
Aku melirik arloji di tangan kiriku kemudian beralih menatap dua cecunguk. ups! maksudnya dua remaja labil di depanku.
"Mbak mau balik kerja lagi, Imran rumah kamu dimana?" Tanyaku.
"Di Kemlayan mbak" jawabnya.
"Yaudah yok mbak anter" ucapku memasukan ponsel ke dalam tas dan mengambil dompet. "Mbak bayar dulu"lanjutku.
Di perjalanan, Althaf dan Imran masih sama-sama membuang muka.
"Ekhem, kakian tadi belum maaf-maafan kan" tanyaku.
"Kan belum lebaran mbak"seloroh Althaf membuatku memicing.
"Emang maaf-maafan harus nunggu lebaran, dasar bocil" sungutku.
"Al gue minta maaf, sorry udah fitnah loe tadi" ucap Imran mengulurkan tangannya ke arah Althaf yang masih enggan memaafkannya.
"Dek!!" Serukuu.
"Iyaaa iyaaa gue maafin, puas loe" ucapnya menepis tangan Imran.
"Rumah kamu yang mana?" Tanyaku ke Imran karena sudah memasuki komplek Kemlayan.
"Itu mbak nomer 12,makasih mbak udah anterin saya dan udah traktik makan juga"ucapannya ku angguki.
"AL, gue beneran minta maaf. Loe mau jadi temen gue kan ?" Pintanya menatap Althaf.
"Iyaaaiyaaaaa, sono luu. Gue mau cepet balik."jawab Althaf yang ikut turun mobil lalu pindah di bangku depan.
Tingkah mereka berdua membuatku geleng-geleng kepala.
Mengingatkanku pada jamann persekolahan.
Masa remaja memang masa-masa mencari jati diri.
Banyak yang tawuran antar pelajar, bahkan dulu waktu aku masih SmP selepas UJIAN, temanku ada yang ikut tawuran, aku yang saat itu masih di sekolah kaget melihat Surya hidungnya berdarah dan ujung bibirnya sobek.
Aku bertanya "loe kenapa tawuran?" Dan jawabannya "biar keliatan keren aja" membuatku langsung menoyor kepalanya ke belakang.
Lepas dari SmP masuk ke SMa pun sama, aku kerap sekali di labrak, entah alasan karena ' gak usah sok cantik' padahal kann yak emang cantik, atau kalau nggak karena Given san Rizwan yang selalu menempeliku seperti lintah. Membuat cewek-cewek menaraoku sinis. Well Pesona seorang SANAYA memang tidak bisa di ragukan. Membuatku terkekeh
"Mbak sehat?" Ucap Althaf menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
"Apasih dek, ya sehatlah" sewotku.
"Lah teruss kenapa ini mobilnya kenapa nggak jalan-jalan, di panggil nggak nyaut-nyaut malah ketawa sendiri" ujarnya bergidik.
__ADS_1
Aku tidak mau menanggapi ucapan Althaf, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Dek nanri bilangin sama mama ya ,Ara sama mas Alan mau main ke rumah sepulang kerja" ucaoku mengingat bahwa nanti Ara dan Alan yang mau ikut maka malam di rumah.
"Iyaaa" jawabnya malas.
"Kakak turunin di ujung gang ajaa ya , udah jam segini takut macet"ucapku"nanti kakak kasih 50rebu" lanjutku ketika wajahnya mulai mengeluarkan wajah tak bersahabat.
"Asiyaaaaapppppppp" ucapnya girang membuatku berdecih. Kalau sial duit aja girang.
"Dah turun, nih uangnya" ucapku menyodorkan uang 50rebu.
"Makasihhh mbak'ku yang cantik"godanya lalu berlaluuu.
"Cihhhh dasar alay"jawabku.
Aku menghela nafas perlahan. Aku melajukan mobil dan sesekali liat ke arah kiri atau kanan untuk mencari penjual yang lagi menjajakan dagangannya. Mataku tertuju pada gerobak rujak buah. Aku memberhentikan mobilku di pinggi jalan.
"Pak, rujak buahnya campur 1 porsi ya pak, rujak jambu kristal 1 sama rujak mangga di bentuk bunga 3 ya pak"ucapku
"Alhamdulillah rejeki, iyaaaa neng,, bapak siaplan dulu"ujarnya senang dan dengan cekatan membuatkan pesananku.
"Bapak lama jualan disini?" Tanyaku.
"Sudah neng, ini buah-buahan juga dari kebun bapak sendiri, hanya beberpa yang beli" jawabnya.
"Pak saya rujak jambu kristalnya satu, sama mangga nya satu" ucap seseorang di belakangku membuatku langsung menoleh.
"Hai Nay" cengirnya.
"Mas Alan nggak kerja? Habis darimana? Kok bisa disini" ujarku membuatnya terkekeh.
"Satu-satu nanyanya Nay, saya habis ketemu klien di Resto Buana, teruss saya nggak sengaja liat kamu disimi, ya saya samperin sekalian beli rujak" jawabnya.
"Kamu sendiri ngapain disini, ini masih jam kerjakann harusnya?" Tanyanya heran.
"Saya ijin tadi, soalnya harus ke sekolah adik saya, ini rencananya juga habis beki rujak langsung balik ke kantor" jawabku.
"Kamu naik apa?mau saya anter?" Tanyanya.
Aku menggerakan kedua tanganku ke kanan dan kekiri seraya menggeleng.
"Nggaknusah mas, saya bawa mobil temen tadi di kasih pinjem" jawabku menunjuk mobil bri'O putih.
"Itu punya temen kamu kemarin kan, Given yaa" ucapnya mengernyitkan dahi.
"Iyaa mas"jawabku.
__ADS_1
"Ini pesanannya mbak, totalnya 44rebu" ucap bapak penjual rujak memberikan pesananku.
Aku mergoh tas dan mengambil uang 100rebu.
"Ini pak, sekalian punya nya mas ini" tunjuk'ku pada Alan" kemmbaliannya ambil aja pak"lanjutku.
"Alhamdulillah, makasih neng" ucap bapak berbinar. Aku menganggukan kepala dan tersenyum.
"Mas, saya duluan ya" ucapku pada Alan.
"Iyaa, jangan lupa nanti pulang kerja saya jemput dan makasih sudah di traktir, kapan-kapan saya ganti" jawabnya melebarkan senyum hingga dertan giginya yang putih dan rapi terlihat.
"Iyaaaa, assalamualaikum"ucapku.
"Walaikumsalam" jawabnya.
Aku masuk ke ruangan membawa sekantong kresek rujak.
"Helloo everybody, mari ngerujak , gue bawain rujak ini"ucapku lalu meletakka rujak di meja.
"Sa panggilin Given dong, 10menit lagi juga istrahatkan, kita ngerujak dulu biar seger" ujarku pada Risa yang mendekat ke mejaku.
"okey mbak" jawabnya.
"Enak nih" ucap Given datang-datang langsung mencomot manga bunga ku.
"Dasar, yang mangga bentuk bunga buat cewek-cewek, gue belinya cuman 3, lu sama Eri makan rujak buah campur sama jambu kristal aja"tukasku membuat Given mencibir.
"Dih pelit lu"cibirnya. Tanganya menjulur ingin mengambil mangaku langsung ku tepis.
"Nih join sama saya aja pak" ucap Vivi malu-malu.
"Nih Ri loe juga kalau mau join sama gue juga gapapa" ucap Risa pada Eri.
"Sooookkk monggo, gue lagi jadi orang medit bin pelit, jangan ada yang minta punya gue" ucapku mengundang tawa mereka semua.
...aku double up ya guys, soalnya besok mau libur dulu....
...lagi nggak enakbody. 🤢...
...jangan lupa like and komen ya....
^^^kasih kopi juga boleh biar othor semangat lagii .^^^
...🤭...
__ADS_1