Hottest Daddy

Hottest Daddy
Part 35> Sebuah Dosa


__ADS_3

"Rohit!bangun. Nih anak kok tidur dilantai sih. Kamar masih banyak yang kosong. Ckckck"omel mariam sambil berdecak kesal. Wanita paruh baya itu berjongkok dan menguncangkan badan rohit yang tergeletak dilantai yang dingin itu


"Kenapa mam? Astaga kok kak rohit tidur dilantai?"tanya savana terkejut saat melihat kakaknya yang tergeletak dilantai


"Mama nggak tau juga. Pas mama mau kedepan,eh malah liat kakak kamu"sahut mariam acuh"bangunin gih. Mama kedepan dulu"lanjutnya dan meninggalkan savana dengan tampang cengonya. Benar-benar mamanya ini,anak lagi tergeletak dilantai. Eh malah melongos pergi,seakan yang terbaring itu adalah batang pohon


"Kak. Kak rohit bangun!"bentak savana keras


Sedang rohit langsung terbangun dengan kasar. Namun,kepalanya masih menunduk. Matanyapun masih tertutup"kepala kakak pusing banget, Akhh"ucap rohit meringis,tangannya memegang kepalanya


"Ayo sava bantuain kakak duduk"tutur savana dan menuntun rohit untuk duduk disofa diruang tamu


"Alen mana? Kok kakak nggak liat?"tanya rohit serak,setelah ia sudah duduk disofa


"Huh,sava bingung sama sifat alen kak. Dia nangis terus nanyain kamu"ujar savana lesu. Benar,dia tidak tahu apa penyebab calon kakak iparnya tiba-tiba menjadi cengeng dan mudah menangis


"Alen mana?"tanya mariam tiba-tiba dari balik pintu utama. Bahkan rohit terlonjat kaget saat mendengar suara mamanya yang tiba-tiba saja terdengar


"Astaga mama!ngagetin aja"kaget savana spontan


"Hehehe,maaf deh. Mama nggak tau kalau kalian kagetnya berlebihan"kekeh mariam tidak merasa bersalah"oh iya,alen mana yah?"lanjut mariam dengan pertanyaan


"Dikamar. Nangis dia"sahut savana santai,sedang rohit hanya memijit pangkal hidungnya


"Oh,yaudah mama ke alen dulu yah. Dan kamu rohit.."tunjuk alen pada rohit dengan tampang galaknya"ngapain kamu tidur dilantai tadi? Emang kamu udah bosan tidur dikasur?"oceh mariam


Rohit mengernyit dahi heran. Heran dengan pertanyaan mamanya"emang aku tidur dilantai?"


Mariam dan savana mengangguk cepat"kok aku nggak ngerasa yah"ujar rohit memandang mama dan adiknya bergantian

__ADS_1


Mariam duduk disamping savana,bahkan mariam melupakan niat ingin bertemu dengan alen. Seakan pembahasan rohit tidur dilaintai lebih menarik perhatiannya"wajar kamu nggak ngerasa. Tidurnya nyenyak banget"celetuk mariam


"Loh. Aku nggak tidur mam. Aku pingsan tadi subuh"balas rohit tidak terima dengan celetukan mamanya itu. Dan benar. Dia merasa benar-benar pingsan,bukan tidur seperti yang dituduh mamanya kepada dirinya


"Alah. Jangan ngeles. Mama tuh liat kamu tergeletak dilantai. Mana ada pingsan sampe mendengkur. Kalau nggak percaya,tanya aja ayah kamu atau sava"


"Benar kak. Kakak tidur bukan pingsan"ucap savana membenarkan ucapan mamanya


"Udalah. Nggak usah dipanjang-panjangin. Mama sampai lupa kunjungin alen"setelahnya,mariam meninggalkan kedua anaknya dengan pikiran mereka masing-masing


"Gabriel mana? Kok kakak nggak liat?"tanya rohit


"Pulang. Katanya sih,mamanya masuk rumah sakit"sahut savana


Rohit mengangguk paham"kakak tinggal yah. Mau liatin alen"



Pria berusia 60-an mondar-mandir didepan ruang rawat darurat,dengan gelisah. Bahkan tanpa sadar dia sudah menggigit kuku-kuku jarinya. Tangannya yang sedikit keriput itu dibiarkan bertengger dipingang. Tak tahanpun apa yang dilakukannya,dia memilih duduk dikursi tunggu. Memandang pintu berdaun dua dengan pandangan lelah. Lelah menunggu selama satu setengah jam suntuk


"Papa? Keadaan mama gimana?"tiba-tiba sebuah suara bariton. Pria paru baya tadi,menolehkan matanya untuk memandang asal suara itu. Ternyata pemilik suara bariton tadi adalah putranya


"Papa belum tau. Dari tadi dokter belum keluar. Papa nggak tega lihat mama begini"ujar pria itu pesimis. Kepalanya dia gelengkan untuk menolak apa yang menimpa istrinya


"Papa yang tenang ya. Gabriel yakin mama akan sembuh"yap,pemilik suara tadi adalah gabriel. Otomatis pria berusia 60-an adalah tuan March


Tidak lama setelah perkataan gabriel. Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang dokter wanita. Dokter itu melangkah anggun didepan sepasang anak ayah itu. Untuk sejenak,gabriel terpesona pada dokter tersebut. Namun,beberapa saat kemudian. Dia menggelengkan kepalanya kuat. Menyingkirkan pikiran itu. Dia sudah tidak membutuhkan banyak wanita,dia sudah mempunyai savana khandelwal. Sudah cukup dia menyakiti seorang wanita,apalagi wanita itu sudah terlanjur menaruh harapan padanya


"Bagaimana keadaan istri saya dok. Apakah dia baik-baik saja?"tanya march dengan tidak sabar

__ADS_1


Dokter itu tersenyum maklum,menatap pria paruh baya dihadapannya. Namun tanpa sadar senyumnya itu menambah kemanisan diwajahnya. Tapi march tidak mau repot-repot mengagumi senyum itu,dia sudah diambang kesabaran


"Sebelumnya perkenalkan saya dokter Maria,saya dokter bedah. Dan untuk keadaan istri anda...mungkin saya harus mengatakannya jika...istri anda harus melakukan operasi didalam otaknya. Kanker yang dideritanya dibagian otak sangat memprihatinkan. Jika tidak cepat dioperasi maka nyawanya tidak tertolong"jelas dokter Maria panjang lebar


Mendengar penjelasan dokter Maria. March maupun Gabriel sama-sama merasa dunia mereka seketika hancur. Bahkan sesak didada mereka seperti diremas-remas sampai berpuing-puing tanpa sisa


"A...apa?"bahkan bersuarapun rasanya susah bagi seorang pembisnis seperti March. Inikah. Inikah akhir dosanya yang harus dia tebus. Dosa yang dia tanggung selama hampir 20 tahun ini (?) Dosa yang membuatnya menjadi pria pengecut (?) Tidak bertanggung jawab. Meninggalkan keluarga yang sedang membutuhkannya. Inikah balasan atas dosa-dosa itu (?) Tapi....tapi kenapa dengan istrinya. Harusnya dia yang menanggung dosa itu,dia yang berdosa disini. Kenapa bukan dia saja yang menanggungnya!!!


Tanpa sadar March bersimpuh dilantai dengan tangan memegang dadanya. Sesak yang dia rasakan belum sebanding apa yang pernah dia lakukan terhadap mereka. Keluarga yang ditinggalinya


Dia!


Pria pengecut!


"Kalau begitu saya pamit undur diri. Mari tuan"dokter Mari membungkukan badan tanda rasa hormatnya pada Mr. March dan putranya


"Pa. Papa nggak apa-apakan?"tanya gabriel khawatir. Dia segera membatu ayahnya berdiri dan menuntun pria itu untuk duduk. Menyandarkan punggungnya dikepala kursi besi yang berada di samping tembok


"Semua ini dosa papa. Harusnya papa yang berada diposisi mama. Harusnya papa yang merasakan sakit diotak papa. Tapi...kenapa orang yang papa sayangi. Papa pengecut!papa tidak berguna"isak pria itu pilu. Sesak akan dosa yang pernah dia perbuat


"Papa tidak pengecut. Papa. Papa yang paling gabriel banggakan"kata gabriel menenangkan,tapi lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri


"Tidak gabriel. Papa tidak pantas dibanggakan. Papa pengecut! Papa meninggalkan sarah dalam kondisi sekarat. Papa yang tega meninggalkan putri papa dalam keadaan menangis. Menagis menahan papa agar papa tidak meninggalkannya. Papa yang egois,hanya mementingkan kalian. Dan pada akhirnya,papa menyesal gabriel. Putri papa menghilang. Dan jika papa menemukan dia,papa tidak yakin jika dia akan mengakui papa adalah ayah kandungnya. Papa sangat menyesal. Papa menyesal"


Tbc


Maaf jika kata-kayanya kebanyakan kata PAPA


Tolong votenya dan komentnya yah

__ADS_1


__ADS_2