami chek-out dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya.


"Nanti saya turun di taman Suroboyo aja mas" ucapku.


"Oke"


Sungguh akau berdebar seperti remaja yang akan bertemu kekasihnya.


Aku membayangkan bagaimana aku dan Rizwan saat bertemu nanti.


Setelah hampir dekat Taman aku mengirim pesan ke Rizwan.


Me [aku ada di Surabaya , kamu ada dimana? Ayo kita bertemu 🥰]


Ting


Rizwan [aku sedang pergi bersama temanku Nay, kamu sama siapa kesini?]


Me [kamu pergi kemana]


"Nay ini udah sampai, kamu mau di tunggu disini atau kami tinggal ke pantai Kenjeran"

__ADS_1


Suara Alan mengalihkanku dari ponsel.


"Di tinggal aj...bentar bentar" ucapku lalu lekas turun dari mobil begitu melihat Rizwan dari kejauhan.


"Rizwaann" teriakku dan dia menoleh.


Aku berlari dan memeluknya, tapi aku tidak merasakan Rizwan membalas pelukanku.


"Hai, kamu gak kangen aku" ucapku begitu melepas pelukanku. Aku memperhatikan wajah Rizwan yang pucat dan badannya yang sedikit kurus.


"Kamu sakit?" Tanyaku


"Dia siapa Wan?, katanya tadi sama temen" tanyaku lagi karena Rizwan masih bungkam hanya menatapku.


"Kamu kenapa diem aja? Jawaaaab Rizwan jawaab" aku mengguncang tubuhnya.


Rizwan langsung memeluk'ku erat.


"I miss you, i miss you so bad"suaranya terdengar lirih dan sedikit serak , aku juga merasakan bahuku sedikit basah.


Baru saja aku akan tersenyum dan akan membalas pelukannya, Rizwan mengucapkan kata yang membuat air mataku yang tadi ku tahan langsung luruh.


"Kita putuss ya Nay" ucapnya melepas pelukannya. "Aku nggak pantes buat kamu" lanjutnya.


"Enggak, aku nggak mau Wan. Please , jangan becandaa dong" raungku berjongkok menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku tak peduli sekalipun jadi perhatian semua orang.


"Aku nggak bercanda, aku serius. Aku harap kamu mau ngerti" ucapnya.


"Tapi kenapaa?apa alasannyaa Wan" tanyaku penuh emosi bercampur kekecewaan.


Pertemuan yang aku harapkan sekarang hanya tinggal hayalan, semua hancur lebur.


"Aku nggak bisa kasih tahu alesannya apa, kamu pulang ya. Kamu sama siapa tadi kesininya" ucap Rizwan memegang pundak'ku dan mencari seseorang di sekitar kami.


Rizwan menggandeng tanganku, dan membawaku ke samping mobil yang Alan sewa.


"Tolong ajak Naya oulang ya Mas, tolong jaga Naya" ucap Rizwan menepuk bahu Alan pelan lalu beralih menatapku.


"Kamu ati-ati pulangnya ya.love you and sorry" ucap Rizwan lirih mengecup keningku lama membuat air mata kami sama-sama menetes.


Aku menatap ke Arah Rizwan dan dia tersenyum lembut.


Aku memeluknya, menumpahkan tangisku di dalam dekapannya dan Rizwan terkekeh sambil mengusap punggungku.


"It's okay Nay, maaf yaa kalau selama ini aku ada kurang ataupun salah sama kamu" ucapnya aku jawabi dengan gelengan.


Rizwan melepas pelukanku dan megusap airmataku.


"Udah jangan nangis lagi, aku duluan yaa. Ayo Nda" ucapnya pada gadis yang beraamnya tadi .


"Iyaaaa" ucap gadis itu lalu menyelipkan kartu nama di tanganku tanpa sepengetahuan Rizwan.

__ADS_1


Dr. Wanda Ayunda S.PD.


Spesialis penyakit dalam. Batinku menatap Rizwan dan Dr.Wanda yang menjauh.


__ADS_2