
Aku mengambil gambar cincin yang melingkar di jarikuu berlatarkan foto kebersamaanku dan Rizwan.
Aku mengirimkannya pada Rizwan dan menuliskan kata 'yes i will' .
Tapi pesanku tidak terkirim karena nomorku sudah di blokir Rizwan.
Aku mendesah kasar dan keluar dari kamar Rizwan untuk berpamitan pada tante Sekar.
"Aku pulang dulu ya tante" pamitku mencium punggung tangannya.
"Hati-hati Nay, kapan-kapan main kesini lagi ya" ucapnya.
"Iyaa tante" jawabku.
Aku mengendarai motorku pulang ke rumah, awan mulai menggelap rintik hujan mukai turun membasahi bumi. Aku masih memacu motorku mengabaikan tetesan air hujan yang membasahi tubuhku. Ku rasa bumipun mengerti suasa hatiku yang juga sedang di landa mendung.
45menit kemudian aku sampai di depan rumah, mamah yang membukakan pintu kaget melihatku yang basah kehujanan dan segera mengambil handuk.
"Kan ada jas hujan to mbak, ngapain malah hujan-hujan" omel mama.
"Mengenang masa kecil Ma"jawabku .
"Buruan mandi, mama bikin teh Jahe dulu" titah Mama
Aku masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaian dan segera mandi.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar mandi mama sudah duduk di atas ranjangku dan teh jahe buatanya sudah ada di atas nakas.
Aku menghindari tatapan Mama, mengambil teh Jahe dan menyesapnya perlahan, rasa hangat mulai menjalar ke dalam tubuhku.
"Ada masalah apa mbak?" Tanya mama penuh ketegasan.
"Nggak ada Ma" ellakku.
"Sudah merasa besar, sudah merasa mampu hidup sendiri hingga tidak mau membagi masalah dengan ibumu" ucapan mama terdengar kecewa.
"Maaa" aku langsung menubruk tubuh tua mamaku.
"Perasaan mama udah nggak enak waktu kamu pulang dari Malang" ucap mamaku.
Memang perasaan orang tua itu tak pernah meleset untuk anak-anaknya. Apalagi seorang ibu yang hatinya sangatlah perasa.
"Aku kemaren juga hanis dari Surabaya ma, ketemu sama Rizwan" ucapku dan mama diam tidak merespon apapun.
"Rizwan mutusin aku Ma, padahal aku datang kesana ingin memeluknya, rapi dia memberikan tamparan menggunakan perpisahan" air mataku mengalir kembali, entah seperti apa mataku esok hari. Pasti sebesar jengkol.
"Kenapa tiba-tiba Rizwan mutuain kamu?" Tanya mama heran
"Rizwan sakit Ma, dia nggak mau bikin aku sedih waktu dia pergi makanya dia sengaja mutusin aku setelah aku tahu kondisinya" jawabku.
"Aku tadi ke rumahnya Ma, dan ini mama lihat ini"aku menunjukan cincin yang ada di jariku "ini ibunya yang memakaikan, dia berniat ngelamar aku Ma, tapi dia takut jadi beban buat aku" aku terisak pilu.
__ADS_1
"Aku ngerasa jahat banget Ma, kondisi Rizwan yang sakit aja sampai aku nggak tahu" .aku menangiss sesekali memukul dadaku menghilangkan rasa sesak yang bersarang di dada.
Mama tidak berbicara hanya memelukku memberi kekuatan padaku.
"Aku jahat ma" ucapanku terdengar lirih hingga akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah menangis.
****
Aku menggeliat dan melihat jam di atas nakas sudah pukul 7 pagi.
Aku menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku keluar kamae dan mendapati Nuha dan Mama masih di meja makan.
"Nggak ngajar dek?" Tanyaku.
"Nanti mbak, aku berangkat agak siangan" jawabnya menyerahkan kain dan es batu.
"Apa nih?" Tanyaku menaikan sebelah alisku.
"Kompres dulu matanya biar nggak bengkak banget" jawabnya lalu melanjutkan makan.
"Ma suapin ya" pintaku.
"Manja" ucapnya tak urung juga menyuapiku dan aku sibuk mengompres mataku.
__ADS_1
Setelah agak baikan aku berdiri dan masuk ke dalam kamar untuk mengaplikasikan make-up pada wajahku.
"Huh, semangatt" ucapku pada bayangan diriku sendiri di dalam cermin.