Hottest Daddy

Hottest Daddy
Part 37> Rohit Berubah


__ADS_3

Rohit memakai kemeja kotak-kotak merah sambil membenarkan rambutnya. Tidak seperti biasanya Rohit menghampiri alen untuk memakaikan dasi atau sebagainya. Dia bahkan hampir tiap hari pulang agak larut malam,bahkan alen selalu mencium aroma keringat yang menurutnya aneh


Dan itu sudah berlaku selama tiga hari ini,setelah mereka pulang dari rumah sakit. Bukan hanya alen yang merasa akan perubahan rohit selama beberapa hari terakhir ini,mariam dan ardipun merasa begitu.


"Kamu nggak sarapan?"tanya alen saat melihat rohit ingin melewati ruang makan. Rohit menggeleng dan melongos pergi. Sedangkan dennis,mengerutkan keningnya heran. Walau dia masih dikatakan polos,tetapi dia bisa melihat akan hal itu. Ayahnya tidak seperti dulu


Alen yang mendapatkan respon begitu hanya menunduk dan menahan air matanya. Mariam yang sedang disamping alen,hanya mengelus bahu wanita itu untuk menenangkannya


"Sabar ya. Rohit hanya sibuk"rasanya alen ingin mempercayainya dengan mudah. Tetapi,entah mengapa dia begitu ragu dan sakit melihat rohit mengabaikannya seperti ini


"Ma,Dennis berangkat sekolah ya"bocah itu mencium pipi kanan alen dan mencium tangan mariam dan ardi. Setelahnya,bocah itu meninggalkan ruang makan dan masuk kedalam mobil. Terkadang,dia bahagia ayahnya mengabaikan alen seperti itu,pengabaian ayahnya membuat dia leluasa bisa mencium alen dan memeluknya tanpa ada penghalang. Tapi,dilain sisi dia tidak tega melihat alen murung dan melihat air matanya


Sedangkan alen. Hilang sudah selera makannya. Dia meninggalkan ruang makan tanpa menghirau mariam yang memanggilnya. Dia begitu kecewa,dan merasa cinta pria itu hanya semu belaka. Rasanya alen benar-benar merasa sakit


Setelah sampai dikamarnya. Lantas dia terduduk dipinggiran kasur dan menumpahkan seluruh tangis yang sedari tadi dia tahan. Alen merasa,pria itu tidak lagi mencintainya. Atau mungkin pria itu sudah mendapatkan penggantinya yang lebih seksi darinya. Atau apa mungkin dia sudah terlihat jelek dimata pria itu,karena secara logika. Dia terlihat bulat,mana mungkin pria seperti rohit akan bertahan dengan wanita bulat sepertinya (?)


Membayangkan itu. Membuat alen semakin terisak. Apakah benar adanya(?) Atau dia saja yang terlalu berpikir negatif(?). Alen ingin mempercayai jika rohit hanya sedang sibuk dengan perusahaannya,seperti yang dikatakan mariam padanya. Tapi...itu terlalu keterlaluan,seharusnya tidak seperti ini juga. Mengabaikan dan mengacuhkannya seperti dia tidak terlihat di hadapannya


Lalu,untuk apa lagi dia bertahan jika dia tidak diharapkan lagi. Untuk apa dia masih mengaharapkan itu. Tapi...bayinya. ah,dia saja bisa bertahan selama 18 tahun terakhir ini. Tanpa ada seorang disisinya. Katakanlah dia terlalu berlebihan,namun kalian tidak merasakan hal sepertinya. Tidak diharapkan lagi,secepat ini

__ADS_1



Gabriel menggenggam tangan savana dengan lembut. Menuntunnya untuk masuk kedalam mobil mewahnya. Setelahnya,barulah gabriel menyusul dan memasuki dibagian kemudi. Sedang savana hanya menatap lurus jalan yang mereka lalui,tidak berani menatap dibagian kemudi. Dia tahu,bahwa pria itu sesekali memandangnya


"Kita akan kemana?"setelah lama hening. Barulah savana memecahkan keheningan itu


"Kau akan tau"jawab gabriel,seperti kuis-kuisan. Savana mendengus,dan kembali keposisi awalnya. Bahkan suasanapun kembali hening


Perlu memakan waktu 28 menit,barulah mereka sampai pada tujuan mereka. Savana menatap sekelilingnya dengan bingung bercampur penasaran. Inginnya dia menanyakan kepada pria itu tapi,dia tidak mood berdebat sekarang. Well,dia hanya mengikuti apa yang pria itu lakukan. Bahkan pria itu menuntunnya berjalan,dia hanya diam


"Kau tidak ingin bertanya?"gabriel memandang gadisnya heran. Tidak biasanya gadis itu diam,bila keadaan bingung seperti sekarang ini


"Kau tidak senang? Atau kita kembali saja?"tanyanya dengan raut kecewa. Savana menghela napasnya,dan memeluk pria itu dengan erat


"Memangnya kita akan kemana? Aku tidak mengerti kenapa kita berada diatap perusahaanmu?"savana memilih bertanya agar pria itu tenang


"Aku ingin mengajakmu menemui papa dan mamaku"jawab gabriel antusias. Savana melepaskan pelukannya dan menatap gabriel penuh tanda tanya


"Kok mendadak? Akukan belum melihat papa dan mama kamu sebelumnya"

__ADS_1


"Justru itu,sayang. Supaya disaat pernikahan---"


"Shut up!"sebelum gabriel menyelesaikan ucapannya. Savana sudah mendekap mulutnya dengan wajah memerah. Lantas gabriel tertawa,melihat gadisnya malu-malu kucing seperti sekarang


"Emang kenapa? Kamu tidak mau menikah denganku?"tanyanya dengan raut pura-pura marah


Savana langsung memeluk gabriel erat dan menggelengkan kepalanya berulang kali"aku mau!aku mau!"pria itu melepaskan pelukan mereka dan meraup wajah savana dengan lembut,wajah itu semakin dekat dan sekat. Hingga savana menutup matanya menanti apa yang gabriel ingin lakukan. Menciumnyakah?. Ah,rasanya savana benar-benar mati kutu. Bahkan teriknya matahari tidak mereka hiraukan,malahan seperti menikmatinya


"Maaf tuan,jet akan segera sampai"


Refleks gabriel menoleh kearah suara itu. Didepan mereka seorang pria berkacamata hitam,sedang memandang mereka datar. Gabriel menggeram kesal. Dasar pria tidak tahu situasi,perusak suasana!!. Makinya dalam hati


Sedang savana,menunduk malu. Tidak berani mengangkat wajahnya,walau hanya menatap pria dihadapannya saja tidak berani. Apalagi kecolongan moment (?) Ah,savana ingin saja menyembunyikan wajahnya di closet WC


Tbc


_______________________


Maaf pendek. Ngak tau lagi harus bahas apa. Btw,rohit berubah yah. Ngak seperti biasanya,mesum-mesum dikit. Tapi sekarang,,,rohit mengabaikan alen begitu saja. Kalau aku jadi alen,aku minggat deh supaya rohit tau rasa ditinggalkan kedua kalinya sama alen

__ADS_1


Huaaaaa!!!!


__ADS_2