
Saat aku akan melangkahkan kaki masuk lenganku di cekal seseorang membuatku langsung menoleh ke samping.
"Kamu mau kemana Nay?" Tanya Alan.
"Mau ketemu Rizwan maa, Rizwan" aku menunjuk ke depan dimana Rizwan sedang di pindahkan di ranjang pasien.
Dahi Alan berkerut menarap ke depan, lalu merangkul pundak'ku
"Masuk aja, kamu mau ijin kerja nggak hari ini, kebetulan aku mau ke kantor kamu ketemu sama Pak Rahmat" tanyanya.
"Iya mas, tolong ya. Nanti aku juga bakal telfon Given buat ijin dulu sehari" aku berlalu masuk setelah mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Tante Sekar" panggilku.
"Naya" tante Sekar berdiri dan langsung memelukku.
"Rizwan kenapa tante?" Tanyaku.
"Rizwan semalem pingsan Nay, ternyata selama ini Rizwan nggak pernah minum obatnya" jawab Tante Sekar pilu.
Aku memejamkan mataku agar air mata ini tak mengalir lebih deras.
Aku menatap Rizwan yang terlihat pucat, aku mendekat padanya dan berdiri di samping ranjang.
"Bangun yuk sayang, kamu mau lamar aku kan, kata kamu kamu mau ngelamar aku minggu ini, bangun yuk ! Bangun dan lamar aku sekarang juga hiks" aku menutup mulutku agar suara isak tangisku dapat teredam.
"Buka mata kamu dong, kamu nggak pengen ngeliat aku, bangun sayang bangun!" Aku mengguncang bahunya tapi Rizwan masih seria dalam tidurnya.
Tante Sekar dan Bi Ningsih yang melihatku ikut menangis. Aku menyatukan keningku dan kening Rizwan, aku menangis karena merasa bersalah tidak pernah mengingatkannya untuk minum obat.
Aku menghentikan tangisku saat punggungku di usap pelan, aku membuka mataku dan melihat Rizwan yang tersenyum.
"Sayang" panggilnya lirih.
"Apa sayang-sayang" ucapku sok-soka'an galak.
"Hhhe sini peluk aku" Rizwan terkekeh dan merentangkan tangannya.
Tanpa menunggu dua kali untuk di suruh aku menghambur kepelukannya dan menangis sejadi-jadinya seraya memukul pelan dadanya
__ADS_1
"Kamu jahat" ucapku
"Iya aku tahu"
"Dasar nggak penurut"
"Iya sayang"
"Jangan iya-iya terus, aku nggak suka" ketusku
"Haha, iyaa sayangku. Maaf ya udah bikin khawatir" ucapnya mengusap kepalaku.
Aku melepas pelukanku pada Rizwan dan mentapnya dengan tangan yang disilangkan didepan dada.
"Bukan cuma aku yang khawatir, tapi semua orang. Jangan di ulangi lagi!" Tegasku Rizwan hanya tersenyum .
Ddddrrrrtttt
Ddddrrrrtttt
Aku mengambil ponselku di dalam Tas karena ada panggilan telfon dan tertera nama Given di sebagai pemanggil.
"Hallo Nay, lu nggak masuk kenapa?" Tanya Given
"Di rumah sakit?" Tanyanya lagi
"Iyaa, tolong ya gue ijin dulu. Sorry ya Ven" ucapku merasa sungkan.
"It's okay gue sama anak-anak masih bisa handle kerjaan lu, ntar gue pulang kerja mampir deh, lu kirimin aja nama rumahsakitnya sama ruang rawatnya" ucap Given.
"Oke, ntar gue Chat" ucapku lalu sambungan telfon terputus.
"Tante sama bibi pulang aja gapapa, makan sama istirahat dulu, Rizwan biar Nay yang jagain tante" ucapku.
"Baiklah, tante titip Rizwan ya sayang" ucap tante Sekar mengusap lenganku.
"Iya tante" aku menganggukan kepalaku.
"Bibi permisi dulu ya Non, " ucap bi Ningsih.
"Iyaa bi, tolong sebelum istirahat pastiin duku tante Sekar sama bibi harus makan dulu ya" ucapku pada bi Ningsih.
__ADS_1
"Siap Non" jawabnya membuatku terkekeh.
****
Seharian ini aku menghabiskan waktuku menemani Rizwan di Rumahsakit.
Kami banyak bertukar cerita, menceritakan masa SMA, dan menceritakan banyak hal lainnya
Hingga tak terasa saat Rizwan tengah bercerita aku malah tertidur dengan kepala tertumpu di ranjang. Di tambah tangan Rizwan yang mengusap-usap pelan kepalaku membuatku ssemakin terbuai dalam alam mimpi.
"Hahaaa iya biarin tidur aja, kasihan dia lelah kayaknya"
Samar-samar aku mendengar Rizwan tengah tertawa dan berbicara dengan seseorang.
Aku mengerjapkan mataku dan duduk dengan tegak. Ternyata Given sudah datang, lalu aku melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 16.45.
"Tuan putri sudah bangun" goda Given padaku.
"Bawa makanan nggak loe, laper nih" tanyaku mengacuhkan godaannya.
"Cewek lu tuh Wan, babgun-bangun yang di tanyain malah makanan" Given mengadu pada Rizwan yang di tanggapi Rizwan kekehan.
"Kamu pesen aja sayang, atau mau ke kantin dulu gapapa" ucap Rizwan lembut padaku.
"Pesen aja deh, aku lagi males kemana-mana" aku merebahkan lagi kepalaku di ranjang sambil membuka ponsel dan memesan makanan lewat aplikasi.
Entah apa yang dii bicarakan Given dan Rizwan aku tak begitu mendengarkan karena aku melihat drakor di ponsel.
"Ven,tolong ambilin makanan gue di bawah. Bayarin sekalian" ucapku saat menerima notifikasi dari pengantar pesanan.
"Lah, gue yang disuruh ambilin, gue juga yang kudu bayar, kayak babu dah gue kalau sama lu Nay" ucapnya sewot tapi tetap jalan juga.
"Hahaha, kan lu kesini nggak bawa apa-apa" ejek'ku .
"Yank" tegur Rizwan membuatku nyengir.
"Mampu lu di tegur sama laki lu. Haha" ucap Given sembari berjalan keluar.
"Kamu kenapa sih seneng banget berantem sama Given" tanya Rizwan geleng-geleng kepala.
"Hehe, yakan dia dulu yang mulai" cengirku tanpa dosa.
__ADS_1
"Dasar kamu tuh ya" ucapnya mengacak-acak rambutku.