Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
bab 39


__ADS_3

Tok tok tok


"Althaf, Imran keluar dulu kita ngobrol" ucapku.


Klek


"Papa udah pulang mbak?" Tanya Imran.


"Belum, kamu ikut sama mbak ke depan, dan kamu Althaf buatin teh 3" titahku.


Aku kembali melangkah ke ruang tamu dengan menggandeng Imran , ayah Althaf langsung berdiri saat melihat keberadaan anaknya.


"Duduk dulu pak, saya tidak mau ada yang berteriak ataupun membuat onar di ruman saya" ucapku yang langsung di turuti.


Kami berempat akhirnya duduk, tak lama Althaf datang membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh.


"Bapak kesini mau jemput Imran kan?" Tanyaku.


"Iyaa" jawabnya dengan nada dingin terus menatap ke arah Imran yang menundukkan kepala.


"Imran angkat wajah kamu, mbak pernah bilang kan jangan tundukkan kepala kamu kalau kamu nggak salah?" Aku menoleh ke arah Imran yang perlahan mengangkat kepalanya.


"Kamu mau pulang sama papa kamu?" Tanyaku.


"Enggak mbak, aku masih mau disini" jawabnya.


"Dasar anak kurang ajar, pulang kamu ! Bisanya bikin malu papa saja" ucap Papa Imran dengan nada tinggi.


"Sssstttttttt, tolong pelankan suara anda pak, tanpa anda menggunakan nada tinggi kami masih bisa mendengarnya" ucapku memperingatkan lalu melirik ke arah wanita bernama jessi itu yang sedang bersidekap menyaksikan beradu argumen kami.


"Saya sudah memvisum luka yang ada pada tubuh Imran, anda yang memukulnya bukan?" Tanyaku.


Aku tersenyum miring saat melihat ayah Imran diam tak berkutik sedangkan wanita di sebelahnya mulai menegang.


"Atas dasar apa anda memukulinya pak, meskipun usianya sudah 16tahun tapi dia masihlah anak-anak"


"Anda pernah di pukul ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Anda pernah di pukul tidak?" Tanyaku mulai tidak sabaran.


"Hey jangan kurang ajar ya kamu" seru wanita itu.


"Anda siapa ? Istrinya ?ibunya Imran ? Atah hanya simpanannya?" Sarkasku membuat wanita itu berang dan akan menyerangku tapi di tahan ayah Imran.


"Kamu tunggu saja di mobil" tegasnya.


"Yaudah , aku juga gak betah lama-lama disini" ujarnya pergi setelah menghentakkan kaki.


Suasana masih terasa sunyi, aku melihat ayah Imran yang terus menatap ke arahnya.


"Saya ganti pertanyaannya ya pak , karena saya tahu anda pasti pernah di pukul dan anda pasti tahu kalau di pukul itu rasanya sakit" aku menjeda ucapanku saat mendengar kekehan lirih ayah imran.


"Alasan apa yang membuat seorang ayah memukuli darah dagingnya sendiri?" Tanyaku.


Imran kembali menunduk tapi aku memegang sebelah tangannya dan imran memeluk bahunya membuatnya langsung mendongak menanti jawaban sang ayah.


"Saya hanya mau dia jadi anak yang berprestasi di sekolah dan juga menjadi anak penurut" jawabnya.


"Imdan sebenarnya anak pintar, tapi dia hanya ingi  mencari perhatian anda saja dengan kenakalan-kenakalannya. Apa anda pernah bertanya apa yang dia inginkan? Apa yang dia butuhkan? Dan juga apa yang dia sukai?" Tanyaku menaikkan sebelah alisku.


"Karena yang anda lakukan hanyalah menuntut, menuntut dan menuntut lalu memukul" sinisku.


"Jika masa kecil anda tidak bahagia dan rerlalu banyak di tuntut orang tua anda maka jangan pernah lakukan itu kepada anak anda karena anda sendiri tahu bagaimana frustasinya harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain padahal kita sudah bekerja sangan keras bahkan ekstra"


"Setiap anak itu memounyai cara sendiri untuk menemukan jalan kesuksesannya, jangan anda samakan dengan jalan anda dong, jamannya saja susah berbeda, anda masih pasa tahap jaman peperangan mereka sudah zaman semua serba canggih" lanjutku.


"Anda menganggap saya setua itu?" Protesnya membuatku, Althaff dan Imran terkekeh.


"Saya bicara panjang lebar kayak gitu rapi yang anda tangkap hanya pada perbandingan zaman, lihat saja adik dan anak anda sampai tertawa"ucapku


"Kappan anda terakhir kali melihat anak anda tertawa bersama anda? Pasti sudah tidak ingat bukan" tukasku karena melihat senyum tipis ayah Imran mekihat anaknya tertawa.


"Sudahlah, mari di minum dulu, serelah itu saya akan membiarkan anda berbicara dengan Imran dari hati ke hati" ucapku.


"Maafin papa, papa janji tidak akan pernah mukul kamu lagi, papa akan nurutin kemauan kamu"

__ADS_1


"Termasuk meninggalkan tante-tante itu" Imran menyela ucapan ayahnya.


"Yaa" jawabnya mengangguk pasrah.


"Tapi aku masih mau di sini pa, walaupun rumah ini kecil tapi disini Imran merasa nyaman dan aman" ucap Imran.


"Hey, pulang sono lu anak kecil, udah di tampung masih ngehina rumah ini kecil juga" ucapku pura-pura marah.


"Hahaha mampus loe Mran, loe gak bakalan si bolehin nginep disini lagi" tawa Althaf.


"Ampuuun nyaiii" Imran bersimpuh di hadapanku membuatku memalingkan muka dan membuat tawa Althaf semakin pecah.


Aku melirik ke arah ayah Hitto yang terkekeh pelan melihat interaksi kami.


"Althaf, beresin baju-baju anak tengil ini" titahku.


"Mbak, aku beneran di usir mbak?" Tanyanya memelas.


"Iyaa, mbak ngusir kamu" jawabku santai membuatnya gontai.


Aku mengulum senyum saar melihat wajah lesu Imran.


"Dek, kamu ikut ke rumah Imran, kamu nginep di sana seminggu" ucapku tersenyum dan memainkan alisku saat Imran melihat ke arahku.


"Makasih mbak, mbak Naya emang the best" Imran memelukku.


"Jangan peluk-peluk bukan muhrim" althaf melepas paksa pellukan Imran


"Pelit banget sih loe Thaf" gerutu Imran.


"Gue itu ngejaga elo supaya nggak kena bogem mbak Nay gegara tiba-tiba meluk dia" kekeh Althaf


Kami semua berdiri , aku sudah meminta izin pada ayah Imran untuk membiarkan Althaf menginap di rumahnya dan beliau mengizinkan.


Saat kamu semua keluar dari rumah aku terkejut melihat Alan sedang berbicara dengan wanita yang bersama ayah imran tadi, tapi yang mencuri perhatianku adalah wajah Ara yang terlihat pucat.


Aku langsung menghampiri dan menggendongnya membuat Alan terkejut.

__ADS_1


"She is aunty" ucapnya lirih sembari memeluk leherku erat.


__ADS_2