
Rohit mengerang dalam tidurnya saat mendengar gedoran pintu,dia ingin mengabaikan gedoran itu tetapi semakin lama gedoran itu semakin menggila. Dengan keterpaksaan dia bangun dan menuju pintu dengan sepoyangan
Mama dan putranya. Siapa lagi yang selalu menganggu ketenangannya. Rohit menyandarkan bandannya dipintu, menatap mama dan putranya dengan alis terangkat"ada apa mam?"
Mariam mendengus"ini jam berapa?"tanyanya sedikit membentak
"Emang jam kenapa,mam?"tanya balik rohit heran
"Bukan jamnya yang kenapa. Kamunya yang kenapa,ini sudah jam delapanan. Kamu ini,harusnya bangunin alen dan turun sarapan. Dia itu sedang hamil,dia butuh nutrisi yang banyak"omel mariam menggebu. Sedang dennis manggut manggut saja saat eyangnya sedang mengomeli ayahnya
Rohit menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk. Benar juga apa yang dikatakan mamanya"sebelum turun mandi,dan ganti pakaann kamu. Kayak nggak pernah aja jadi pengantin"cerocos mariam,setelah itu dia membawa dennis turun diloby hotel
Setelah mendengar cerocos serta omelan mamanya,rohit segera masuk kedalam kamar dan ingin membangunkan alen. Dia harus mengutamakan kehamilan istrinya
♡
Mariam menatap pengantin baru itu dengan tatapan mencemooh"kalian gapain aja. Ini mau siang,kalian baru turun"mulai lagi,rohit tidak mengubris mamanya. Dia menuntun alen untuk duduk dikursi
"Kok mama masih disini?"tanya rohit tanpa menatap mamanya,dia sibuk menyiapkan makanan untuk alen. Walau alen menolak,tapi rohit tidak mengindahkannya
"Kamu mengusir mama?"tanya maria kesal
"Nggak gitu juga mam"elak rohit dan mulai memakan makanannya. Alen tidak ikut dalam perdebatan antara suami dan mama mertuanya. Dia memakan makanannya seperti biasa
"Suapin alennya. Kalau makannya seperti itu,kapan dia akan kenyang. Kamu ini,jadi suami tidak siaga"cerocos mariam lagi
"Mama ini kenapa sih. Rohit bisa budeg dengarin omelan mama terus"rohit mengacak rambutnya kesal
__ADS_1
"Mama mengomel ini juga kebaikan anak kamu. Dipikiran kamu hanya ************ alen saja tanpa memperhatikan bayi yang dikandungannya. Ok,saat ini juga mama diam. Mama tidak akan ikut campur urusan kalian. Terserah kamu"mariam berdiri dan pergi meninggalkan rohit dan alen dengan keadaan marah. Dia benar-benar marah saat ini,dia hanya mengkhawatirkan bayi dikandungan alen serta alen juga
Alen menatap punggung mama mertuanya dengan bersalah. Semua ini karena dirinya,jika dia tidak hamil maka hubungan mereka masih seperti biasa. Tapi ini..."kamu jangan pikirkan,ini bukan salahmu. Ini kesalahanku. Ayo makan dan istrahat,kasihan bayinya"kata rohit dan menyapi alen
Dalam hati rohit,dia sudah menangis. Baru kali ini dia menyakiti perasaan mamanya. Harusnya dia bersyukur karena mamanya mengkhawatirkan bayinya. Harusnya dia senang,mamanya selalu mengingatkannya atas kelalayan mengurus alen
♡
Saat pulangpun mariam tetap mendiamkan rohit,dia membawa dennis menonton diruang keluarga. Ardi menepuk bahu putranya dan berlalu menyusul istrinya
"Kak,kasihan mama"ucap savana lirih
Rohit menghela napas"kakak sangat bersalah. Kakak harusnya bersyukur,kakak...."rohit menunduk
"ini belum terlambat. Minta maaflah pada mama. Aku tahu mama hanya merasa tidak dihargai"tutur alen lembut dan mengusap punggung tangan suaminya
Savana mengangguk membenarkan ucapan alen barusan"iya kak. Aku merasa mama hanya ingin kakak menjadi suami bertanggung jawab. Menjaga istri serta anak-anaknya kelak. Tidak meninggalkan keluarganya dalam kedaan apapun,hanya itu yang mama inginkan"kata savana. Namun perkataannya mampu menohok relung hati alen terdalam'tidak meninggalkan keluarganya dalam keadaan apapun'. Kata-kata savana masih tergiang jelas dikepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang,harus membenarkan atau diam saja. Tapi alen merasa,savana sengaja berkata demikian. Tetapi tetap saja,perkataan adik iparnya mampu menggali kenangan pahit sembilan tahun lalu
Setelah sudah di bawah. Dia mendengar suara berisik diruang keluarga. Rohit mengurungkan niatnya untuk mengambil makanan,rasa penasarannya lebih besar saat ini. Saat diruang keluarga,dia dapat melihat penyebab suara berisik tadi
Diruangan itu,rohit melihat sepasang suami-istri dan seorang pemuda. Tentu rohit mengenal mereka,siapa lagi Mr. March dan istrinya serta putra mereka,Gabriel March
"Rohit? Kamu tidak gabung? Kok berdiri saja disitu?"tegur ardi kepada putranya
March menatap rohit lama,pria itu tidak melihat seseorang bersama rohit. Sedang rohit yang ditatap lama,dia menautkan alisnya heran"ada apa?"
March menunduk
__ADS_1
"istrimu mana?"tanya sera
Rohit tambah heran"kenapa dengan istriku?"
Ardi mengacungkan jarinya,jika rohit harus bersikap tenang"tidak,kami hanya ingin memberikan kado atas pernikahannya"jawab sera semangat
Rohit mengangguk"oh,sini nanti rohit memberikannya"
Sera menggeleng"tidak nak rohit. Kami hanya ingin memberikannya langsung kado ini. Kan yang punya kado dia bukan kamu"sera memberi alasanya yang sedikit masuk akal
Rohit mengangguk ragu"rohit akan membangunkan alen. Tunggu sebentar"lantas rohit meninggalkan mereka dan melangkah memasuki kamar mereka. Membangunkan alen
"Sayang. Bangun"rohit menguncangkan bahu alen dengan lembut. Takut jika dia menyakiti istrinya
Alen mengerang dan membenarkan posisi tidurnya. Tidak mengindahkan rohit yang sedang membangunkannya,bahkan dia menarik rohit agar tidur bersamanya. Rohit menggelengkan kepanya,jika bukan permintaan dari Mrs. March. dia akan senang hati bergabung dalam dekapan hangat istrinya. Tetapi ini bukan saatnya,masih banyak yang akan dia selesaikan. Terutama aksi marah mamanya
"Sayang,bangun dong. Ada kado buat kamu"pelan. Rohit membisikan kata itu ditelinga istrinya
Sedangkan alen. Mendengar kata kado langsung membuka matanya. Tadi saat rohit meninggalkan kamar,dia tidak benar-benar tidur. Kata-kata savana masih tengiang,dia tidak bisa menutup matanya. Jika dia menutup matanya,wajah mendiang ibunya akan selalu terlintas
Tapi dia akan melupankannya sejenak. Tidak ingin membuat suaminya khawatir. Dan juga tidak ingin menambah beban untuk suaminya,cukup pria itu bermasalah dengan mamanya. Dia tidak ingin menambah"kado? Mana?"telapak tangan alen mengadah didepan wajah rohit
Pria itu menggaruk kepalanya yang alen yakini tidak gatal"em...kadonya ada dibawah. Kita turun aja yah?"tidak perlu bermacam kata rayu untuk membujuk alen,wanita itu langsung mengangguk antusias
Alen memeluk tangan rohit lembut,senyum dari bibirnya tidak pernah luntur sepanjang penjalanan menuju ruang keluarga
Sedangkan march,sudah memasang ketegangan tinggi. Dia akan melihat wajah putrinya. Putri yang selama ini yang dia tinggalkan hanya demi memprioritaskan keluarga yang dia cintai
__ADS_1
Tbc
Maaf nggak dapat feel. Maafffff banget!!!