
Aku masih terjaga di sebelah Ara yang sudah tertidur pulas sembarimemelukku.
Ucapan Alan tadi masih terngiang-ngiang di pikiranku.
Entahlah aku bingung harus bersikap bagaimana
Aku memilih merebahkan tubuhku dan mengusul Ara yang mungkin sudah bermimpi indah karena dia tersenyum dalam tidurnya.
*
"Nay, kamu tahu aku bahagia mengenalmu, aku juga bahagia karena bisa menjadi bagian dari hidupmu" ucap Rizwan padaku.
"Aku juga bahagia" aku menyandarkan tubuku padanya dan menatap taman yang indah dengan kolam ikan yang cantik di tengahnya.
"Kalau aku pergi kamu harus janji sama aku kalau kamu akan tetap tersenyum seperti ini, kamu harus tetap bahagia seperti ini" ucapnya tiba-tiba membuatku mengernyit dan menegakkan tubuhku menatapnya.
"Kamu ngomong apa sih? Kamu mau pergi kemana?kamu mau ninggalin aku kemana emangnya" tanyaku.
Rizwan tidak menjawab pertanyaanku dia hanya tersenyum dan mengusap rambutku.
"Kamu tahu Nay, aku selalu merasakan sakit setiap kali penyakit ku kambuh, tapi aku sekarang ingin merasakan sakit itu hilang, kamu janji ya sama aku kalau kamu akan tetap mengingatku" ucapnya.
"Kamu ngomong apasih?" Mataku sudah berkaca-kaca.
"Janji dulu sama aku Nay" ucapnya tersenyum.
"Aku nggak mau" aku menggelengkan kepalaku dan menangis .
"Jangan nangis dong sayang, kamu mau lihat aku terus menerus menahan sakit?" Tanyanya menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Waktu aku udah habis Nay, aku akan selalu mencintai kamu" Rizwan mengecup keningku lama hingga membuat mataku terpejam .
Aku membuka mataku saat aku merasakan angin menerpa wajahku.
Aku melihat ke sekeliling tapi tak menemukan bayangan Rizwan.
"Rizwaan... !" Teriakku tapi tak ada sahutan.
"Rizwan please jangan bercanda" aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Rizwaaaaaaaaaaaaaaaannnnn"
Aku terbangun dengan keringat bercucuraN dan apa ini, aku hanya bermimpi, tapi kenapa aku juga menangis seolah semua itu terasa nyata.
Tok tok tok
Samar-samar aku mendengar suara pintu di ketuk.
__ADS_1
Aku melangkahkan kakiku keluar kamar, suara ketukan pintu terdengar semakin jelas.
Tok tok tok
"Nay!" Suara Given terdengar dari luar.
Aku mempercepat langkahku dan segera membuka pintu.
"Nay" Given langsung memelukku dan menangis.
Aku hanya diam mematung karena aku sudah merasakan firasat yang tidak ennak.
"Nay, Rizwaan...
Rizwan udah nggak ada Nay" ucapnya di sela tangis.
Aku tidak menjawab, aku tidak mengeluarkan sepatah katapun, aku hanya diam membeku dengan air mata yang mengucur deras mengalir di pipiku.
Given melepas pelukannya karena mendapatiku hanya diam mematung.
"Loe mau ikut ke rumah sakit nggak?" Tanyanya.
Aku menganggukan kepalaku dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Tepat di depan kamar ku Nuha sudah menunggu dengan mata sembab, karena ternyata sebelum Given ke sini, Given sudah menelfon Nuha dan mengabari kalau Rizwan sudah tiada.
"Mbak!" Panggilnya lirih lalu memelukku.
Aku menumpahkan tangisku di dekapan adiku Nuha. Mama dan Althaf pun turut keluar kamar karena mendengar suara ketukan Given tadi yang sangat keras di tambah suara tangisku.
"Nuha , ini Nay kennapa nangis ?" Tanya mama ikut mengusap punggungku yang bergetar.
"Mas Rizwan udah berpulang ma" jawab Nuha membuat tangisku semakin pecah dan Mama langsung menutup mulutnya.
"Innalillahiwainnaillaihirojiun, ya Allah sayang" mama mendekapku dari belakang.
Aku melepas pelukanku pada Nuha dan menatap mama.
"Ma, aku ke rumah sakit dulu ya" ucapku dengan suara serak.
"Iyaa sayang, biar Althaf yang anter ya" ucap mama membelai rambutku.
"Iya mbak, Al ambil jaket dulu" timpal Althaf.
"Enggak usah dek, Mbak ke sana sama Given" aku mencegah Althaf yang akan masuk ke dalam kamarnnya.
"Yaudah kamu ganti baju dulu, pakai jaket" ucap Mama.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam kamar di ikuti Nuha, sedangkan Mama dan Althaf ke depan menemui Given.
"Dek, tolong jaga Ara ya" ucapku pada Nuha yang duduk di ranjang.
"Mbak Nay nggak usah khawatir, besok pagi aku susul mbak ke rumah sakit" ucapnya.
Aku menganggukkan kepala dan segera keluar , rasa kantukku hilang seketika padahal waktu masih menunjukkan pukul 2 pagi.
Begitu aku sampai di ruang tamu Given langsung berdiridan berpamitan pada Mama, aku juga melakukan hal sama.
Mama hanya berpesan untuk berhati-hati di jalan.
Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit air mataku tak henti menetes, mukutkupun bagaikan ada lem perekat yang membuatku tak mampu berbicara.
Hanya butuh waktu dua puluh menit mobil Given sampai di rumah sakit di karenakan jalanan yang cukup senggang.
Tanpa menunggu Given memarkirkan mobilnya , aku langsung membuka pintu dan menuju ruang rawat Rizwan.
Di sana sudah ada Tante Sekar yang menangis di dalam pelukan bi Ningsih.
Lalu ada sepasang suamu istri yang umurnya sedikit lebih muda dari tante Sekar dan seorang remaja laki-laki.
Ceklek
Aku membuka pintu ruang rawat Rizwan membuat semua orang yang ada disNa mengalihkan atensinya padaku.
"Naya" panggil tante Sekar lirih .
Aku tak menjawabnya, mataku tak lepas dari seseorang yang tertidur dengan pulas di atas ranjang, saking pulasnya hingga tak akan bangun lagi.
Aku menatapnya, menatap wajah laki-laki yang pucat namun ada senyum samar di wajahnya yang terlihat damai.
Aku mengambil tangannya dan menciumnya, aku meletakkan telapak tangannya yang mulai dingin di pipiku.
"Sayang, kamu udah nggak sakit lagikan sekarang? Kamu udah senengkan? Eeemmhh hiks"
"Kamu maunya aku senyum teruskan, kamu maunya aku nggak nangiskan, tapi air mataku ini nggak mau berhenti Riz hiks hiks hiks" aku menangis tersedu-sedu.
"Nay" panggil Given mengusap punggungku.
"Rizwan Ven Rizwan" ucapku terbata -bata pada Given sembari menunjuk ke arah Rizwan.
"Iya gue tahu, loe yang sabar , yang ikhlas" uvap Given.
Aku menoleh ke arah tante Sekar dan bi Ningsih yang tersenyum walaupun samar sembari menganggukkan kepalanya .
"Dia jahat Ven, harusnya tadi kita nggak pulang" ucapku lirih dan pandanganku mulai buram, kepalaku terasa sangat sakit.
__ADS_1
Hal terakhir yang ku dengar sebelum benar-benar mataku terpejam adalah teriakan Given dan tante Sekar.
"Naya" teriak mereka memanggil namaku.