
Mobil sudah terparkir di depan rumah, sesekali aku juga menguap karena lelah dan juga mengantuk.
Aku menggoyangkan bahu Alan pelan untuk membangunkannya, tapi bukannya bangun Alan malah meringkukaku kembali menggoyangkan badannya sedikit kencang.
"Mas bangun" ucapku terus menggoyangkan bahunya.
"Eeeeennnggghhh" Alan memyipitkan matanya lalu menguceknya.
"Udah sampai ya?" Ucapnya menguap dan duduk dengan tegak.
"Iyaa" jawabku lalu turun dari mobil.
Alan juga turun dari mobil, aku tidak tega melihatnya mengemudi dalam keadaan serengah ngantuk seperti ini.
"Masuk aja Mas, Mas bisa tidur di kamar Althaf nanti aku ambilin kasur busa tambahan" ucapku memintanya masuk.
"Saya pulang aja Nay" tolaknya.
Aku yang sudah melangkah segera menghentikam langkahku dan berbalik badan menatapnya.
"Saya nggak mau nanti Ara jadi yatim piatu Mas" ucapku lalu meneruskan langkah.
"Jahat banget kamu ngomingnya, kamu doain saya mati gitu?" Tanyanya.
Aku hanya mengedikan bahu lalu membuka pintu seraya mengucap salam.
"Gimana keadaan Desti Nay?" Tanya Mama yang ternyata masih menungguku pulang.
"Besok aja ya ma Nay ceritanya, yang pasti Desti udah di tempat yang tepat" ucapku mengelus lengan Mama.
__ADS_1
"Oh iya Ma, mas Alan biarin nginep disini ya. Kasihan dia kayaknya capek banget, masih ngantuk juga" lanjutku.
"Ya gapapa, tapi lapor Rt dulu ya Nay" ucap Mama.
"Iya Ma, abis ini Nay ke rumah pak Rt. Ara udah tidur Ma?" Tanyaku.
"Udah, Ara ridur sama Mama, nanti kamu tidur sama Nuha aja biar nak Alan tidur di kamar kamu"jawab Mama.
"Oke ma"
"Maaf tante, saya jadi ngrepotin tante" ucap Alan sungkan.
"Gapapa nak Alan, yaudah kalian ke rumah pak Rt dulu mumpung masih jam 9" ucap Mama.
"Iyaa Ma" jawabku.
Saat aku dan Alan melangkah sampai di depan pintu ternyata Althaf dan Imran juga baru saja pulang.
"Kalian nggak di apa-apa'in kan ?" Tanyaku.
"Enggak, kebetulan Papa lagi keluar kota.hehe" jawab Imran mengaruk kepala belakangnya.
"Mbak Nay sama Mas Alan mau kemana?" Tanya Althaf.
"Ke rumah Pak RT" jawabku dan Alan serentak.
"Sama aku aja Mas, nanti kita pulangnya beli nasi goreng, kebetulan aku juga laper banget" ucap Alan.
"Yaudah, ayoo kalau gitu, kebetulan Mas juga laper, kamu di rumah aja Nay. Kamu mau nasi goreng juga nggak ?" Tanya Alan padaku.
__ADS_1
"Enggak Mas" jawabku.
"Yaudah kalau gitu kita pergi dulu" ucap Alan melangkah pergi bersama Althaf dan Imran.
Aku menghela nafas dan menutup pintu lalu mengambil baju tidur dan juga ponsel sebelum ke kamar Nuha.
Rizwan, aku sampai lupa menghubungi Rizwan. Batinku.
Aku masuk ke dalam kamar Nuha, sang pemilik kamar yang sedang tidur terusik karena suara pintu yang di buka.
"Mbak Nay" panggilnya.
"Iya, mbak tidur sama kamu malam ini, kamar mbak di pakai mas Alan" terangku membuat Nuha mengangguk lalu melanjutkan tidurnya.
Aku duduk di meja kerja Nuha dan membuka ponsel. Tidak ada pesan sama sekali.
Aku mencoba menghubungi Rizwan 3 kali tapi tidak di angkat, lalu aku mencoba menghubunginya lagi tetapi kali ini tidak tersambung.
Aku sedikit gelisah memikirkan mungkin Rizwan cemburu dan juga marah karena aku mengkhawatirkan orang lain.
Aku mencoba memejamkan mataku hingga akhirnya tertidur.
**
Di sisi lain orang yang di hubungi Naya sedang duduk di kursi balkon kamarnya sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit bagaikan di hantam palu yang besar.
Di hidungnya juga mengalir darah segar, Rizwan mencoba berdiri dan masuk ke dalam kamar, namun saat hampir menyentuh ranjang dirinya tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu hingga akhirnya jatuh tergeletak di lantai.
Sebelum Rizwan benar-benar tak sadarkan diri hanya satu kata yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Naya"