
Pintu mobil ditutup dengan kasar. Alen menatap pria itu dengan tajam,dia kira siapa. Bisa-bisanya pria itu,menariknya dengan kasar dengan banyak tatapan para siswa RHS
"Kau ini kenapa sih? Aku nggak mau diantar sama kamu"kesal alen. Benar-benar kesal
Tak ada jawaban
Alen mendengus, memalingkan pandangannya kearah luar kaca jendela mobil. Hanya keheningan yang mengisi suasana diantara mereka,alen tidak kuasa dengan keheningan seperti ini. Tapi,mau bagaimana lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bicara saja,dia akan memikirkan seribu kali
Alen tidak tahan lagi dengan keheningan dan kecanggungan ini. Gadis itu menyandarkan tubuhnya dikursi empuk itu. Ah--rasanya nyaman sekali
Sementara ditempat yang sama,Rohit memfokuskan kemudinya. Namun,pikirannya berkelana kemana-mana. Memikirkan,apa yang harus dia lakukan setelah ini. Senyum tipis dibibirnya terbit,rohit merasa seperti abg. Ah, jadi ingat semasa mudanya dulu,berkencan dengan wanita seperti gadis disampingnya
"Apa kau tau? entah mengapa aku merasa nyaman saat didekat kamu"detak jantung rohit bertalu,sekaligus gugup. Entalah,perasaan itu semakin nyaman jika berdekatan dengan gadis itu
Tak ada sahutan
Huuufff. Rohit menghela napas beratnya. Dia kira gadis itu mendengarnya,rohit mati-matian menahan kegugupannya dan nafasnya. Dan lihatlah gadus itu,tidur pulas tanpa memperdulikan dirinya. Ah sudalah, rohit benar-benar pusing memikirkannya. Ia tidak mengerti dengan perasaanya,bisa-bisanya merasa nyaman pada gadis berusia berbrda jauh darinya
*
"Hei,bangun. Apa kau akan tidur selamanya didalam mobil"rohit menepuk nepuk lembut pipi alen
Gadis itu mengerjapkan matanya,menyesuaikan cahaya yang masuk di retina matanya. Ia kembali menutup dan membukannya lagi. Setelah terbuka sepenuhnya,alen melihat sekelilingnya. Gadis itu mengernyit dahi heran. Ini bukan halaman apartemennya,ini pantai? Oh dewa ternyata ini pantai
"Pak...ini pantai?"rohit memandang gadis itu heran. Lah emang pantai,apalagi coba. Rohit memutar bola matanya malas,dia turun dari mobil itu tidak menanggapi panggilan dari gadis lemot itu
"Pak!aw!!!"rohit segera berbalik kearah alen karena mendengar ringisan dari mulut gadis itu
__ADS_1
"Kamu kenapa?"alen mengusap lututnya yang tergores akibat terkena kayu berduri. Rohit meniup dan mengusapnya lembut,ia ikut meringis saat alen meringis
"Apakah sakit?"alen mengangguk
"Bisa berjalan?"kali ini alen mengangguk ragu
"Ayo aku bantu,kita kebangku itu. Dan aku akan mengobati lukamu"tujuknya pada bangku kosong dibawah pohon kelapa. Kemudian,meraih tangan itu dan menuntut alen berjalan
Setelah sampai rohit mendudukan alen dengan hati hati"kau tunggu disini,aku akan mengambil kotak obat. Jangan kemana-mana"
Alen tersenyum dan mengangguk. Sepeninggalan rohit,gadis itu menatap lukannya sendu. Goresan itu,cukup parah hingga sampai dimata kakinya
Rohit datang dengan sebuah kotak obat ditangannya. Pria itu berjongkok,menumpukan satu lututnya diatas pasir hingga celana kain hitamnya kotor
"Ah,pelan-pelan ini sangat perih"alen kembali meringis saat alkohol itu menyentuh lukannya. Matanya ia pejam erat-erat
"Maaf pak...."rohit mengangguk
"Nah sudah. Turunin pelan-pelan"ujar rohit saat perban itu membungkus luka alen dengan rapi. Alen menurunkan kakinya dari bangku pelan pelan
"Kau bisa berjalan? Atau kita pulang saja?"tanya rohit saat sudah berdiri dihadapan gadis itu
"Jangan pak...mubasir udah berjam-jam kita datang kesini"rajuk alen tanpa sadar. Hal itu membuat rohit terkekeh dan mengacak rambut alen hingga berantakan
"Ih bapak!!!
"Iya,iya...yuk kita jalan menyusuri bibir pantai ini. Sebelum dennis menyadari kita disini"ajak rohit dan mengenggam tangan itu,lalu menuntun kearah bibir pantai
__ADS_1
"Apakah kau senang? Maksud aku..apa kau senang melihat pantai ini"rohit benar benar gugup. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal
"Ya,aku senang sekali. Sudah lama aku nggak kepantai seperti ini"jujur alen tersenyum manis
Jangan tersenyum seperti ini,itu membuat jantung aku bertalu cepat. Jerit rohit dalam hati
Suasana kembali canggung,mereka sama sama melempar senyum kecanggungan. Rohit mengenggam tangan itu lebih erat,dan menghirup udara berbau asin itu
"Sunset akan muncul. Apakah kita menunggu atau pulang lebih cepat?"rohit kembali berusaha mengalihkan kecanggungan agar mencair
"Kita tunggu saja"sahut alen tersenyum. Akhir-akhir ini dia mudah tersenyum saat berdekatan dengan pria dewasa itu
Matahari perlahan mulai terbenama dibalik gunung. Warna jingga mulai menyinari awan yang awalnya putih kini menjadi jingga. Alen tersenyum lebar hingga matanya berbentuk bulan sabit. Dia tidak pernah melepaskan pandangannya pada warna jingga itu,rasanya sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini
"Indah bukan?"sebuah lengan kekar memeluk pinggang rampingnya. Seketika alen menegang,gadis tidak menyangka pria itu akan melakukan hal seromantis ini. Anak sama bapak sama. Sama-sama romantis
"Hm..."alen merasa tenggorokannya kering. Bersuara rasanya sangat sulit
Yap...rohit memeluk alen dari belakang. Menyandarkan dagunya dibahu kecil itu,berasa seperi anak remaja sedang kasmara. Rohit menghirup bau badan alen dalam dalam,sangat memabukan
Cup
Rohit mengecup leher jenjang itu lembut dan pasti. Jika bukan tempat terbuka,rohit sudah menyerang leher itu secara brutal
Sementara alen,sudah ingin mati rasanya. Ditambah wajahnya serasa ingin terbakar hingga dibagian telinga
Tbc
__ADS_1