
Aku memperhatikan Alan yang menggendong Almeer setelah menyapa mama. Beberapa tahun tidak bertemu dia terlihat sedikit berbeda di mataku.
Dia tak seramah dulu, tapi senyum lembutnya masih tetap sama.
"Jangan di lihatin terus, nanti kamu jatuh cinta" goda mama.
"Apa sih ma" kilahku.
Aku membiarkan Alan membawa Almeer ke arena bermain ,sedangkan aku dan mama pergi ke toko baju anak-anak membeli baju untuk Almeer dan Ara.
Aah, aku jadi rindu anak itu. Meskipun kami tidak pernah bertemu tetapi kami masih berkomunikasi, hanya saja aku tidak pernah memperlihatkan Almeer pada Ara.
Aku menyusul Alan yang menemani Almeer bermain , Almeer begitu bahagia saat bermain bersama Alan membuatku merasakan kehangatan di dalam hatiku.
"Lihatlah Almeer begitu bahagia Nay, cepatlah menikah agar dapat memberikan sosok Ayah dalam hidup Almeer" ucap Mama menatap ke arah Alan dan Almeer.
"Siapa yang mau sama Nay ma, siapa yang mau sama ibu satu anak ini, lagipula aku juga sudah cukup bahagia ma" jawabku memeluk Mama dari samping.
"Tapi Almeerkan bukan__"
"Almeer anaknya Nay ma, sampai kappanpun Almeer tetap anaknya Naya" tegasku memotong ucapan Mama.
"Iyaa sayang, maafin mama ya" ucap Mama.
Aku menunduk mengingat dua setengah tahun yang lalu, dimana pangeran mungilku itu baru saja lahir.
Aku yang pertama kali menggendongnya, aku yang memeluknya disaat bayi kecil itu menangis dengn kencang.
FLASHBACK
"Nay, gue titip dia. Tolong rawat dia Nay" ucap Desti saat Almeer baru saja lahir.
"Kita rawat sama-sama Des, dia masih butuh loe" aku berucap sembari menggelengkan kepalaku.
"Gue udah nggak sanggup Nay" ucapnya semakin lirih.
"Jangan banyak ngomong dulu, istirahat duku Des" mataku berkaca-kaca melihat keadaan Desti yang lemah.
Teman yang selalu mendebatku, teman yang tak pernah berhenti mencari masalah denganku kini lemah tak berdaya di atas ranjang kesakitan karena preeklamsia yang dia alami.
Aku di minta dokter keluar di saat kondisi Desti semakin menurun, aku masih dapat melihatnya masih bisa tersenyum di detik-detik ajal menjemputnya.
Aku menitikkan air mataku, dan segera keluar untuk menemui bi Denok.
__ADS_1
"Anaknya laki-laki bi, ganteng. Meakipun baru 8bulan tapi dia sehat dan juga lengkap hiks" aku berucap sembari menangis di pelukan bi Denok .
Mama yang juga ada di rumah sakit di temani Nuha pun tak kuasa menahan rasa haru saat anak Desti sudah lahir ke dunia.
"Lah, kamu kenapa kok malah nangess?" Tanya bi Denok karena aku masih menangis tersedu-sedu.
Belum sempat aku menjawB dokter keluar dengan raut wajah yang aku tahu pasti akan menyampaikan berita duka.
"Anak saya gmana dok?" Tanya bi Denok melepas pelukanku dan menghampiri sang dokter.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bu, kami tidak dapat menolong nyawa pasien" dokter berucap sembari mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Desti__" ucap bi Denok lirih
"Ya Allah Desti, Destiiii" teriak bi Denok histeris membuatku langsung mendekat dan kembali memeluk bi Denok.
Mama juga membantuku menenangkan Bi Denok ,hingga Bi Denok jatuh pingsan dan dengan di bantu perawat dan dokter kami membawa bi Denok untuk berbaring di kamar rawat.
FLASHBACK END
"Issshhhh" aku mendesis saat aku merasakan pipiku dingin dan basah.
"Kenapa melamun?" Tanyanya memberiku red velvet boba.
"Nggak apa-apa mas" jawabku.
"Kamu sudah menikah? Anak kamu ganteng pasti mirip papanya" ucapnya memecah keheningan.
"Ya, mungkin dia mirip papanya" jawabku membuatnya mengernyitkan dahi.
"Dia bukan anak kamu?" Tanyanya menatap ke arahku.
Aku hanya tersenyum , enggan menjawabnya.
"Jangan bilang kalau dia anak__"
"Ya kamu beenar mas, dia anaknya Desti. Almeer cucunya bi Denok" aku memotong ucapannya.
"Hah, syukurlah" ucapnya merasa lega.
"Syukur kenapa?" Tanyaku heran.
"Gapapa Nay" jawabnya.
__ADS_1
"Lalu bi Denok dan anaknya sekaeang ada dimana?" Tanyanya.
"Desti sudah meninggal, bi Denok kembali ke kampung halamannya" Jawabku.
"Kenapa Almeer bisa sama kamu?" Tanyanya heran
"Karena bi Denok mengatakan sudah tak sanggup jika harus mengurus bayi lagi, jadi aku mengambil alih hak asuh Almeer dan menjadikannya anakku" jawabku tersenyum lalu melambaikan tangan pada Almeer yang sedang menatap kami.
"Kamu mengurus Almeer sendiri ?"
"Ya, aku menyewa Apartement di dekat Caffe. Aku terpaksa meninggalkan rumah agar tidak ada tetangga yang menggunjing kami" ucapku seraya menunduk.
"Kenapa kamu tidak menikah?" Tanyanya dengan nada suara yang serius.
"Mana ada laki-laki yang mau dengan Ibu anak satu sepertiku Mas, lagipula aku masih belum bisa menghapus bayang-bayang Rizwan di hidupku" jawabku tersenyum.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku saat itu?" Tanyanya lagi kini dia memegang tanganku.
"Karena aku rasa aku masih bisa sendiri Mas, dan aku juga tidak ingin membebanimu" aku melepas perlahan tangannya yang menggenggam tanganku.
"Rasaku itu masih ada Nay".lirihnya menatap lurus ke arahku.
"Hapus saja mas, aku tidak ingin membuatmu terluka untuk kedua kalinya" jawabku lalu beranjak ingin menghampiri putraku.
"Sekali saja Nay ! Sekali saja beri aku kesempatan" Alan menahan tanganku ketika aku akan melangkah.
"Biarkan semua mengalir seperti air ya Mas, sekarang aku memiliki putra yang harus ku jaga hati dan perasaannya" aku melepaskan cekalan tangannya dan segera melangkah menjauh dari Alan.
*
*
*
*
Sudah terjawab ya bestie Almeer itu anaknya siapa 😘🤗
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terimakasih untuk kalian semua yang sudah membaca karyaku sejauh ini, maafkan mamak jika masih banyak typo bertebaran....
...**...
__ADS_1
...Lope you pull . Emmuach 😘🥰...
...Sarangbeo mumumumum 😘😘😘...