
Akhirnya kami sampai di rumahku dan di sambut Mama di depan rumah karena aku sempat menelfon Mama dan mengatakan kalau Ara akan menginap lagi .
"Nenek" teriak Ara.
"Sayang" mama memeluk Ara .
"Assalamualaikum Ma, yang lain pada kemana Ma ?" Tanyaku seraya mencium tangan Mama.
"Nuha lagi di tempat bi Denok Nay, Alrhaf lagi nemenin Imran pulang ke rumahnya" jawab Mama.
"Emang bi Denok kenapa Ma? Masuk dulu Mas" aku bertanya pada Mama seraya menyuruh Alan masuk.
"Tadi Destii pulang di anter beberapa orang dengan keadaan yang ya gitulah Nay, nanti kamu kesana aja" jawab Mama enggan menjelaskan.
"Yaudah, aku mandi dulu Ma. Saya tinggal dulu ya Mas" aju melihat ke aeah Alan dan di jawab anggukan sekali.
Aku segera mandi dan melaksakan sholat magrib. Usai sholat aku keluar dan bergabung dengan Mama dan Ara di ruang keluarga.
"Mas Alan mana Ma?" Tanyaku.
"Tadi pamit ke Masjid" jawab Mama.
"Yausah, aku ke tempat bi Denok dulu ma"
"Iya"
Aku melangkahkan kaki menuju rumah di bi Denok. Ada beberapa ibu-ibu yang berkumpul rapi tidak hanya berkumpul melainkan menggibah.
"Itu namanya karma kaeena sering ngrayu suami orang" ucap ibu A.
__ADS_1
"Bener itu jeng, saya juga pernah liat Desti masuk ke hotel sama laki-laki yang pantesnya jadi bapaknya" ucap ibu B
"Makanya ya gitu kalau orang miskin kebanyakan gengsi" ucap ibu C .
"Maaf nih ya bu ibu, kalau mau ngerumpi atau mau nge-gibah mending jangan disini, mending pulang aja sana daripada timbangan dosanya makin berat" ujarku santai membuat ibu-ibu itu mendelik tak suka.
"Jamu nggak usah sok baik Nay, palingan juga kamu kesini mau menghina jeng Denok kan karena jeng Denok suka julid in kamu" ucap Ibu B menunjukku dengan kipas tangannya.
"Sok tahu, ibu mending pulang sana, atau mau saya beberkan aib ibu di depan temen-temen ibu?" Aku tersenyum miring.
"Aib apa, jangan fitnah ya kamu Nay?" Ucap ibu B.
"Beneran nih, atau mau beberkan tentang pak Lur__"
"Saya pulang dulu ya jeng, saya lupa kalau ada janji mau pijit sama mbak Sri" ucap Ibu B segera pergi.
"Yuk jeng" ajak ibu C pda ibu A
Aku melihat ibu-ibu itu berjalaaan pulang sambil menggerutu, aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah bi Denok setelah mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Astagfirullohaladzim, Ayo bi bawa Desti ke rumah sakit aja" ucapku saat melihat keadaan Desti yang cukup parah, lebam di wajah dan tubuhnya ,juga baju yang sobek di beberapa bagian.
Aku mendekati bi Denok yang sedang di temani Nuha, tatapan bi Denok terlihat sangat terpukul dan syok.
Tanoa berkata apa-apa lagi aku segera membawa bi Denok dalam pelukanku, aku mengusap pelan punggungnya, aku tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Saat Nuha akan mengeluarkan suara aku mencegahnya dengan mengangkat sebelah tanganku dan Nuha yang paham hanya mengangguk.
"Hiks hiks hiks" perlahan isak tangis bi Denok keluar. Aku mengerarkan pelukanku dan bi Denok semakin tersedu.
__ADS_1
"Kenapa bisa kayak gini Nay, apa salah Desti, kenapa dia di perlakukan seperti itu?" Ucapnya dalam tangis.
Aku yang tidak mengetahui apa-apa tidak menjawabnya , hanya diam mendengarkan keluhan seorang Ibu.
"Bibi cuman mau dia kayak kamu, berprestasi dan nurut sama orang tua, tapi dia selalu berontak dan akhirnya jadi liar, bibi sudah pernah menasehatinya tapi dia tidak mau mendengarkan dan malah bertindak semakin jauh dan melewati batass huaaaaa"
Aku memejamkan mata, selain karena rasa iba telingaku juga mulai sakit saat bi Denok berteriak..
"Kita bawa Desti ke Rumah sakit dulu ya bi, dek tolong gantiin bajunya Desti" ucapku pada Nuha.
"Iyaa mbak" jawabnya.
"Siapa yang bakalan bayar , bibi udah nggak punya uang" ucap bi Denok.
"Aku yang bakalan bayar bi"ucapku.
"Gratis kan ?apa di itung utang?" Tanya bi Denok dengan nada menyebalkan.
"G-E-R-A-T-I-S bi , ya Allah" jelasku .
"Yaudah ayok" bi Denok berdiri dan menghapus air matanya.
*
*
*
Ambyar sudah rasa ibaku pada bi Denok tadi. Dasar nyebelin.
__ADS_1