
Aku sampai di rumah pukul 20.30 ,Given hanya menurunkanku di depan rumah dan tidak mau mampir.
"Thanks ya brother, beneran nggak mau mampir dulu nih?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
"Kagak, gue langsung pulang aja, udah gerah mau mandi duku truss lanjut lembur lagi, salam buat tante mertua sama calon Ayang aja" cengirnya.
"Iyuuuuh gelo dasarr, sana pulang aja lu" usirku dan Given tertawa lalu melambaikan tangannya dan segera melajukan mobilnya.
Aku berbalik ketika mobil Given sudah tidak terlihat, aku melirik ke samping rumah, sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu bi Denok.
Aku melagkahkan kakiku ke rumah , dan aku terkejut karena melihat Alan duduk di teras rumah sedang merokok.
"Udah lama sampainya Mas?" Tanyaku
"Sekitar 15 menitan" jawabnya.
"Oohh, kenapa merokok? Saya pikir Mas nggak ngerokok" aku tersenyum.
"Hanya kalau sedang stress aja" ucapnya mematikan rokok dalam asbak.
"Ouh, saya masuk dulu Mas" ucapku
"Assalamualaikum" teriakku memasuki rumah.
"Walaikumslaam" suara jawaban dari dapur.
Aku melangkahkan kakiku ke dapur, dan menemukan semua orang di dapur.
Aku mengambil tangan Mama dan mencium punggung tangannya,.
"Hallo Ara sayang, nanti bobo sama tante Nay ya" ucapku.
"Okee tante" ucapnya girang.
"Ehhh ada dedek Imran juga, nginep sini apa pulang?" Tanyaku.
"Kalau nginep sini boleh nggak Mbak?" Tanyanya.
__ADS_1
Aku menaikkan satu alisku dan menatap semua orang yang ada di dapur, lalu aku melipat tanganku.
"Emang kenapa mau nginep di sini?" Tanyaku.
Imran hanya diam saja dan menundukkan kepalanya, Althaf hanya menghela nafas melihatku inhim berbicara tapi aku mencegahnya.
"Mbak tanya Imran , bukan sama kamu Ataf" ucapku datar.
"Imran berantem sama Papa Mbak" ucapnya lirih.
Mama dan Nuha mengajak Ara untuk pergi dari dapur karena melihat wajahku yang tak bersahabat.
"Angkat wajah kamu !" Titahku.
Imran masih enggan menunjukkan wajahnya padaku.
"Athaf bilangin sama temen kamu, kalau nggak mau nurut sama apa kata Mbak, apa yang bakal Mbak lakuin" ucapku pada Althaf.
Imran langsung melihat ke arah Althaf dengan wajah panik lalu mengangkat wajahnya menatapku.
"Hahahaaaaaa" Althaf langsung tertawa membuat Imran bingung dan aku mengulum senyum.
"Iyaa Mbak" jawabnya mengangguk.
"Kamu boleh nginep disini, tapi kasih nomor telfon Papa kamu ke Kakak dulu" ujarku.
Imran dan Althaf memandangiku, membuatku menaikkan kedua alisku heran
"Kalai nggak mau, kamu boleh pulang abis ini" ucapku seraya berdiri.
"Mbak !" Teriak Althaf.
"Jangan berteriak di dalam rumah Athaf, apalagi sama orang yang lebih tua" tegurku Althaf langsung menunduk.
"Gimana ,masih nggak mau kasih ?" Tanyaku pada Imran dengan melipat tangan di depan dada.
"Ini mbak" Imran menyodorkan ponselnya padaku dan aku langsung menerimanya dan menelfon Papa Imran dengan ponselnya.
__ADS_1
Tut tut tut
Dering ketiga barulah telfonku di angkat.
"Dasar anak kurang ajar, kabur kemana kamu Haa !! " terik seseorang di seberang sana terlihat berang aku sampai menjauhkan ponsel dari telingaku.
Aku mendudukan diriku kembali di kursi dapur, meminum air putih sebelum menjawab.
"Hallo selamat malam Pak" jawabku
"Siapa kamu, anak saya mana ! Ini nomor anak saya kan !" Tanyanya masih dengan intonasi tinggi.
"Saya kakaknya Althaf, Imran ada di rumah saya" jawabku tenang, aku melihat Imran menundukkan kepala dengan wajah sendu dan Althaf mengusap bahunya.
"Suruh anak kurang ajar itu pulang, bisanya hanya kabur-kaburan aja" ucapnya dengan nada memerintah walaupun suaranya tidak setinggi tadi.
"Waah maaf sekali Pak, tapi saya mau mengantar Imran ke kantor polisi" ucapanku membuat Imran mendongak menatapku dan ku balas dengan senyuman.
"Untuk apa? Apa yang anak itu perbuat lagi"
"Saya mau melaporkan Bapak karena telah melakukan kekerasan pada Anak di bawah umur" ucapku santai
"Anda nggak usah ikut campur dalam urusan keluarga saya !" Ucapnya kembali dengan nada tinggi.
'Sayang jangan marah-marah' ucap suara seorang wanita.
"Hah ! Lebih baik anda urus Wanita anda saja terlebih dahulu, Imran sekarang sudah saya anggap adik saya sendiri, anda tidak perlu khawatir, lebih baik anda intropeksi diri sampai anda menyadari apa kesalahan anda, Imran tidak akam saya biarkan pulang sebelum anda menyadari kesalahan anda !!" Tegasku lalu mematikan ponsel Imran.
"Haaah !!" Aku memejamkan mata sejenak lalu menatap Imran dan Althaf.
"Thaf pergi ke konter depan, beli kartu perdana buat Imran, sementara kamu kartu kamu kakak yang bawa, kamu pakai kartu baru" ucapku memberi uang pada Althaf.
"Nggak usah mbak, aku masih ada uang. Nanti kartunya aku kasih ke Mbak Nay" Imran menolak uang yang ku berikan.
"Okeeee, ini di pindah ke piring sama buatin Mbak coklat panas, itu hukuman kalian karena bikin Mbak pusing, Mbak mandi dulu" ucapku mendorong plastik berisi martabak yang ku beli tadi.
Saat aku membalikan badanku, akh kaget sampai terhuyung ke belakang, untung saja tidak sampai jatuh karna aku langsung berpegangan pada kursi (jangan harap ada adegan si pria memeluk pinggang wanita, menahan agar tidak jatuh lalu bertatapan dan berakhir ciuman. Hahaha 😂)
__ADS_1
"Maaf saya ngagetin kamu yaa" ucapnya seraya tersenyum.
Duhhh dasar Duren satu inih, udah tahu bikin kaget, masih nanya pula. Hadeh.