HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 12. TAWARAN KAKEK


__ADS_3

Mishell mendekati Kalila, lalu dia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mencium puncak kepala sang istri.


Kalila yang mulai hafal dengan aroma tubuh Mishell, mengibaskan tangannya, berharap Mishell akan menjauh.


Mishell mengerang, tangan Kalila mengenai luka yang ada di lengannya. Dari sela perban darah pun merembes keluar.


Dengan menahan rasa sakit, Mishell pun duduk di tepi ranjang sembari membuka perbannya dan mengambil tissue untuk membersihkan darah yang masih keluar.


Kalila yang tadi sempat mendengar erangan Mishell menjalankan kursi rodanya.


Sebelah tangannya, mencari-cari keberadaan Mishell.


Mishell diam, sambil membersihkan luka sesekali dia menatap Kalila. Dia sengaja ingin tahu apa yang akan Kalila lakukan jika tidak menemukan dirinya.


Kalila panik, dia menjalankan kursi roda kesana kemari hingga membentur pintu. Kini giliran Kalila yang merasa kesakitan.


Mishell masih saja diam, hal itu membuat Kalila makin panik. Kalila tidak mendengar suara pintu terbuka, jadi yang pasti Mishell masih ada di dalam kamar.


Kalila diam sejenak, lalu dia menjalankan kembali kursi rodanya dan saat ini mengarah ke Mishell.


Dengan menggunakan insting dan indera penciumannya, Kalila berhasil menemukan Mishell.


Kalila menjulurkan tangan dan tepat mengenai luka Mishell. Mishell kembali mengerang menahan sakit, tapi dia membiarkan saja Kalila tetap memegang luka yang ada di lengannya.


Merasa ada yang aneh dan mencium aroma darah, Kalila pun melepaskan pegangannya. Dia menangis histeris sambil mengelapkan bekas darah yang ada di tangan ke bajunya.


Mishell yang melihat hal itu menjadi merasa bersalah, lalu dia bangkit dan berusaha menenangkan Kalila.


"Tenang, tenang Sayang. Ini cuma darah dari lukaku. Kamu jangan menangis, maaf jika aku membuatmu takut. Peganglah! cuma luka akibat terkena kaca."


Kalila masih menangis dan Mishell pun memeluk Kalila sambil berkata, "Apa yang membuatmu takut, bicaralah. Kamu takut darah? atau kamu takut karena aku terluka?"


Kalila pun mulai tenang, lalu dia meraba luka Mishell hingga membuat Mishell meringis kesakitan.


"Nggak apa-apa Sayang, kamu jangan takut, sudah diobati dokter, beberapa hari pasti sembuh. Ayo, sekarang aku bantu kamu ganti pakaian, bajumu terkena darahku."


Kalila meremas bajunya, dia menunjukkan rasa keberatan jika Mishell yang mengganti pakaiannya.


"Kenapa Sayang? kamu keberatan? Aku suamimu, aku janji tidak akan menyakitimu."


Mishell pun memindahkan tubuh Kalila dari kursi roda ke tempat tidur dan setelah itu dia mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.


Dengan menutupkan selimut ke tubuh Kalila, Mishell pun membuka satu persatu pakaian sang istri dan menggantinya dengan pakaian tidur.


Meski Kalila sudah sah menjadi milik Mishell, tapi dia tidak akan memaksa. Mishell akan menumbuhkan rasa cinta hingga Kalila siap dan ikhlas menerimanya sebagai suami.

__ADS_1


Setelah selesai Mishell membuka selimut tersebut, lalu dia mendaratkan ciuman sambil berkata, "Sudah selesai Sayang, sekarang tidurlah. Aku akan di sini menemanimu."


Mishell merebahkan tubuhnya di sisi Kalila, dia mendekap pinggang mungil itu untuk memberinya kenyamanan serta rasa aman.


Kalila tidak lagi berontak, tapi tubuhnya masih menegang berada dalam dekapan Mishell.


Harum tubuh Mishell membuat Kalila nyaman dan akhirnya diapun tertidur.


Melihat Kalila sudah tidur, Mishell pun turun perlahan dan keluar dari kamar. Dia ingin memastikan apakah sang ibu sudah datang atau belum.


Ternyata ibunya baru saja tiba, dan langsung meminta Mishell untuk mengantar beliau bertemu Anggun.


Mishell pun meminta ibu untuk menginap karena hari sudah malam, besok pagi mereka baru akan membahas masalah Anggun.


Lagipula Mishell takut meninggalkan Kalila sendirian di kamar. Karena Kalila masih proses penyembuhan dari traumanya.


Mishell pun kembali ke kamar, dia bersyukur Kalila masih terlelap. Mishell pun kembali tidur di sisi Kalila.


Menjelang pagi, Kalila terbangun dan dia tersentak kaget saat menyadari jika saat ini malah dirinya yang memeluk Mishell.


Mishell sebenarnya sudah terbangun, tapi dia hanya berpura-pura tidur. Mishell menatap lekat wajah sang istri sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Malam ini Mishell berhasil membuat Kalila lebih percaya. Dan selanjutnya, dia akan membuat Kalila jatuh cinta.


Kalila menyangka Mishell masih tidur, lalu perlahan diapun membelai wajah tampan itu.


Kalila buru-buru menurunkan tangan dan membuang wajahnya ke arah lain, hingga tidak terlihat oleh Mishell.


Mishell makin mempererat pelukannya, lalu dia berkata, di telinga Kalila, "Aku mau kita selalu seperti ini."


Kalila tersenyum, entah mengapa dia bisa percaya secepat itu dengan Mishell dan merasakan kenyamanan hingga rasa takutnya berkurang.


"Aku mau ibadah subuh dulu ya! Apakah kamu mau ikut? Nanti aku akan mengajarimu, ibadah sambil duduk di atas kursi roda."


Kalila pun mengangguk pelan, lalu Mishell menggendong tubuh Kalila ke kamar mandi.


Setelah membantu Kalila, kembali ke tempat tidur, Mishell pun bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, siap untuk melaksanakan ibadah subuh.


Vita mengetuk pintu kamar Mishell, dia memberitahu jika Kakek meminta mereka untuk sarapan bareng.


Mishell pun membawa Kalila turun dan di sana ibu serta Anggun juga sudah menunggu.


"Kamu sarapan saja Shell, biar Kalila Vita yang urus," pinta Kakek.


"Nggak Kek, biar Mishell saja. Mishell bisa makan sambil menyuapi Kalila."

__ADS_1


"Oh, syukurlah jika itu tidak merepotkan kamu."


Kakek pun mempersilakan ibu dan Anggun untuk memulai sarapan. Anggun sejak tadi memperhatikan Kalila, dia makin penasaran, kenapa sang Kakak bersama wanita cacat yang sama sekali tidak dia kenal.


Mishell mengambil makanan untuk Kalila, lalu dengan sabar dia mulai menyuapinya.


Kakek sangat senang, melihat kemajuan Kalila. Kemauan Kalila untuk makan, menandakan jika sudah timbul dalam dirinya keinginan untuk sembuh dan dia mulai percaya dengan orang lain.


Setelah selesai menyuapi Kalila, Mishell baru menikmati sarapannya.


"Oh ya Shell, saat ini pabrik yang terbakar sedang dalam proses pembangunan, kakek harap setelah rampung, kamu kembali ke sana. Kamu handle perusahaan dan sambil kita cari tahu siapa sebenarnya dalang dari semua musibah."


"Apa Mishell mampu Kek, Mishell hanya lulusan SMA dan buta dengan bisnis."


"Belajar Shell! Asal ada kemauan pasti bisa. Sekarang, kamu fokus dulu ke Kalila, nanti kalau pabrik sudah selesai di bangun, akan Kakek kabari."


"Iya Kek."


"Oh ya Bu, sebaiknya ibu dan Anggun tinggal di sini saja ya, biar lebih aman. Anggun juga bisa di antar jemput ke sekolah."


"Terimakasih Kek atas tawarannya. Tapi nanti rumah dan kebun nggak ada yang merawat," jawab ibu.


"Di kontrakin saja rumahnya Bu, kita sudah tua patut beristirahat. Bukan begitu Shell?"


"Iya Kek."


"Benar kata Kakek Bu? biar Mishell saja yang bekerja."


"Nanti lah Shell, ibu pikirkan lagi."


"Oh ya, Kakek permisi dulu ya. Kalian enakin saja tinggal di sini. Ajak mereka untuk berkeliling Shell, biar Kalila di jaga Vita."


"Baik Kek!"


Setelah Kakek pergi meninggalkan ruang makan, Mishell pun berkata, "Tawaran kakek tolong pertimbangkan ya Bu. Dengan tinggal di sini Mishell jadi bisa fokus menjaga ibu, Anggun dan Kalila."


"Kamu Nggun, hari ini tidak usah sekolah dulu! besok Kakak akan atur kepindahanmu. Kakak nggak mau, kamu makin terjerumus dengan pergaulan bebas."


"Apa harus sampai seperti itu Shell?"


"Iya Bu."


"Kita nggak bisa membiarkan Anggun terus berteman dengan mereka Bu."


Anggun cuma bisa diam mendengar perkataan Mishell, walau bagaimanapun dia memang bersalah karena telah melanggar larangan dari Mishell dan juga ibu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2