Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 52


__ADS_3

Pagi ini langitpun seakan mengerti duka yang sedang kami semua rasakan.


Tubuh yang sudah tertimbun tanah di bawah sana, tubuh yang mungkin dapat ku peluk lagi, tubuh yang hanya berupa kini hanya menjadi jasad.


Bagaimana bisa kamu meninggalkanku di saat kamu sudah berjanji akan segera melamarku Riz, lihatlah semua orang menangis di hari kepergianmu. Batinku.


Aku melihat tante Sekaemr yang berulang kali jatuh pingsan saat tubuh anak lelaki semata wayangnya di turunkan ke dalam tanah.


Aku berusaha menahan laju air mataku, aku memilih bungkam karena aku tak ingin air mataku mengucur di saat aku membuka suara. Rizwan memintaku agar terap reersenyum. Maka aku aka  tersenyum. Aku menyeka air mataku yang akan turun ke pipi.


Aku nggak boleh nangis, nggak boleh. Batinku.


"Ayo Nay" ajak Given maju ke depan untuk menabur bunga di atas makam Rizwan.


Aku melangkah mendekat dan tersenyum tipis sembari menabur bunga memenuhi makamnya.


Aku berjongkok dana menadahkan tangan saat ustadz memimopn doa untuk Rizwan.


"Aammmmmiiinnn" ucap kami semua serentak.


Satu persatu orang meninggalkan makam, Hanya tersisa aku, Given, Tante Sekar dan saudara tante Sekar.


"Tante, tante pulang ya. Istirahat" aku berjongkok di depan tante Sekae yang duduk di kurai sambil menatap gundukan tanah yang mengubur anaknya.


"Sebentar lagi" jawabnya tanpa menatapku.


Aku tahu hatinya pasti merasa terluka harus menyaksikan anak yang di kasihinya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Tante, Naya mohon. Rizwan juga pasti sedih lihat tante kayak gini" aku menggenggam tangan tante Sekar.


"Kenapa harus Eizwan Nay, kenapa harus anak tante yang pergi terlebih dahulu, tante sudah tidak punya siapa-siapa lagi Nay" Tante Sekar menangis tersedu-sedu membuatku tak kuasa ikur menitikkan air mataku.


"Masih ada Nay tante, ada Given juga" aku menatap ke aeah Given sekilas.


"Iya tante, masih ada disini. Aku anak tante juga kan ?" Tanya Given ikut berjongkok di depan tante Sekar.


Tante sekar tersenyum sendu dan menganggukan kepalanya.


"Yaudah sekarang tante phlang ya, Given anter tante pulang" ucap Given membantu tante Sekae berdiri.


Tante Sekar hanya pasrah saat Given menuntunnya menjauh dari makam.


Sebelum benar-benar menjauh Given mengatakan tanpa suara kalau dia pulang duluan , aku hanya menganggukan kepalaku.


Aku kembali berjongkok dan mengusap nisan Rizwan.


"Apa aku boleh menangis sekarang Riz?" Ucapku tapi air mataku sudah menetes.


"Maafkan aku kalau aku tidak bisa selalu tersenyum seperti yang kau inginkan".


"Andai aku tahu kemarin adalah hari terakhir kita bersama, aku akan menghabiskan waktuku untuk menemanimu"


Suara gemuruh langit mulai terdengar, setetes demi setetes air dari langit berjatuhan ke bumi, aku masih bertahan di dekat makam Rizwan.


Aku tak menghiraukan air langit mulai membasahi tubuhku, aku hanya ingin bersamanya sebentar lagi.


Aku mendongak di saat aku tak merasakan air membasahi tubuhku.


"Mas" panggilku lirih.

__ADS_1


"Ayo pulang!" Ucap Alan tersenyum sembari memayungiku.


Aku menggelengkan kepalaku "Sebentar lagi" jawabku.


Aku kembali menatap makam Rizwan, air mataku yang sebelumnya tak terlihat karena tersapu air hujan kini mulai terlihat membasahi pipiku.


Aku merasakan kepalaku berputar-putar dan pandanganku mulai memburam, hingga membuatku jatuh terduduk.


Alan yang semula memayungiku melempar payungnya dan menopang tubuhku.


"Nay"!!! Panggilnya khawatir.


Aku tidak menjawabnya, aku hanya tersenyum dan jatuh pingsan.


*


*


"Esssssssssssttt" aku mengeram sembari memegang kepalaku yang terasa sangat sakit.


"Udah bangun Mbak?" Ucap Nuha.


Aku tidak menjawabnya karena masih berusaha membuka mataku perlahan-lahan.


"Ma, Mbak Nay udah sadar" teriak Nuha.


Samar-samar aku mendengar langkah kaki bukan hanya satu orang tapi beberapa orang mendekat.


"Alhamdulillah" ucap mereka serentak.


Mama membantuku untuk bersandar dan membantuku minum.


"Kok Nay di infus kenapa Ma?" Tanyaku karena tanganku terasa ngilu ternyata ada jarum infus yang menempel.


"Makan dulu Mbak, biar Nuha yang suapi" ucap Nuha memegang mangkuk berisi bubur.


Aku makan sedikit demi sedikit hingga bubur di mangkuk itu tandas.


Aku memejamkan mataku sejenak lalu membukanya dengan cepat saat teringat malam ini di rumah Rizwan pasti mengadakan tahlilan.


Aku membuka selimutku dan menurunkan kakiku.


"Mau kemana?" Tanya Alan saat aku baru menurunkan  satu kakiku


"Mau ke rumah Rizwan, malam ini pasti di adakan yasin dan tahlil di rumahnya" jawabku.


"Besok saja, mereka tidak mengadakannya hari ini, di ganti besok karena keadaan ibunya Rizwan yang masih down" ucap Alan menghentikan tindakanku.


Aku terdiam duduk di atas ranjang, lalu kembali membaringkan tubuhku.


"Ma, Nay mau istirahat ya" aku memejamkan mataku.


Alan, Nuha dan Mama mengerti kalau aku butuh waktu sendiri hingga mereka meninggalakanku sendiri di dalam kamar.


Saat aku mendengar suara pintu di tutup aku kembali membuka mataku dan kembali menangis tanpa suara.


*


*

__ADS_1


*


*


waktu terus berjalan hingga tak terasa tiga tahun berlalu, Alan dan Ara sudah kembali ke Jakarta enam bulan yang setelah kematian Rizwan. Aku juga keluar dari perusahaan om Rahmat karena sering tidak masuk dan aku juga mulai membangun bisnis Caffe tentu saja di bantu adik-adiku dan sahabatku.


Aku memiliki beberapa Caffe di jogja, dengan menjual tanah warisan Papa sebagai modal awal. Dan kinii tanah itu sudah kembali kepadaku lagi.


"Wah buka Caffe baru lagi loe" ucap Given menepuk bahuku.


"Tentu saja, thanks ya di sela kesibukan loe


Loe masih mau promosiin Caffe gue" ucapku.


"Santai aja" jawabnya.


"Bunaaaaaa" teriak anak laki-laki berusia dua tahun dengan suara cadelnya sembari berlari.


"Haapppppp, tertangkap" Given memamgkap anak laki-lakki itu lalu mengangkatnya tinggi ke langit membuat anak itu tertawa senang.


"Buna" panaggilnya lagi saat Given menurunkannya di meja.


"Yes baby" jawabku.


"Al mau es kelim" ucapnya membuat dahi Given mengernyit.


"No es kelim Almeer but ice cream" Given membenarkan membuat sebelah alisku terangkat tinggi.


"Cucah baba" keluh Almeer setelah beberapa kali mencoba mengikuti ucapan Given tapi tidak bisa.


"Sudahlah Ven, Almeer kan masih kecil. Gimana sih" ucapku pada Given lalu memanggil pelayan dan meminta semangkuk kecil ice cream vanila.


"I love you Buna" ucap Almeer memeluk leherku lalu mengecup pipiku.


"Love you to sayang" aku membalas mengecup pipinya.


"Lalu Baba nggak di cium" Given mengetuk-ngetuk pipinya.


"No!" Ucapku serentak dengan Almeer.


Lalu kami tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah cemberut Given.


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Maafin emak ya readers kemarin nggak Up, karena kemarin emmak ikut gali liang lahat buat Rizwan. 😁


Terimakasih and i lope you pull dari emmak buat kalian semua 😘🥰


__ADS_2