
"Non kita sudah sampai di rumah keluarga almarhum. Apa Non mau memakai kursi roda? biar Saya turunkan," ucap Pak sopir.
"Tidak usah Pak, saya biar dipapah Kak Mishell saja."
"Bagaimana Kak, apa Kak Mishell nggak lelah menopang aku terus?"
"Ngga Sayang, kalau itu memang nyaman buatmu, aku dengan senang hati akan selalu menjadi penopangmu."
"Terimakasih Kak, ayo kita turun!"
"Nampaknya, para tamu sudah mulai berdatangan Sayang. Tapi aku lihat di sana hanya ada dua wanita paruh baya yang sedang menyalami para tamu."
"Itu mungkin kedua ibu muda Kak."
"Oh, ayo Sayang pegang tanganku, kita samperin mereka."
Marshell pun memapah Kalila, lalu tanpa malu dan ragu dia mengajak Kalila untuk menemui kedua ibu muda Marshell.
Sepanjang jalan terdengar ocehan orang-orang yang mengenal Kalila, mereka terkejut saat melihat Kalila dipapah orang yang wajahnya sangat mirip dengan almarhum Marshell.
Begitu pula dengan kedua ibu muda, mereka syock seperti melihat Marshell hidup kembali.
"Ini tidak mungkin Kak! Marshell sudah mati! Dia tidak mungkin datang kesini!" ucap ibu muda kedua.
"Iya Dek, dia bukan Marshell, lihatlah rambut dan kulitnya juga berbeda. Tapi aneh saja, masa iya ada yang begitu mirip dengan Marshell dan datang pula bersama gadis cacat itu," ucap Ibu muda pertama.
"Atau ini akal-akalan kakek tua itu, bisa saja kan, dia meminta seseorang untuk operasi dengan menjiplak wajah Marshell, bukankah kakek itu banyak uang. Jadi tidak ada yang tidak mungkin untuk dia lakukan. Sekarang lagi zaman canggih, wajah kita bisa dioperasi sesuai keinginan kita."
"Iya kamu benar, kita jangan takut. Dia bukan Marshell," bisik para ibu muda.
Mishell yang mendengar celoteh orang hanya menanggapinya dengan tersenyum, sementara Kalila terkejut, selama ini tidak ada yang pernah mengatakan tentang wajah Mishell yang mirip Marshell seperti yang para tamu katakan tadi.
Kalila berhenti sejenak, selain melepas lelah, diapun penasaran ingin menanyakan apa yang dia dengar tadi.
"Stop Kak, aku lelah!"
__ADS_1
"Kamu mau aku gendong atau pakai kursi roda?"
Kalila menggeleng, lalu diapun mengajukan pertanyaan, "Kak, apa benar yang barusan aku dengar?"
"Apa sayang, apakah tentang wajahku?"
"Apa kamu mirip dengan Almarhum Kak Marshell? Kenapa selama ini tidak ada yang mengatakan hal itu kepadaku, termasuk Kakek. Apa yang coba kalian sembunyikan dariku?"
"Jangan salah faham Sayang, Kakek hanya tidak ingin kamu sedih, makanya kakek melarang semua orang agar jangan ada yang mengatakan hal itu, sampai semangat untuk sembuh mu kembali."
"Nah, buktinya sekarang beliau mengizinkan aku untuk menampakkan diri dihadapan keluarga Marshell."
"Lagipula, banyak kok perbedaan kami, dari potongan rambut, warna kulit serta postur tubuh dan tahi lalat di dagu. Jadi, aku hanya kebetulan orang yang mirip tapi bukan Marshell. Aku Mishell suamimu, bukan mantan tunanganmu," jawab Mishell dengan tegas.
"Maaf jika kamu menganggap kami telah berbohong. Kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk membantumu sembuh, Sayang."
Akhirnya Kalila pun mengerti dan mengabaikan ocehan para tamu, lalu diapun meminta Mishell untuk memapahnya lagi.
Mishell pun melakukan yang di minta Kalila dan mereka kembali berjalan menghampiri kedua ibu muda.
"Nampaknya kaki kamu sudah ada kemajuan ya, bisa lah nanti ikut ke makam Marshell," ucap Ibu muda ke-2.
"Tapi apa ini, kenapa pria ini berpenampilan seperti Marshell? kamu jangan mudah dibohongi, Marshell sudah meninggal jadi tidak mungkin hidup kembali."
"Untuk apa kakekmu membuat orang lain agar bisa menjadi Marshell? Oh ya, mungkin beliau berharap agar kamu segera sembuh karena Marshell hidup dalam tubuh pemuda ini."
"Tolong para ibu, sopanlah sedikit dalam berbicara. Mau saya sama atau tidak dengan Marshell itu bukan urusan kalian."
"Ini tubuh saya sendiri dan kebetulan Tuhan menitipkan wajah yang hampir sama dengan Marshell. Itu suatu anugerah. Jadi tolong jangan sangkut pautkan dengan Kakek."
"Eh, iyakah! Apa mungkin di dunia ini ada orang yang wajah serta postur tubuhnya hampir sama persis kecuali kembar. Sementara Marshell tidak memiliki saudara kembar."
"Ini keajaiban ibu. Dan aku berterima kasih telah di pertemukan dengan Kak Mishell."
"Oh ya ibu, salam kenal, kita sudah banyak berbincang tapi belum saling kenal," ucap Mishell sembari mengulurkan tangan.
__ADS_1
Kedua ibu itupun masih saja belum percaya dengan apa yang mereka lihat, tapi mereka pun menyambut uluran tangan Mishell dan memperkenalkan diri.
"Wajah sama tapi dalam tutur kata kamu jauh berbeda dari Marshell. Marshell tidak pernah selembut ini, apalagi dengan kami," ucap ibu kedua.
"Kan aku sudah bilang ibu, kebetulan mirip."
"Oh ya ibu, bolehkah saya bertemu dengan Papa dan Mama? Bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Masuklah! kondisi mereka sangat memprihatinkan. Makanya kamu sering-seringlah kesini, jenguk mereka. Meski kamu batal menjadi menantu mereka, setidaknya mereka telah menganggap kamu anak."
"Biaya perobatan sangat mahal, sementara perusahaan sedang oleng, mana mungkin kami bisa melanjutkan terapi."
"Ya, pasrahlah! kecuali ada orang yang berbaik hati untuk membantu, setidaknya membangkitkan perusahaan lagi, agar kamu semua bisa sehat dan lancar lagi usahanya."
"Kenapa bisa begitu Bu? Dulu saat Kak Marshell yang pegang, perusahaan ini maju dan bahkan banyak anak cabang yang telah di bukanya."
"Ntahlah, kami cuma pasrah," ucap Ibu muda kedua, dengan pura-pura sedih.
Kalila pun merasa ibu, dia tidak bisa membiarkan perusahaan almarhumah bangkrut begitu saja. Rencana Kalila setelah pulang dari rumah ini, akan membicarakan hal itu dengan kakek.
"Oh ya silakan masuk, Kakak pertama dan papa pasti senang melihat kamu datang."
"Ayo Kak kita masuk," ajak Kalila.
Setelah Kalila masuk, ibu kedua pun tersenyum, lalu berkata, "Aktingku sudah bagus apa belum Kak, mudah-mudahan gadis cacat itu meminta kakeknya untuk membantu perusahaan kita."
"Oh ya, kemana Reza? jangan sampai dia membuat masalah karena pemuda itu bukan Marshell. Aku juga akan berbicara dengan putraku, mereka jangan bertingkah aneh sebelum kita mendapatkan bantuan itu. Kita semua akan terancam jika memang perusahaan bangkrut."
"Baiklah, ayo kita cari mereka."
Keduanya pun mencari putranya masing-masing, untuk menjelaskan agar bisa bersikap manis terhadap Kalila dan Mishell.
Pelayan menunjukkan kamar papa dan Mama Marshell, lalu Mishell pun masuk bersama Kalila.
Di sana tampak pria tua sedang duduk di kursi roda menghadap keluar jendela dan seorang ibu tergeletak di atas tempat tidur.
__ADS_1
Bersambung.....