
Kini kehamilan alen sudah menginjak kesembilan bulan. Dokter memprediksi,bahwa alen akan melakukan persalinan tinggal menghitung hari. Hal itu membuat rohit tidak pernah meninggalkan istrinya walau hanya semenit. Dan itu sudah berlaku dua bulan ini
"aku ingin ketaman belakamg"ucap alen pelan sembari memainkan jari kekar suaminya
Hari ini mereka bersantai diruang keluarga. Entah mengapa dikehamilannya ini,dia ingin suaminya itu mengelus perutnya sambil baring disofa ruang keluarga Tapi itu,tidak masalah buat rohit. Dia bahkan dengan mudahnya setuju dengan permintaan istrinya
Rohit mengangguk
Pria itu menuntun istrinya untuk duduk,dia sendiri sudah berdiri dari duduknya dan disusul oleh alen. Mereka sama-sama melangkah ketaman belakang yang dipenuhi bunga bermacam ragam yang ditanami oleh mama rohit
Rohit kembali menuntun istrinya untuk duduk dibangku taman. Kembali berbaring pada posisi tadi,dan rohit mengelus perut besarnya itu. Mereka sama sama menghirup wangi bunga-bunga itu,sambil menautkan tangan mereka
Tapi suasana itu harus terhenti karena bunyi ponsel dari saku celana rohit. Ingin pria itu mengabaikan panggilan dari ponselnya,tapi bunyi itu tidak mau berhenti. Rohit mengerang dan meraih kasar benda pipih itu. Menekan tombol dengan kasar
"Halo"bentaknya
"Kalem bro,aku hanya ingin memberitahumu bahwa ada file yang harus kamu tandatangani. Ini tidak bisa diwakili seperti biasa"ucap suara dari telepon itu
Rohit menghela napas berat. Dia menatap wajah bingung istrinya,senyum manis pria itu menghiasi wajahnya"ada apa sayang? Kok senyum seperti itu?"tanya alen bingung
Rohit menjatuhkan kedua tangannya di kedua bahu istrinya dan menatapnya intens"aku izin ya? Ada urusan kantor yang nggak bisa aku abaikan. Nggak papa kan?"
Alen memukul pinggang suaminya pelan"ya,nggak papa dong sayang. Itu sudah kewajiban kamu"
Rohit menunduk"aku nggak tega ninggalin kamu. Bagaimana kamu tiba-tiba mau lahiran,pas nggak ada aku. Perjalanan kekantor sampe rumah itu butuh waktu lama. Aduh aku khawatir nggak sempat lihat titisan aku"
"Titisan? Anak dibilang titisan"kesal alen dan tambah memukul pinggang suaminya
"Jangan dipukul dong sayang. Nanti aku mandul"rohit menangkap kedua tangan istrinya dan melingkarkan dipinggangnya
Alen mendengus"katanya mau kekantor. Kok masih disini"
Alis rohit bertaut"kamu tidak sedang mengusir aku kan?"tanya pria itu
Alen menggeleng"kan tadi bilangnya mau kekantor,ada urusan yang harus diurus"
Rohit mencubit hidung istrinya dan tersenyum"pintar banget nyonya rohit ini"
wajah alen memerah"kamu apaan sih"
"ya sudah,sini aku antar kamu kekamar"alen menurut
♡
__ADS_1
Sepergian suaminya,dan berselang beberapa menit alen begitu gelisah diatas tempat tidur. Bukan hanya gelisah yang dia rasakan saat ini,namun juga sakit disekitar perutnya. Dia mencoba untuk bangkit dari tidurnya dengan tangan kanan memegang perut bawahnya. Setelah bangkit,dia mencoba berjalan menuju pintu
"Tolong...ma sa--kit.."katanya dengan terbata bata. Tangan kiri yang tadinya menganggur kini sudah bertengger didaun pintu
"Ma.."dengan susah payah dia membuka pintu itu. Saat sudah diluar kamar,wanita itu tidak melihat penghuni rumah satupun. Dia begitu takut,namun dia juga kesakitan. Dia sudah merasakan sakit itu saat tadi pagi,tapi itu tidak sesakit ini
Lelah tidak ada yang melihatnya,diapun terduduk dilantai dengan kaki lurus. Dan sakit diperutnyapun juga telah menjadi jadi"sa--kit akh..."
"A-air?"kagetnya saat melihat air yang kental keluar dari area kewanitaannya. Dia terisak diatas lantai itu
Mariam yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri menantunya dengan ekspresi kaget"ALEN!!astaga sayang,kamu kenapa?"
Alen tidak dapat menjawab pertanyaan mama mertuanya. Dia sudah tidak tahan"sa-kit ma.."
Mariam mengangguk dan berdiri dari simpuannya. Alen makin terisak saat melihat mama mertuanya meninggalkannya dalam keadaan yang mengenaskan. Selang satu menit,mariam muncul bersama satpam,supir,serta bi sulastri"bawa menantu saya kedalam mobil"perintahnya pada mereka dan langsung dilaksanakan
Ketiga orang yang diperintah tadi mengangkat tubuh alen dengan panik"pelan-pelan dong. Menantu saya itu"tegur mariam kepada mereka
Tubuh alen kini sudah di dalam mobil bersama mariam dan supir yang akan mengantar mereka menuju rumah sakit"bi tolong beritahu rohit ya. Dan hubungi juga keluarga March"pintanya kepada bi sulastri. Wanita paruh baya itu langsung mengangguk mengiyakan perintah nyonya besar khandelwal
"Cepat pak. Menantu saya mau lahiran"dengan gerakan kilat pak supir langsung menancap pedal gas,menuju rumah sakit terdekat. Saat ini mariam tidak mau repot-repot membawa menantunya kerumah sakit terkenal,dia sudah ingin menangis saat melihat menantunya menangis kesakitan
"Kok sakitnya banget ya? Mama jadi nggak nahan air mata"sedihnya dengan menghapus air matanya. Hal itu membuat alen semakin menjadi-jadi
"Nyonya. Kita sudah sampai"suara pak supir itu mengagetkan mariam. Mau tidak mau dia harus menyudahi acara sedihnya itu. Dia turun dari mobil dan memanggil suster untuk menangani menantunya. Tiga suster dan seorang dokter wanita membawa brankar kecil menuju mobil sedan hitam itu. Tubuh alen dipindahkan kebrankar tersebut dan dibawa keruang persalinan dilantai bawah
Mariam menggigit jarinya,dia sudah mondar-mandir dipintu ruang persalinan seperti strika. Beberapa menit alen masuk keruangan itu,seorang suster keluar dan menghampirinya"maaf bu,pasien selalu menyebut suaminya. Apa bisa dihubungi beliau untuk menemani istrinya?"
Mariam menautkan jari-jarinya dan tersenyum kikuk"putra saya akan segera datang. Mungkin dua atau tiga menit lagi"suster itu mengangguk dan pamit masuk kedalam ruangan itu
"Tuh anak lama banget sih. nggak sayang keluarga apa?"runtuk mariam kesal
"Mam!dimana istri rohit? Apa dia mau lahiran? Bagimana titisan aku?"sederet pertanyaan muncul tiba-tiba di indera pendengaran mariam,membuat wanita berumur itu terlonjat kaget. Saat melihat sipelaku,dia mendapati wajah putranya yang dipenuhi oleh peluh
"Astaga rohit! Bisa nggak sih jangan ngagetin mama! Untung mama nggak punya riwayat jantung"omel mariam sembari mengelus dadanya
"Omelnya bentar aja mam. Istri saya mau bronjol"
"LAHIRAN ROHIT!BUKAN BRONJOL"teriak mariam frustasi
"Maaf bu,disini rumah sakit"tegur suster yang kebetulan lewat
"Mama nih,malu-maluin. Rohit masuk aja,rohit pergi"wajah mariam memerah padam. Yang benar saja,putranya sendiri mengatainya seperti itu (?)
__ADS_1
♡
Kesan pertama yang rohit bisa gambarkan saat melihat istri tercintanya adalah bahagia bercampur khawatir. Namun opsi kedua dia tidak ingin menunjukan kepada sang istri,pasalnya dia tidak pernah melihat seorang wanita melahirkan. Bahkan saat putra pertamanya dilahirkan dia tidak menemani mantan istrinya itu. Tapi kali ini dia ingin menemani istrinya tercintanya
"Rohit..."lirih alen saat pandangannya jatuh pada tubuh suaminya yang masih diambang pintu. Dia menatap suaminya sendu dengan wajah dipenuhi keringat
Rohit berjalan mendekat tepat dibrankar tempat istrinya berbaring. Lalu dia mengenggam tangan itu sesekali menciumnya"tenang sayang,ada aku disini. Jangan takut"kata rohit menenangkan sang istri
Alen mengangguk
Tak lama kemudian seorang dokter dan dua orang suster muncul dari balik gorden biru dihaluan kanan rohit berada"dok,istri saya! kenapa dokter baru muncul!"bentak rohit tajam
Dokter dan kedua suster itu meneguk ludah mereka dengan susah payah. Dengan kikuk,dokter wanita muda itu langsung mendekati alen"tarik napas bu. Pelan-pelan"intruksi dokter itu dan alen langsung mengikuti
Walau dalam keadaan sakit,tapi alen bisa melihat dengan jelas jika suaminya itu sedang menitihkan air mata. Alen begitu mati-matian memperjuangkan sibuah cinta mereka. dia mengenggam tangan kekar suaminya dengan erat,lalu mendorong napasnya. Hanya tiga kali dia melakukan itu,suara bayi menggema diruangan persalinan tersebut
Rohit membelalakan matanya lebar saat mendengar dan melihat bayi yang berada ditangan dokter itu. Tak sadar tubuhnya bergetar hebat,tadinya ruangan itu dingin tapi kini ruangan itu terasa panas
"Sa-yang. A-anak kita"kata rohit terbata-bata. Kesadarannya belum hilang sempurna saat tubuhnya tadi tiba-tiba bergetar hebat
Alen tersenyum dan mengangguk. Dia menatap wajah bayi itu dengan perasaan bahagia. Mungkin tidak ada bandingannya bahagia saat ini dari apapun
"Bayinya laki-laki. Kami akan membersihkan dulu,dan pasien akan dibawa keruang rawat. Permisi"kata dokter itu dan membawa bayi tersebut kebilik gorden yang tadi dia pakai
Alen sudah diruang rawat inap ditemani suami,dennis,dan keluarga besar mereka. Mereka sangat bahagia menyambut orang baru dikeluarga mereka. Tak jarang mereka memperebutkan untuk mengendong bayi alen dan rohit
Bahkan beberap waktu lalu tepatnya satu jam yang lalu,dennis menangis karena tidak kebagian mengendong adiknya. Bahkan ayahnya juga ikut-ikutan memperebutkan,dan itu membuat bocah tampan itu menangis sejadi-jadi. mariam mencoba menenagkan sang cucu pertama,dengan bujuk rayu ala mariam"kamu cium aja,tapi nggak boleh digendong"dan itu tangisnya langsung berhenti seketikan dan mengangguk semangat
alen hanya dapat tertawa saja saat melihat perdebatan kecil keluarganya saat memperebutkan bayinya. Dia sangat bersyukur mempunyai kehidupan seperti ini,dia tidak ingin meminta apa-apa selain keluarga lengkap dan bahagian. Dia berharap untuk kedepannya,suasana ini akan datang dan tidak akan sirna. Dia tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya ini dengan kata-kata saja. Mungkin dengan ekspresi juga pun tidak bisa mengambarkan kebahagiaannya
"Terima kasih. Terima kasih kau sudah melengkapkan hidupku. Adanya kalian aku sudah bahagia, sangat bahagian. Terima kasih,aku sayang kalian"ucap rohit tepat ditelinga alen dengan sebuah ciuman dijidatnya alen
Setitik air mata jatuh dipelupuk mata alen. Sejurus kemudian dia memeluk suaminya erat dan membalas ciuman itu tepat dijidat suaminya"tidak. Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu. Kamu sudah memberikan aku bahagia yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. Sungguh,aku-aku..."
"Ssttt,menangislah. Karena dihari berikutnya,tidak ada lagi tangis dalam dirimu dan keluarga kita. Tapi hanya tawa dan senyum yang akan kita lalui"
"Ayah aku ingin juga dipeluk sama ayah dan mama"suara putranya muncul dengan wajah harap. Alen menatap suaminya,takut jika suaminya akan memarahi bocah itu seperti hari-hari sebelumnya. Namun respon yang suaminya tunjukan membuat alen tersenyum lebar
"Tentu saja,anak ayah"dan mereka bertigapun berpelukan sebagaimana keluarga yang bahagia
...END...
...HAPPY ENDING...
__ADS_1
... New Story...