Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 6


__ADS_3

Ketika jarak yang semakin dekat dengan rumah mulutku tak berhenti berdoa semoga saja malam ini tidak ada gangguan.


"Kayak dukun aja kamu mbak, dari tadi komat kamit baca mantra" mama terkikik di belakangku


"Biar setan-setan di sebelah rumah nggak ganggu ma" jawabku asal.


"Kami nih, nggak boleh gitu sama orang tua" mama menepuk pundak'ku pelan.


Sampai di depan rumah aku memarkirlkan motor kesayangan adikku di halaman, aku menengok ke belakang untuk melihat mobil Alan yang mengikuti kami.


"Welcome to my home sweet home princes" aku merentangkan tanganku menyambut Ara yang baru saja turun dari mobil.


"Ini rumah tante Nay?" Tanya Ara


"Bukan, ini rumah mamanya tante Nay" jawabku terkikik "ayo masuk Ara sayang, mari masuk pak" ucaku pada Ara dan papinya.


Baru saja sampai teras suara mak lambe sudah terdengar.


"Oalah oalah oalah ganti lagi, ganti lagi. Mana udah punya buntut lagi, ati-ati nanti  di labrak istrinya baru tau rasa, jadi perempuan kok ya ganjen, kayak nggak ada yang single aja" bu Denok mulai berceloteh.


"Ma tolong bawa Ara sama pak Alan masuk dulu" ucapku melihat ke arah mama.

__ADS_1


"Mari masuk Nak Alan,Ara sayang tadi nenek bikin kue, Ara mau coba?" Ajak mama. Begitu mama, pak Alan dan Ara masuk ke dalam , aku menghampiri bi Denok yang memasang wajah angkuh.


"Bibi tadi ngomong apa?coba ulangi dong" Tanyaku pada bi Denok.


"Apa?aku nggak ngmong apa-apa kok, nggak usah ge-er" jawabnya dengan wajah watadosnya.


"Jangan bikin fitnah ya bi, nanti bibi dapet balesannya kalau suka bikin fitnah" jawabku.


"Maless aku ngomong sama kamu, bocah gendeng" ucalnya lalu melenggang masuk ke dalam rumah. Aku menghela nafas kasar dan mengelus dadaku.


Sabar. Batinku


Aku masuk ke dalam rumah, orang yang pertama kali ku lihat adalah pak Alan yang duduk sambil memainkan ponsel. Dia mendongak, mungkin menyadari keberadaanku.


"Gapapa pak Alan, saya sudah biasa, memang tetangga saya kayak gitu orangnya" jawabku mengalihkan pandangan.


"Jangan panggil saya pak, panggil nama saja Nay" ucapnya.


"Oh iyaaa , Mas. Saya panggil mas Alan saja ya" jawabku "Ara dimana mas?" Jawabku mengalihkan percakapan.


Alan tersenyum tipis "lagi makan kue bikinan tante"

__ADS_1


"Oh" aku bingung harus bertanya apalagi.


Kami sama-sama diam, Alan masih sibuk dengan ponselnya, dan akupun juga sibuk dengan ponselku membalas pesan kekasihku yang dalam perjalanan ke Surabaya.


"Eheeem" alan berdehem, dan aku melihat ke arahnya menaikkan kedua alisku seolah bertanya 'ada apa?'.


"Boleh minta tolong panggilkan Ara dan juga tante, saya rasa sudah malam, dan sudah waktunya kami pulang" lanjutnya.


"Boleh mas, sebentar saya panggilkan ddulu" aku berdiri dan berlalu meninggalkannya menuju dapur.


"Ma, itu mas Alan mau pulang, mama ke depan gih" ucapku lalu melihat ke arah Ara "enak kuenya?Ara mau.bawa pulang?" Tanyaku.


"Enak tante, iya tadi nenek udah bungkusin buat di bawa pulang"  ucapnya dengan mulut penuh dengan kue.


"Yaudah yuk ke depan sayang, udah di tunggu papi" ajak'ku menggandenng tanganya ke depan.


Alan berdiri melihatku,mama dan Ara.


"Tante saya permisi mau pulang, maaf merepotkan tante"ucapnya.


"Gapapa nak Alan, jangan kapok main ke rumah tante ya. Ara, kapan-kapan kesini laginya, kita bikin kue yang banyak" ucap mama.

__ADS_1


"Asiiikkk, yeeeeeey. Mau nek. Bolehkan papii" ucapnya dengan suara menggemaskan.


"Boleh kalau ridak merepotkan tante Nay sama nenek" jawab Alan. "Kita pulang ya, salim dulu sama tante Nay dan nenek" titahnya.


__ADS_2