Hottest Daddy

Hottest Daddy
Part 36> APA!!!


__ADS_3

Mariam menarik tangan Alen disepanjang lorong rumah sakit. Dari belakang diikuti oleh Rohit,dennis dan Savana. Bahkan rohit tidak memakai atasan,hanya mengenakan celana panjang putih. Para pasien dan suster yang berlalu lalang hanya cekikikan saat melihat rohit yang topless seperti itu. Tak jarang juga para wanita dirumah sakit itu mengagumi tubuh atletis rohit. Sampai ada yang meneguk ludahnya kasar. Pemandangan itu tidak mau disia-siakan oleh para wanita yang sempat lewat dihadapan mereka,mengabadikan pemandangan langka tersebut


"Mam. Pelan-pelan dong narik alennya. Kasihan calon istri rohit mam"tegur rohit,menatap calon ibu dari anak-anaknya dengan khawatir ditarik oleh mamanya tidak berperi kemanusiaan


"Iya eyang. Kasihan mama dennis"lanjut bocah itu yang menatap Alen tidak kalah khawatir. Sampai-sampai Rohit berdecak kesal,memandang putranya dengan datar. Namun,dennis tidak kehilangan akal. Bocah licik sepertinya tidak akan kehabisan akal agar bisa melihat ayahnya kesal atau naik darah


"Eyang,aku aja yah megangin mama. Pasti eyang capek kan?"seakan tahu oleh keakalan busuk cucunya. Mariam mengangguk mengiyakan,setelah itu dennis mengenggam tangan Alen dan menuntunya berjalan. Mariam memandu perjalanan mereka. sedangkan rohit susah payah dia memendam amarahnya,ingin rasanya dia melempar putranya ditembok itu atau mengambil suntik yang dibawa oleh suster dan menyuntiknya dipantat putranya


"Tenang kak. Dia masih kecil"ujar savana menenangkan kakanya yang dilanda amarah berkilogram


Tak lama kemudian,mereka terhenti didepan pintu coklat muda didepan pintu itu terdapat papan bertulis RUANG DOKTER PRISA. Seketika Alen dan Rohit serta Savana menatap Mariam terkejut dan penasaran. Menuntut penjelasan lebih. Sedang Dennis memandang anggota keluarganya polos,tidak mengerti mengapa mereka tidak jadi masuk dibalik pintu itu


"Kita masuk aja yah. Nanti dokter Prisa yang menjelaskannya"seakan cenayang. Mariam mengerti arti tatapan dari tiga orang didepannya. Tidak bisa dipungkiri jika kedua anak dan menantunya menuntut penjelasan seperti itu,karena mereka akan memasuki ruangan dan menemui Dokter kandungan yang sudah dikenal dengan nama pendidikannya


Tidak banyak bicara. Mereka segera masuk saat dipersilahkan masuk oleh dokter wanita tersebut. Dokter itu menyambut anggota keluarga Khandelwal dengan hangat dan menyuruh mereka untuk duduk disofa yang sudah disediakan


"Ada apa nyonya tiba-tiba datang menemui saya?"tanya dokter prisa heran namun ramah. Sesekali menatap rohit yang sedang mengelus puncak kepala Alen dengan sayang. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Bahkan sampai tidak terlihat saking tipisnya,namun Mariam tidak kalah jeli melihat senyum tipis itu. Dia tahu,senyum itu menyimpan banyak rasa. Bahkan dia tahu,dokter itu tidak sanggup menatap kedua insan yang sedang dilanda kasmara


"Maafkan saya sebelumnya dokter prisa. Kami hanya ingin dokter memeriksa calon menantu saya"kata Mariam penuh sesal. Alih-alih terganggu,dokter prisa menampilkan senyum lebar. Bukan senyum tipis seperti tadi


"Tidak apa-apa nyonya"


"Jangan formal seperti itu. Saya sudah mengenalmu lama. Bahkan kamu masih kecil,kita sudah saling kenal. Orang tuamu juga"


"Baiklah..."ujar dokter prisa mengalah"mari nona,berbaring diatas brankar"walau dilanda kebingungan,Alen tetap melakukan apa yang diintruksi oleh dokter prisa. Sedang rohit sudah tidak bisa menahan senyumnya,kalau bukan masalah itu untuk apa mamanya membawa mereka kedokter kandungan?


"Dok. Bisa pak Rohit menemaniku?"tanya Alen takut-takut. Dengan senyum paksa,dokter prisa mengangguk dan memanggil Rohit untuk masuk kebilik ruangan kecil yang ditutupi oleh gorden lebar berwarna hijau. Hatinya semakin remuk saja tetapi,dia heran kenapa gadis ini memnggil rohit dengan sebutan pak?


Setelah Rohit berada didalam dan berdiri disamping brankar yang di susul oleh mariam dan savana sedangkan dennis tidak di izinkan masuk oleh rohi,ckck rohit benar-benar mirip bapak aayam. Pria itu mengenggam tangan wanitanya  Bahkan perbuatan itu seperti saja suami sedang menyemangati istrinya yang sedang melakukan persalinan"pak, Kok ekspesinya seperti menahan sesuatu?"tanya Alen polos. Rohit terkekeh dan menyentil hidung alen pelan. sedangkan dokter prisa mulai memeriksa pada perut Alen


"Mulai sekarang,kamu tidak usah manggil pak yah. Soalnya sebutan itu mirip bapak sama anak"rohit menggaruk pelipisnya,dia terkekeh malu. Mama dan adiknyapun ikut terkekeh. Benar juga sih,aneh di dengar ketika alen memanggil rohit dengan sebutan pak

__ADS_1


Alen mengangguk"terus aku harus manggil kamu apa?"alen tidak tau harus memanggi rohit dengan panggilan apa


Rohit kembali menggaruk pelipisnya sambil berpikir,sebutan apa yg cocok untuknya"bagaimana kalo baby?kan romantis kalo sebutan itu"


Alen menggeleng"itu tidak cocok untuk kamu terdengar seperti anak sekolah yang baru jatuh cinta"protes alen tidak setuju


"Terus apa?"tanya rohit meminta kepada mariam tetapi,yang di tanya hanya mendipkan bahu acuh


"Gimana kalo unchle aja"sahut savana dengan senyum lebar. Sedangkan rohit menatap adiknya dengan tatapan tajamnya


"Sudah-sudah soal itu nanti kita pikirkan. Yang terpenting sekarang kita beri dokter prisa akses agar dia bisa memeriksanya"lerai mariam. Sudah beberapa menit mereka disini tidak ada yang ingin mengalah hanya karena rohit tidak ingin jika alen memnggilnya dengan sebutan pak


"Pak,tadi belum jawab pertanyaanku"alen masih memikirkan pertanyaanya yang tidak di jawab oleh rohit tadi


Rohit memandang alen"pertanyaan apa sayang"


Alen mendengus kesal"kenpa tadi ekspresi kamu seperti menahan sesuatu?"


"Bahagia kok ekspresinya seperti itu?"tanya alen lagi,seakan tidak puas dengan jawaban rohit barusan


"Ah masa sih? Perasaan aku biasa saja"elak rohit heran


"Pemeriksaan sudah kita lakukan. Nona alen dan....rohit  bisa ikuti saya dimeja saya?"alen segera bangkit dari brankar dibantu oleh rohit


"Bagaimana dok?"tanya Rohit mendahului mamanya saat mariam ingin membuka suara. Mariam mendengus kesal menatap putranya sengit


"Hasil pemeriksaan barusan jika...nona alen positif hamil..."langsung saja rohit menerjang alen dan menciumi seluruh wahanya dengan sayang. Dennis pun tidak mau kalah oleh ayahnya,diapun memeluk pinggang alen dan mencium perutnya yang sedikit besar. Alen kira,ini hanya masa pembesaran badan karena dia makan banyak dan tengah malampun makan. Namun akhirnya terjawab,ternyata dia sedang hamil anak...yah taulah siapa biang keladinya


Namun berbeda mariam,wanita paruh baya itu menatap situasi itu penasaran. Oke,kecurigaannya selama beberapa hari ini tidak meleset. Tetapi,tetap sja dia masih belum mengerti


"Pris,apakah itu benar? Maksud tante apakah calon mantu tante positif hamil?"bisik mariam agar tidak merusak suasana bahagia putra dan cucunya. Dokter prisa mengangguk mengiyakan atas pertanyaan mariam barusan

__ADS_1


"Benar tante. Calon menantu tante positif hamil"balas dokter prisa dengan berbisik juga. Keformalan tadi kini hilang,hanya ada hubungan yang lama sudah terjalin


"Bukankah kata dokter dipe. Bahwa janin yang dikandungan alen kondisinya lemah? Dan itu bisa merenggut nyawa alen jika janin itu tetap dipertahankan?"tanya mariam saat mengingat penjelasan dokter dipe beberapa tempo lalu


"Itu tidak menjelaskan bila janin itu harus digugurkan?"mariam menggeleng


"Nah,mungkin saat proses operasi dilakukan jabang bayi itu tiba-tiba kuat atau mungkin ada peluang bisa mempertahankan dua nyawa"jelas dokter prisa. Dan mariam mengerti dengan cepat,bahwa operasi yang dilakukan tempo lalu bisa menyelamatkan dua nyawa. Mariam tidak menyangka kuasa dewa melindungi calon cucu dan calon menantunya


"Kalu boleh tau dok. Usia kandungan alen sudah berapa bulan"tanya rohit tiba-tiba dengan alen berada disampingnya. Sedang dennis memeluk kaki ayahnya dengan bibir manyun


"Tiga bulan lebih. Dan nona alen harus mengonsumsi makanan yang bergizi dan meminum susu hamil agar jabang bayi kuat. Oh iya,apa nona alen merasa muntah-munta,pusing atau ada gejala lain?"sejenak alen menggunakan otaknya. Memutar memorinya kapan dia merasa gejala yang disebutkan oleh dokter prisa


"Pernah dok. Tapi itu sudah lama"jawab alen sepermenitnya


"Kapan?"itu bukan dokter prisa yang bertanya. Tapi itu adalah rohit


"Waktu penyekapan itu. Seminggu aku disana,aku merasa mual,bahkan sering muntah. Tak jarang juga aku merasa pusing"setelah mengatakan itu, rohit langsung mendekap tubuh wanitanya erat. Mencium puncak kepalanya itu lembut


"Maafkan aku yah. Aku terlalu pengecut,tidak segera menemukanmu"ujar rohit penuh penyesalan


"Nggak---


"Jangan dimaafin ma. Biarin aja ayah galau"sela dennis yang terdiam memeluk kaki ayahnya. Namun kini dia sudah memeluk kaki alen dengan erat. Bahkan rohit lupa jika putranya sedang memeluk kakinya


"Dennis!!diam kamu!ayah tidak mengajakmu untuk bicara!"geram rohit menatap putranya dengan tajam disamping betis alen


"Tapi mama mengajaku bicara. Benarkan ma?"tanya dennis mencari dukungan dari alen. Dengan polosnya alen mengangguk. Bahkan rohit mengacak rambutnya kesal. Sedang tiga orang yang menonton mereka hanya tertawa saja menyaksikan. Menurut mariam bila setiap hari melihat perdebatan antara anak dan ayah itu bisa membuatnya awet muda


Tbc


Aku pusing kata-kata apa lagi yang harus aku tulis dicerita selanjutnya. Rasanya kepalaku ingin pecah. Tapi lebih ingin pecah lagi,kalau tidak ada yang vote dan coment........

__ADS_1


KESAL!!!!


__ADS_2