
POV Rizwan
Ada yang mengetuk pintu saat aku memasak untuk Naya.
Siapa? Tidak mungkin Naya secepat ini datangnya. Batinku.
Aku mematikan kompor dan berjalan ke depan.
Aku membuka pintu dan mendapati seseorang yang telah lama pergi kini berdiri di hadapanku
"Hay Wan, apa kabae?" Dia dengan lancang memelukku.
Aku segera mendorongnya membuat gadis itu mengernyit.
"Kamu lupa sama gue Wan, gue Kia" ucapnya.
"Gue inget kok, ngapain lu kesini?" Tanyaku datar.
"Gue kangen sama loe Wan emang loe nggak kangen sama gue, kita udah lama nggak ketemu kan, terakhir kita ketemu itu waktu kelas 2 SMP , trus loe diemin gue dan pindah sekolah juga" ucapnya berusaha memegang tanganku namun aku mundur lebih cepat.
Tentu saja aku mengingatnya bahkan sampai matipun aku akan terus mengingatnya, mengingat saat dulu dia menjadikanku babu bertopengkan sahabat, mengingat saat dia dengan teganya mengolok-olokku di belakang, dia cinta pertamaku, dia juga yang mematahkan hatiku.
"Lu sekarang ganteng ya, nggak kayak dulu" ucapnya.
"Emang gue duku kenapa" aku menaikan sebelah alisku.
"Ya nggak kenapa-napa, dulu juga ganteng kok" ucapnya ragu.
__ADS_1
"Heh"aku tertawa sinis "nggak usah munafik, bukanya loe pernah bilang sama yemen-temen loe kalau gue cupu, culun, bego, san juga dekil" aku tersenyum miring saat melihat ekspresinya yang terlihat terkejut.
"Sorry Wan" ucapnya lirih
Saat aku akan membalas ucapannya Naya datang dan bertanya siapa Kia, kia mengatakan kalau kami dulu teman kecil lalu pamit pergi.
Aku langsung mengajak Naya masuk dan mencicipi hasil masakanku. Usai makan Naya yang masih curiiga menanyakan hubunganku dengan Kia, dan aku menjawab bahwa memang hanya sebatas teman.
Di tengah kami menonton film, ponsel Naya yang di letakkan di sofa berkedip , aku meraihnya dan melihat nama pemanggil Papi Ara
Papi Ara?siapa dia?. Batinku
Lalu aku mengangkatnya dan pemanggil di sebrang sana mengatakan kalau anaknya jatuh dan terus memanggil nama Naya,aku jadi teringat dengan gadis kecil yang pernah di tolong Naya, mungkinkah ini adalah Ayah dari gadis kecil itu.
Aku bertanya apakah dia Ayah Ara san dia menjawab Iya, lalu aku mengatakan kalau Naya sedang ada di toilet nanti akan aku sampaikan pesannya.
"Siapa yang telfon?" Tanyanya seraya duduk si sampingku.
"Papi Ara, katanya Ara masuk rumah sakit" ucapku.
"Ha? Rumah sakit. Kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Dia hanya mengatakan kalau Ara jatuh saat bermain jadi harus di jahit pelipisnya yang sobek" terangku.
"Ya Allah, aku ke rumah sakit dulu ya" dia tampak sangt khawatir dan terburu-buru.
Aku memegang tangannya dan mengatakan kalau akan mengantarnya.
__ADS_1
Aku tidak bisa membiarkannya pergi sendiri dalam keasaan panik seperti ini.
Sepanjang jalan dia terlihat gelisah, hingga tak ada pembicaraan yang berarti hingga sampai di rumah sakit.
Tanpa menoleh ke belekang dia terus saja masuk dengan setengah berlari mencari ruang rawat Ara. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Setelah mendapatkan parkir, aku segera turun dan berniat mencari Naya di dalam, namun sebelum aku melangkah lebih jauh seseorang memanggilku.
"Rizwan ya" tanyanya.
"Iya" jawabku.
"Saya Alan papinya Ara, maaf sudah merepotkan kamu dan Naya" ucapnya tulus.
"Sama-sama".jawabku.
"Mari saya tunjukan ruang rawat anak saya" Alan berjalan di depanku
Sesampainya di kamar rawat Ara aku tersenyum Melihat Ara dan Naya yang asik bercerita.
"Dan pada saat kelinci akan sampai di garis finish dia meremehkan lawannya dengan tiduran bersandar pada pohon. Siput terus saja berusaha hingga garis finish meninggalkan kelinci yang sombong masih tertidur di bawah pohon" dia mengakhiri cerita lalu menatapku.
"Maaf ya tadi kamu aku tinggal" ucapnya penuh penyesalan.
"Gapapa, asal bukan hati aku yang kamu tinggal" aku menjawabnya dengan candaan.
Aku melirik ke arah Alan yang terus mengamati Naya tanpa berkedip.
__ADS_1
Mungkinkah dia menyukai Naya. Batinku saat mengamati Alan yang memperhatikan Naya yang sedang kembali asik bercerita dan bercanda dengan Naya.