
Keesokan harinya. Alen melakukan tradisi lain dikeluarga rohit. Seperti mengambil air disungai gangga yang jauhnya minta meter. Alen sampai sakit pinggang menempuh perjalanan kesungai itu. Katanya sih,itu sudah tradisi untuk pengantin baru bagi para wanita. Kalau para pria,alen tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jadi alen hanya melakukan apa yang menjadi bagiannya
Terik matahari tidak membuat alen patah semangat. Kendi yang dia bawa perlahan memberat. Tadi kendi itu ringan,sekarang kendi itu terasa berat. Alen merasa kendi itu sedang mempermainkannya
Alen mengistrahatkan kakinya didepat warung minuman. Tenggorokannya pun sudah terasa kering"haus banget. Nggak ada uang lagi"
Dia tidak mau berlama-lama diwarung itu. Dia kembali melanjutkan perjalanan. Dilihatnya banyak jajanan yang menggiurkan tenggorokan dan banyak juga minuman yang alen tidak tahu merek apa itu. Yang alen tahu,minuman itu bisa diminum. Hah,kehausan itu terasa menyiksanya
Dari kejauhan alen dapat melihat sungai yang dipenuhi pohon-pohon hijau. Dibagian pohon itu,banyak persembahan seperti makanan,kelapa,dan masih banyak lagi. Dengan semangat empat lima,alen berjalan mendekati sungai itu. Saat mendekat,seorang ibu-ibu bersari putih menghentikan jalannya
"Maaf nona,nona harus memberi persembahan dipohon itu"ujarnya sambil menunjuk pohon yang dikelilingin batu-batu
Alen mengangguk dan mencari persembahan yang sudah dijelaskan oleh ibu-ibu tadi. Saat sudah mendapatkan persembahan,alen segera menghampiri pohon tersebut. Ada dua orang wanita muda sepertinya yang sedang berdoa. Alen pun mengikuti cara berdoa mereka. Setelah berdoa,alen segera mengisi kendinya dan menyimpannya dikepalanya
Saat jalan,alen hampir lepas keseimbangan. Untungnya ada tiga wanita yang sepertinya menjunjung kendi dikepala mereka. Menjelaskan cara menyimpan kendi dikepala yang benar. Jika ingin menyimpan kendi dikepala,maka kita harus memegangnya dibagian ujung ,agar kendi itu tersimpan diposisi yang imbang. Kitapun yang membawa akan terasa nyaman
"Apa kita sejalur?"tanya salah satu wanita tadi kepada alen. Alenpun yang ditanya hanya menatap mereka heran
"Tidak tau. Aku hanya mengikut arah sana"tunjuk alen kejalan kecil yang berada dibelakang rumah penduduk
Wanita tadi mengangguk"benarkah? Kita sejalur. Ayo pulang,hari semakin panas"alen senang bukan main. Dia senang karena dia mempunyai teman saat pulang
♡
Rohit gelisah. Sudah empat jam dia duduk menunggu sang istri pulang dari sungai itu. Pria itu tidak tenang,semenit duduk semenit berdiri mondar mandir seperti setrika
"Ngapain mondar mandir begitu?"tanya mariam heran melihat putranya seperti setrika pakean
__ADS_1
Rohit menoleh"alen nggak pulang pulang mam. Rohit jadi khawatir"
Mariam menggeleng"istri kamu itu bukan wanita bodoh. Dia tahu jalan pulang. Lagipula bukan hanya dia disungai itu,pasti banyak wanita lain. Kamu ini berlebihan banget"
Rohit menatap mamanya sebentar,setelahnya dia berdiri dari duduknya berjalan kearah pintu utama. Tepat juga sang istri muncul dengan kendi diatas kepalanya,wajah pucat pasi,mata sayu. Rohit langsung membantu sang istri"sayang. Kamu pucat banget"rohit meletakan kendi itu diatas lantai,setelahnya dia mengendong tubuh istrinya masuk kedalam kamar
Mariam dan yang lain masuk kedalam kamar rohit. Mengecek keadaan sang menantu"astaga. Badan alen panas banget"mariam menyentuh dahi alen
Rohit kembali duduk diatas tempat tidur setelah menelpon dokter keluarga khandelwal. Tidak butuh waktu lama,dokterpun datang dengan setelan jas putihnya. Rohit tidak menggeser tempatnya,dia terlalu cemas. Jika bukan tadisi keluarganya,sudah dari tadi dia mencegah istrinya untuk melakukan perjalanan jauh itu
"Bagaimana dok keadaan istri saya?"tanya rohit harap-harap cemas,menatap dokter itu dengan sendu
"Tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan,bayinyapun masih sehat. Tapi,dia harus mengonsumsi makanan bergizi. Karena kandungannya sedang masa penuaan"jelas dokter itu
Rohit mengangguk mengerti
"Yah padahal masih satu tradisi lagi. Tapi alennya sudah tepar,nenek jadi merasa bersalah. Besok nggak usah aja yah? Kasihan alen apalagi dia sedang hamil tua"kata nenek rohit merasa bersalah
Lagi-lagi rohit mengangguk"iya nek. Nggak usah yah? Kasihan istri rohit. Dia kecapean"
"Yaudah. Kamu temanin alen aja. Nanti mama suruh dennis bawain makanan untuk alen"ujar mariam. Setelahnya mereka keluar dari kamar rohit
Sedang rohit membuka sari alen dan meletakannya dibawa lantai. Mengambil baskom yang sudah dipenuhi air hangat lalu membasuh wajah damai sang istri. setelah membasuh wajah,rohit kembali membasuh tangan dan kaki istrinya
setelah membasuh seluruh bagian tubuh istrinya,rohit mengambil selimut bersih lalu menyelimuti tubuh istrinya. Serta dirinya yang ikut berbaring dan memeluk alen erat. Menghirup aroma rambut alen dengan dalam. Ia akan menjaga istrinya dengan sepenuh hati,akan merawat dia jika suatu saat nanti terjadi apa-apa. Tidak akan meninggalkan wanita yang berada didekapannya ini dengan keadaan apa-apapun. Rohit sudah berjanji terhadap dewa,maha dewa saat dia mengucapkan janji suci dipernikahannya hari lalu. Janji itu akan dia buktikan,bukan kata tapi sebuah perbuatan agar istrinya tahu dia cocok disandangakan sebagai suami dan ayah
♡
__ADS_1
Ketukan pintu membangunkan rohit dari tidurnya. Menyingkap selimut dan berjalan membuka pintu. Saat pintu telah terbuka,rohit dapat melihat siapa yang mengetuk pintu itu
"Ada apa dennis? Kok belum tidur?"tanya rohit heran saat mendapati sang putra diambang pintu
Bocah itu menggaruk kepalanya"em...ayah nggak makan? Aku bawain roti untuk ayah"sebuah roti gulung disodorkan kepada rohit
Rohit menerima roti itu dan mengacak rambut sang putra. Putranya ini tahu sekali menganggu orang tidur,alibinya sangat menguntungkan"kamu tidur aja. Nanti ayah yang makan"
Bocah itu menggeleng membuat rohit bingung namun was-was"apa lagi dennis? Jangan berbuat macam-macam yah"
"Ayah ini nething mulu sama anak. Aku ingin melihat keadaan mama. Boleh ya ayah. Aku janji nggak buat macam-macam. Nggak cium mama kok"mohonnya dengan tangan mengatup didepan dada. Menatap sang ayah dengan tatapan sendunya
Rohit menggeleng kepala"nggak! Ayah nggak percaya sama kata-katamu. Ayah udah tau akal busukmu itu. Jadi kamu kembali kekamar dan tidur. Jangan gangguin istrahat mama,ok"
Namun bocah itu tetap dengan posisinya"aku janji ayah. Aku hanya ingin melihat mama. Sumpah demi dewa ayah"
"Jangan bawa-bawa dewa dennis,itu tidak boleh"peringat rohit tajam
"Aku nggak bawa dewa ayah. Aku hanya menyebutnya,demi dewa aku nggak akan macam-macam"rohit menggaruk telinganya kasar. Dia menatap putranya tajam
"Baiklah. Ayah izinkan,tapi ingat!nggak boleh cium-cium sembarangan. Kalau kamu melanggar,ayah nggak akan mengizinkan selamanya. TITIK"bocah itu bersorak girang saat mendapatkan izin dari sang ayah. Tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Kapan lagi coba ayahnya akan memberikan izin,walau keadaan terpaksa
Bocah itu masuk kedalam kamar serta rohit mengekor dibelakang. Mewaspadai sang putra jika bocah itu berbuat macam-macam. Dia sudah cukup berpengalaman terhadap putranya. Izinnya tidak akan macam-macam tahu-tahunya...ah rohit langsung menaboknya. Tapi itu hanya imajinasi,mana berani dia menabok cucu kesayangan mamanya,bisa-bisa dia tidak dapat warisan dan akhirnya dia akan hidup melarat
Tbc
Hahaha. Aku sendiri ngak ngerti cara tulis aku!!!sampai aku ngak ngeh guling-guling disapal!!!!
__ADS_1