Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 20


__ADS_3

Akhirnya hari jumat datang juga, aku sengaja tidak mengabari Rizwan kalau aku akan ke Malang, aku hanya mengabari Given saja kemarin malam.


Pagi ini aku membantu ibu memasak untuk sarapan, karena aku akan berangkat jam 8, aku tidak perlu ke kantor. Karena tugas-tugas sudah aku berikan kepada anak-anak di divisiku.


"Dek, selama mbak keluar kota jangan bikin ulah yang bikin jantungan, Nuha juga nggak usah ngasih Les di luar rumah dulu, kalau mau biar mereka yang kesini, ruang tamu kita kan cukup buat nampung beberapa anak" nasihatku pada kedua adik'ku di sela sarapan pagi kami.


"Iyaa mbak"jawab mereka kompak.


"Ini mbak tambahin uang sakunya, kalau masih kurang bilang aja sama mbak"aku menyerahkan selembar uang merah pada Althaf.


"Makasihh mbak'ku yang cantik, aku berangkat dulu yaa ma, mbak, kak" ucapnya berdiri mencium punggung tangan kami bergantian. "Jangan lupa oleh-oleh yaa mbak"lanjutnya.


"Hmmm" dehemku.


"Nuha juga berangkat ya ma , mbak. Mbak ati-ati di sana. Semoga selamat sampai tujuan.ammin" ucapnya.


"Amminnn, nih mbak kasih sama'an kayak Althaf biar nggak iri" ucapku.


"Simpen aja mbak, mbak kan pasti lebih butuh buat jalan-jalan disana" tolak Nuha.


"Rejeki itu nggak boleh di tolak, jarang-jarang mbak kasih uang kan semenjak kamu kerja" ucapku dan akhirnya Nuha menerima uang itu dengan sedikit terpaksa lalu berpamitan padaku dan mama.


"Ini biar aku aja ma yang bersihin"ucapku mengangkat piring kotor ke wastafel.


"Udah biar mama aja yang nyuci, kamu cek barang kamu lagi, ada yang ketinggalan nggak?" Ucap mama.


"Yaudaah, aku sekalian mandi aja ma" jawabku lalau masuk ke dalam kamar untuk cek barang-barangku lalu segera mandi.


Aku keluar kamar sudah mendengar mama berbicara dan sesekali tertawa. Aku menengok ternyata Alan dan Ara sudah tiba.


"Udah lamaa sampai nya?" Tanyaku.


"Tidak baru saja kok" jawab Alan.


"Ara cantik sekali hari ini" ucapku melihat Ara yang memakai mini dress llengan sesiku, dwngan aksen pita kupu di sisi kirinya, dia juga memakai bandana pita di kepala dan kacamata. Luar biasaaaa syantik kayak anak gedhe.


"Baru di beliin sama papi kemarin tante, kitaa sama'an ya tante. Kemarin aku beli bajunya 2. Satu buat tante Nay, mana pi?"tanya anak itu pada bapaknya.


"Inii" Alan menyerahkan paperbag padaku.


"Tapi tante nggak suka pakai mini dress sayang, tantee nggak PD" ucapku sedikit meringis pada Ara.


"Tenang saja Nay, itu panjangnya sampai bawah lutut kok bukan di atas lutut"jawab Alan membuatku tersenyum kaku.


"Buruan ganti baju dulu Nay, ini udah mau jam 8"ucap mama seperti melihat keenggananku tetapi juga melihat tatapan Ara dan bapaknya yang berharap aku mau memakai pemberiannya.


Akhirnya aku mengalah dan berdiri menuju kamarku untuk berganti pakaian.


Aku mematut di depan cermin sekali lagi sebelum keluar kamar.


"Mari berangkat sekarang" ucapku , alan mengangguk lalu berdiri dan berpamitan pada mamaku.

__ADS_1


"Ma, ini buat mama" ucapku memberi uang pada mama.


"Nggak usah sayang, mama masih punyaa kok, itu di simpen aja sama mbak ya, siapa tahu nanti mbak butuh apa disana"ucap mama mendorong tanganku yang memegang uang.


"Aku punya tabungan ma, tlong di terima ya ma. Buat tambah-tambah mama. Siapa tahu ada pesanan dadakan". Ucapku menyelipkan uang di tangan mama dan  lekas mencium tangan mama dan sedikit berlari ke depan setelah mengucap salam.


*


*


*


Kami sampai di Bandara Abdulrachman Saleh jam 11 siang, masih ada 1 jam untuk menujuu sholat jum'at.


Aku mengabari Given kalau aku sudah sampai di Malang. Dan Given sudah menunggu kami di dekat parkiran.


"Wuihhhh kayak keluarga kecil mau piknikan nih" ucap Given menggoda kami.


Aku menoleh ke arah Alan yang memakai kaos polos maroon dan celana cinos coklat muda. Tampilannya seperti anak muda dan tidak terlihat seperti duda.


"Apasih lu, bikin malu aja" jawabku.


"Nah luu juga tumbenan mau pakai dress kayak cewek beneran gini"ucaonya tertawa lalu berjabat tangan dengan Alan berlanjut menggoda Ara yang terlihat malu-malu.


Aku melihat ke arah Alan sekali lagi dan ternyata Alan juga tengah menatapku lalu tersenyum membuatku membuat pandangan ke arah lain.


"Ayook mari princess, kita naik mobil"ucap Given menggendong Ara.


"Kamu cantik"bisik Alan lalu berjalan mendahuluiku. Membuatku mematung.


Apa-apaan pak duda satu ini, mau merayukah. Maunya nggak baper tapi kenapa wajahku memanass,meelting syekali.batinku.


Aku berdehem lalu berjalan ke mobil Given.


"Lamaaa bener di luar neng"ucap Given begitu aku masuk di kursi belakang di samping Ara.


"Berisik lu ah, buruan jalan" ketusku.


Aku melihat ke arah Alan yang tersenyum tipis.


Given mengantar kami ke hotel tempat kami menginap.


Sebenarny Given sudah menawarkan kami untuk tinggal di rumah kakaknya selama di Malang tapi kami menolaknya karena merasa tidak enak hati.


Sesampai di hotel , kami langsung chek-in, kamarku dan Alan bersebelahan, Alan bersiap berangkat ke masjid bersama Given setelah memasukan koper ke dalam kamarnya. Sementara aku dan Ara langsung rebahan ria sambil memainkan ponsel, aku melirik ponsel Ara yang sedang menampilkan Aiswa Nahla sedang bersholawat ,Ara juga mengikuti walau masih setengah-setengah.


Aku mencoba mengirim pesan ke Rizwan.


Me [jangan lupa sholat jumat, kalau senggang balas ya].


Ting 1 pesan  masuk aku lekas membukanya.

__ADS_1


Rizwan [iya ini sudah di masjid, kamu jangan lupa makan siang, sehat-sehat ya sayang. Aku matikan ponsel dulu. Karena sholatnya udah mau mulai.love you.]


Akau tersenyum, aku memang sengaja tidak memberitahunya, dan aku juga melarang Given memberi tahu Rizwan kalau aku di Malang.


Aku ingin memberinya kejutan di hari minggu nanti. Aku tersenyum membayangkan wajahnya yang pasti akan terkejut karena kedatanganku.


" tantee kenapa senyum-senyum sendiri, itu ada yang ketuk pintu tante"ucap Ara menyadarkanku dari lamunan.


"Eeh iyaa , hehe bentar tante buka dulu yaa" ucapku beranjak ke pintu.


Klek


"Loh udah selesai ?" Tanyaku melihat Given dan Alan berdiri di depan pintu."masuk dulu"lanjutku.


"Yaudahlah, kan masjidnya deket"ucap Given.


"Makan siang dulu ya Nay, habis itu baru ke lokasi proyek" ucap Alan.


"Oke mas, Ara di ajak ke lokasi" tanyaku.


"Enggaklah, Ara sama gue, mau gue ajak ke rumah. Gue udah bilang sama mas Alan dan mas Alan bolehin kok" bukan Alan yang jawab tapi Given.


"Iyaaa Nay" jawab Alan. Aku ngangguk-angguk.


"Yaudah yuk makan duku, tapi saya ganti baju dulu ya mas" ucapku.


"Jangaan!" Cegahnya "eeh, maksud saya nggak usah ganti baju, gitu aja udah oke kok" lanjutnya membuatku melongo, sementara Given tertawa kecil.


"Yaudaah yuk makan siang dulu, ayo sayang" ajak'ku pada Ara.


"Ayo princess om gendong aja" ucap Given .


"Kayaknya tuu duda naksir sama lu Nay, mana ada ke proyek pakai dress begitu"bisiknya saat di dekatku. Aku pura-pura tidak mendengarnya.


Selepas makan siang , aku dan Alan langsung ke lokasi, Ara juga sudah ikut Given pulang ke rumah kakaknya.


Di dalam mobil kami hanya diam hingga tiba di lokasi, kami di sambut oleh pengurusnya.


"Mari pak bu"ucapnya kemudian menjelaskan hal-hak yang tidak aku mengerti. Aku hanya mengikuti dari belakang.


"Okeee, berati pengerjaanya mulai minggu depan ya pak Marwan"ucap Alan menjabat tangan pak Marwan.


"Iyaa pak, mau makan siang bersama dulu?" Tanya pak Marwan.


"Kebetulan sebelum kesini kami sudah makan siang di hotel pak" jawab Alan.


"Oh iyaaa sudah kalau begitu, itu speertinya istrinya kepanasan pak" ucap pak Marwan melihatku mengipas wajahku menggunakan tangan.


Baru saja aku mau membuka suara sudah di dahului Alan.


"Iyaa spertinya sudah kepAnasan"ucapnya tersenyum mekihatku "kalau begitu kami pamit dulu, mari"ucap Alan.

__ADS_1


"Iyaa mari mari"ucapnya.


__ADS_2