
Dalam perjalanan pulang air mataku tak bisa ku tahan. Aku mengemudi sambil menangis, saat sudah cukup jauh dari Bandara aku menghentikan mobilku di bahu jalan.
Aku menyembunyikan wajahku dan terisak di balik setir kemudi.
"Rizwan maaf hiks hiks"
Aku terus bergumam mengucapkan kata maaf pada Rizwan.
Aku mencoba menghubungi ponsel Rizwan namun sebelum sempat aku menghubunginya Dr. Wanda menelfonku.
Drrrttttttt
Drrrttttt
"Ha____"
"Nay Rizwan drop !" Dr.Wanda menyella ucapanku.
Deg
Apalagi ini ya Allah.batinku
"Hallo Nay ! Nay kamu masih mendengarkan saya?" Tanya Wanda
"I___yaaa dok, bagaimana keadaan Rizwan sekarang" Aku berusaha setenang mungkin.
"Dia lagi tertidur, tadi sempat drop. Mau saya ubah panggilan menjadi Video call?" Tawarnya.
"Boleeh dok" aku menganggukan kepalaku meskipun orang di seberang sana tidak tahu.
Aku dapat melihat wajah Rizwan yang pucat saat panggilan sudah di ubah oleh Dr. Wanda.
"Rizwan!" Aku berucap lirih lalu menutup mulutku dengan sebelah tangan.
"Dia sebenarnya merindukanmu Nay, dia ingin pulang ke Jogja, tapi malu denganmu karena ke adaannya sekarang sudah tak sama seperti dulu lagi" terang Wanda.
"Dia juga setiaphari hanya menceritakan tentang dirimu, dari awal bertemu hingga perjuangannya untuk mendapatkan hatimu" ucapannya di iringi kekehan.
__ADS_1
"Tolong katakan padanya, aku juga sangat merindukannya, aku menunggunya pulang" aku menatap wajah yang tertidur itu tampak tenang.
"Maaf Wanda, aku pulang dulu. Nanti aku kirimkan video dan tolong tunjukan padanya" pintaku.
"Okey Nay, hati-hati di jalan"
Panggilan terputus, dan ada pesan masuk yang belum ku lihat dari Alan.
Papi Ara [ Maafkan saya Nay, saya tidak dapat menahan diri, dan apa yang saya katakan tadi saya tidak bercanda]
Selang 5 menit Alan mengirimiku pesan lagi.
Papi Ara [ hati-hati dj jalan, saya berangkat dulu ]
Aku menghembuskan nafas pelan lalu menjalankan mobil ke rumah, semoga saja penghuni rumah sudah tertidur, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan ini itu.
30menit berlalu, mobil sudah terparkir di halaman rumah.
Aku masuk setelah mengucap salam, lampu ruang tamu juga sudah padam.
Aku ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air minum.
"Uuhhuuuukkkk" aku tersedak karena mendengar suara Mama.
"Eeh pelan-pelan dong Mbak minumnya" Mama terkekeh.
"Mama ih iseng banget sih" sungutku.
"Kok lama banget tadi nganternya?" Tanya Mama.
"Iyaa Ma , tadi aku terima telfon dulu dari Dr. Wanda, dia mengabarkan kalau kondisi Rizwan sempet dropp Ma" jawabku sendu.
"Aku pengen tidur sama Mama , pengen meluk Mama kayak gini sampai pagi rasanya" aku memeluk Mamaku gemas membuat Mama terkekeh kekeh.
"Udah tua juga masih manja aja" sinis Althaf yang baru saja masuk ke dapur lalu mengambil air dingin di dalam kulkas.
"Sirik bilang bos" aku memeletkan lidahku mengejeknya.
__ADS_1
"Enggak lah yaaa" tukasnya.
"Enggak salah hahaa" aku tertawa melihat wajah Althaf yang terlihat tidak terima.
"Udah udah, kalian ini sudah sama-sama besar tapi kelakuan masih aja kayak anak-anak" tegur Mama.
"Mbak Nay duluan tuh Ma" Althaf melempar kesalahan padaku membuatku menaikan sebelah alisku.
"Dasar bocah" aku mengacak acak rambutnya yang di hadiahi protesan Althaf dan gelengan kepala Mama karena melihat kelakuanku dan Althaf.
________
Aku masuk ke dalam kamar, dan melihat makhluk mjngil yang cantik bernama Ara itu tengah tertidur pulas.
Aku masuk ke dalam kamar mandi, mencuci muka dan mengganti pakaianku sebelum bergabung dengan Ara di tempat tidur.
Aku mematikam lampu lalu bersiap tidur, tapi suara gumaman kecil mengangguku masuk ke alam mimpi.
Aku menyalakan lampu dan mendapati Ara yang terus menggumamkan kata "Mami tolongin Ara"
Aku mencoba membangunkan Ara dengan menepuk pelan pipinya, karena keringatnya sudah membasahi baju yang di pakainya.
Apa yang sebenarnya terjadi. Batinku.
"Araa sayang, bangun sayang!" Ucapku.
"Mamiii!" Teriaknya lalu terbangun dan langsung memelukku erat sembari terisak.
"Mammiii" ucapnya lirih.
"Iyaa sayang, tidur yaa mami jagain Ara disini" aku mengelus punggungnya naik turun, mungkinkah dia merindukan Ibunya hingga sampai terbawa ke mimpi.
Saat ku rasa Ara mulai tenang , dan tak terdengar suara isakan lagi aku mencoba membaringkannya di tempat tidur, dan memeluknya hingga pagi.
"Mbak Nay bangun Mbak !!" Gedoran pintu di kamarku di susul suara teriakan Althaf membangunkanku.
"Jangan teriak-teriak Adek ya Allah, ini masih pagi banget tahu" omelku setelah membuka pintu.
__ADS_1
"Itu tolongin Bi Denok dulu mbak, Bi Denok tadi______"
...Tadi apa hayooooo 😅...