
Roda brangkar berjalan cepat menuju ruang IGD darurat. Rohit tidak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya dari hangatnya tangan lembut itu. Sesekali rohit mengecupnya dan selalu mengatakan "bertahanlah"
"Maaf tuan,ada harus menunggu diluar"Rohit memandang suster itu tidak terima
"kenapa seperti itu? Aku akan menemaninya"tolak rohit dan ingin mencoba menerobos masuk
"Maaf tuan,ini sudah peraturan rumah sakit"rohit akhirnya luluh,ini demi gadisnya
"Baiklah...."
Pintu kaca tebal itu tertutup menyisahkan wajah khawatir rohit. Pria berusia 32 tahun itu duduk dikursi tunggu,tangannya mengusap wajahnya kasar. Jantungnya tidak henti untuk tidak bertalu,jelas pikiran negatif selalu membuat jantungnya berdetak tidak wajar. Apalagi,saat dia melihat hidung gadisnya mengeluarkan darah kehitaman. Itu sangat menggambarkan jika gadisnya tidak baik-baik saja
Lama rohit duduk berperang pikir,tidak lama sosok dokter paruh baya keluar dari ruangan itu. Spontan rohit berdiri dari duduknya dan menghapiri dokter itu
"Bagaimana keadaannya dok...?"tanya rohit to the point
Dokter Nick memandang rohit ragu,nyalinya menciut saat memandang kedua bola mata pria itu"dia b-baik saja,tidak ada yang dikhawatirkan. Dia hanya syok berat. Anda tenang saja,dan pasien sudah sadar. Anda bisa menjenguknya setelah pasien dipindahkan diruang rawat..."jelas dokter Nick panjang lebar
Seketika rohit bernapas lega. Semua pikiran yang menghantuinya tidak terjadi,pria benetra coklat itu begitu lega saat mendengar penjelasan sang dokter
Sedangkan Nick sudah mengeluarkan keringat dingin. Dia tidak bisa menjelaskan yang berhubungan baik-baik saja. Terlebih sang pasien sakit,yang tidak bisa diremehkan. Nick masih ingat saat gadis itu menangis dihadapannya,memohon,merengek,dan Nick benar-benar tidak tega melihatnya
"Saya mohon dok,jangan bilang semua yang terjadi pada saya. Saya tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Saya--hiks..."Nick memandang gadis dihadapannya sendu. Itulah tantangan jika menjadi dokter,tidak bisa berbohong. Apalagi ini tentang penyakit
__ADS_1
"Tapi nona,panyakit anda sangat serius. Jika tidak segera ditangani maka akibatnya sangat fatal"jelas Nick
"Saya mohon dok,rahasiakan ini pada rohit. Saya tidak ingin,merepotkan. ku mohon.."
Nick bernapas gusar. Gusar menghadapi pasiennya ini. Dia tidak menyangka penyakit serius ini harus dirahasiakan? Sungguh pria berusia 41 tahun itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga mengasihani pasiennya ini. Tapi....
"Yasudah,tapi saya tidak ingin menjamin ini. Saya harap nona segera bertindak untuk penyakit nona,ini sangat serius. Bahkan darah yang keluar dihidung anda itu sudah mengambarkan jika penyakit anda serius"
Alen mengangguk
"Dan saya hanya ingin anda cek up tiap minggu,untung akarnya belum melebar. Dan juga jangan paksakan,pikiran anda berjalan terus. Jangan berpikir terlalu berat,itu bisa mengakibatkan otak anda tidak mampu merespon. Ingat nona,kangker otak bukan penyakit ringan. Penyakit ini bisa berakibat fatal untuk hidupmu"
Alen mendengarkan penjelasan itu seksama. Sebenarnya dia juga tidak ingin menyembunyikan ini,tapi mau bagaimana lagi. Minta bantuan pada pria itu,mana mungkin. Pria itu bukan siapa-siapanya,hubungan mereka saja belum jelas
"Pridiksi saya,kangker anda sudah stadium tiga"
"Stadium tiga? Tapi kenapa baru ini saya rasakan?"
"Ya...itulah yang saya takutkan nona. Dan masalah itu,tentu nona belum merasakannya,karena akar itu belum menjalar lebar"
Alen diam memikirkan penjelasan dokter itu"kalau begitu saya permisi nona"pamit Nick dan mulai menghilnag di balik pintu
Alen mengangguk dan kembali berbaring,saat itu juga dua suster mendorong brangkarnya keruang rawat inap
__ADS_1
Rohit mendekati brangkar itu dan memandang gadisnya dengan tatapan sendu. Mengusap wajah pucat itu,dan mengenggam tangan dingin gadisnya
"Jangan menatapku seperti itu"kesal alen dan memalingkan pandangannya kearah lain
"Jangan mengabaikanku seperti itu nona,nanti kau tidak bisa melihat kearah lain selain aku"kekeh rohit tidak memperdulikan kedua suster yang sedang bersama mereka
"Mana bisa?---"
"Sudalah nona jangan berdebat denganku,aku tidak tahan jika bibirmu itu terus bergerak"
"Kata-katamu tidak utuh,aku tidak mengerti. jangan kan aku suster ini saja tidak mengerti"balas alen mencibir
"Bukan kamu yang tidak mengerti bahasaku,tapi aku yang tidak mengerti"
"Nona,tuan jangan berdebat. Ini sudah diruang rawat. Kami permisi. Jika anda butuh sesuatu tinggal tekan tombol itu"setelah itu kedua suster meninggalkan kedua sejoli yang mengangguk paham
"Jangan memulai lagi nona,aku akan membayar andministrasi. Kau jangan kemana mana,aku serega kembali"
Alen menatap kesal kepada pria dewasa di sampingnya. Pria itu benar-benar tidak waras!
Tbc
Jangan lupa follow ig@Anitthaeeee
__ADS_1