
"Yuk pulang, kamu mau bawain buat orang rumah nggak ?" Tanya Alan.
"Nggak usah mas" jawabku.
Kami pulang setelah Alan membayar makanan kami.
Waktu mobil mulai berjalan aku teringat kejadian tadi siang di kantor.
Aku menoleh ke Alan yang sedang mengemudi.
"Mas kenapa aku harus ikut meninjau lokasi proyek, kan aku gak ngertii apa-apa mas" tanyaku.
"Hehe maaf yaa Nay, soalnya saya juga ajak Ara. Karena Ara dekat denganmu makanya saya meminta pada pak Rahmat agar kamu yang menemani," jawabnya.
"Ara kan bisa di titip ke saya mas , kalau kamu mau ke luar kota. Memang Orang tua mas nggak di sini" ucapku.
"Orang tua saya sudah pulang ke Jakarta tadi pagi,. Jadi saya terpaksa ngajak Ara. Sekalian jalan-jalan di sana" jawabnya.
"Yaudaah, tapi kalau sudah selesai saya boleh ke rumah teman saya mas? Tadi siang Given ke Malang karena ibunya sakit, jadi mumpung besok kita kesana,kita jenguk sekalian" ucapku teringat Given.
"Ya gapapa nggak masalah"ucapnya tersenyum.
Mobil Alan berhenti di depan rumahku, di saat yang bersamaan juga ada mobil di depan rumah bi Denok.
Aku masih bertahan di dalam mobil Alan, membuat si empunya heran.
"Nggak turun Nay," ucapnya menaikkan sebelah alisnya
"Hehee sebentar mas"ucapku masih mengamati mobil di depanku.
Aku melihat ke arah rumah bi Denok, Desti berjalan ke arah mobil itu dengan pakaian yang kurang pantas. Dan bi Denok yang berteriak memanggil Desti tapi tidak di hiraukan.
Begitu mobil yang membawa Desti pergi, aku lekas turun dan mengucapkan terimakasih pada Alan.
Aku berjalan menghampiri bi Denok yang menatap nanar ke arah jalanan.
"Bi" sapaku tapi tidak di respon.
"Bi Denok"ucapku sedikit keras .
"Apa sih teriak-teriak"jawabnya mendelik.
"Bibi ngapain di luar sendirian" tanyaku.
"Suka-suka sayalah, ngapain situ ngurusin"ketusnya lalu masuk ke dalam rumah. Ak menghela nafas.
Sabaaarr Nay sabaaaar. Batinku.
__ADS_1
"Assalamualaikum, maa aku pulang" salamku ketika di ambang pintu.
"Walaikumslam" ucap mama dan Nuha bersamaan. Aku menghampiri mama dan mengecup punggung tangannya.
Lalu aku mengusap kepala Nuha yang di balut jilbab.
"Minum mbak" ucap Nuha memberiku segelas air putih ketika aku duduk di kursi dapur.
"Makasih dek" aku meminumnya hingga tandas. "Ma, aku nggak ikut makan malem ya, tadi abis dari kantor di ajak makan dulu sama mas Alan soalnya"lanjutku.
"Kok bisa bareng sama nak Alan mbak" tanya mama.
"Iyaa, tadi mas Alan ke kantor. Ada perlu sama om Rahmat. Jadi pulangnya ngajakin Nay bareng ma" jawabku.
"Yaudah, mbak mau dii gorengin mama kentang atau nugget buat cemilan nggak?" Tanya mama.
"Boleh ma, aku mandi dulu. Oh iyaaa si Ataf mana ma" tanyaku heran karena dari tadi aku tidak melihatnya.
"Ada di kamar sama temennya, tadi abis minta di temenin Nuha belajar" jawab mama.
"Siapaa ma, tumben banget bawa temen" gumamku lirih lalu berjalan ke kamar si bungsu.
Ceklek
"Ow ow ow, ternyataaaa oh ternyataa. Kirain siapaa" ucapku menggoda.
"Apaan sih mbak" juteknya.
"Imran udah lama di sininya?"tanyaku .
"Lumayan mbak,"ucapnya menggaruk kepala belakangnya.
"Laa ini kenapa malah Mabar nggak Belajar" tanyaku.
"Tadi udah belajarnyaa, nanti lagi"jawab Althaf sedangkan Imran hanya diam.
"Yaudaha mbak ke kamar dulu, Imran nanti makan disini saja sekalian"ucapku sebelum keluar.
Aku masuk ke dalam kamar san segera mandi, selesai mandi aku mencoba menghubungi Rizwan.
Tuttttt tuttttt tutt
"Hallo Nay" jawab Rizwan.
"Gimana kabar kamu? knapa pesan-pesanku nggak di balas,kamu nggak selingkuh kan disana" tanyaku meluapkan isi hatiku.
Rizwan di seberang sana hanya terkekeh.
__ADS_1
"Aku baik, maaf ya sayang. Aku bener-bener sibuk" ucapnya.
"Tapi kenapa dari suara kamu, kamu nggak baik-baik aja, aku video call ya" ucapku.
"Aku masih di kantor sayang, nanti aja yaa." Jawabnya.
"Kamu nggak kangen aku? Kenapa kamu berubah" lirihku menahan sesak di dada.
"Maaf" ucapnya. "I really miss you dear" lanjutnya .
"I miss you so bad" jawabku tak kalah lirih, dan luruh sudah airmataku.
"Kamu nangisss Nay" tanya nya dan aku tidak menjawab , aku menggigit bibir bagian bawab agar isak'ku tidak terdengar keras.
"Jangan nangiss dong sayang, cantik'ku. Aku balik kerja lagi yaa, love you" jawabnya lalu memutuskan sambungan telfon.
Aku meraih bantal dan menggigitnya, aku tumpahkan tangisku.
Suara ponselku kembali berdering, aku kira Rizwan menelfonku lagi. Ternyata dari Alan.
Aku menghapus air mataku dan menetralkan suaraku agar tidak terlihat sehabis menangis.
"Ekheemmm, hallo" jawabku.
"Hallo tante Nay"suara riang Ara di sana membuat hatiku menghangat hingga kedua sudut bibirku terangkat.
"Kata papi, kita mau jalan-jalan ke Malang ya tantee" tanyanya.
"Iyaaa, Ara seneng nggan?" Tanyaku.
"Seneng dong tante, kan perginya sama tante" jawabnya. Aku tersenyum.
"Yaudah tante, Ara mau makan dulu yaa,bye tante, assalamualaikum"ucapnya.
"Iyaa sayang, walaikumussalam" .
Aku mencuci muka lalu keluar kamar, di meja makan sudah ada mama, Nuha, Althaf dan Imran yang sedang makan.
Aku duduk mengambil kentang dan nugget lalu memakannya.
"Ma, jumat besok aku ada kerjaan di luar kota" ucapku di sela makan kami.
"Tumben mbak, emang dimana?" Tanya mama.
"Iyaa ma, mas Alan yang minta sama om Rahmat suapaya aku ikut ke Malang" jawabku.
"Berapa hari mbak?" Tanya mama lagi.
__ADS_1
"Sebeneenya cuman jumat aja ma, tapi aku di sana sampai minggu, soalnya aku mau sekakian jenguk ibunya Given ma, Ara juga minta jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di sana" jawabku.
"Yaudah nanti mama bantu packing" ucap mama.