
Meski kesusahan tapi Kalila berhasil menyantap habis sarapannya. Mishell yang melihat hal itupun merasa senang, makin hari, makin banyak yang berubah pada diri Kalila.
Kakek datang menjenguk dan beliau mendengar berita penyerangan secara tak sengaja, saat beliau melewati para pengunjung yang sedang ngobrol dengan keluarga pasien di ruangan sebelah.
Karena khawatir beliau menarik kedua pengawal dan meminta penjelasan dari mereka.
Awalnya pengawal ingin menutupi sesuai perintah Mishell dan Kalila, tapi karena desakan sang Kakek akhirnya mereka pun terpaksa menceritakan semuanya.
Kakek marah karena keteledoran keduanya, tapi karena mereka telah minta maaf dan menceritakan kejadian sebenarnya, beliau pun memaafkan.
Apabila mereka melakukan kesalahan lagi, beliau tidak akan memberi ampun dan tidak akan segan untuk memecat keduanya.
Kakek bergegas menuju ruangan, beliau sudah tidak sabar ingin melihat kondisi kedua cucunya.
Mishell dan Kalila terkejut, saat tiba-tiba kakek masuk, biasanya jika kakek akan datang, beliau selalu memberi kabar terlebih dahulu.
"Eh, Kakek!" sapa Mishell.
"Kakek datang dengan siapa Kak?"
"Sendirian."
"Bagaimana keadaan kalian? Kenapa tidak ada yang memberitahu kakek, jika ada penyusup yang menyerang kalian?"
"Lho, Kakek tahu darimana?" tanya Kalila.
"Tidak ada yang bisa kalian sembunyikan dariku. Perasaan ku sejak pulang kemaren tidak enak, makanya pagi-pagi aku meminta sopir untuk mengantarku ke sini."
"Maaf Kek, bukan maksud untuk membunyikan semuanya dari kakek. Kami hanya tidak mau Kakek dan Ibu khawatir. Mudah-mudahan kami bisa mengatasi semuanya," jawab Mishell.
"Ini tidak bisa dibiarkan, mereka berarti sudah tahu tentang pernikahan kalian dan kemajuan Kalila, makanya hal ini terjadi lagi."
"Iya Kek, itu juga dugaan kami."
"Sebaiknya kamu dirawat di rumah saja, kakek akan menghubungi dokter."
"Sudah Kek, Mishell sudah bicarakan semuanya dengan dokter. Setelah pemeriksaan pagi ini, kita di izinkan pulang dan perawatan akan dilakukan di rumah saja."
"Syukurlah kalau begitu. Kakek tidak akan tenang meninggalkan kalian berdua di sini. Jam berapa dokter masuk?"
"Paling sekitar jam 9 Kek."
"Kakek akan hubungi Hans dulu untuk berjaga-jaga, bisa saja musuh mencintai kita di jalanan."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Kakek pun menghubungi pengawal pribadinya agar segera datang ke rumah sakit.
Tepat pukul 9 pagi, dokter masuk ke ruangan, beliau memeriksa luka-luka Mishell lalu memberikan resep obat, dua hari ke depan beliau berjanji akan datang ke rumah untuk membuka perban.
Setelah di rasa aman dan resep obat juga sudah ditebus, Mishell, Kalila, Kakek, Hans dan kedua pengawal meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan mereka fokus dan waspada karena musuh yang tidak dikenal bisa saja kembali menyerang.
Di pertengahan perjalanan, tiba-tiba ban mobil mereka pecah, hal ini terpaksa membuat semuanya harus turun.
Hans membantu Mishell dan Kalila untuk turun, sedangkan kedua pengawal mencoba mengganti ban bocor dengan ban serep yang ada.
Saat semua asyik memperhatikan kedua pengawal yang bekerja mengganti ban, seorang pengendara sepeda motor melemparkan sebuah benda ke arah mereka.
Mishell yang melihat hal itu dengan sigap menarik kursi roda Kalila menjauh, sambil berteriak meminta Hans untuk melindungi Kakek.
Hans pun melompat mendorong tubuh Kakek hingga mereka jumpalitan ke tanah.
Sementara Mishell sendiri tertimpa kursi roda. Tapi dia berhasil menarik tubuh Kalila keluar dan masuk ke dalam dekapannya. Mishell melindungi Kalila dari percikan alat peledak tersebut.
Kembali, Mishell terluka akibat menyelamatkan Kalila dan Hans juga terluka karena melindungi Kakek. Kalila sendiri histeris karena suara ledakan tersebut.
Mishell berusaha menenangkan Kalila dan Kakek sendiri dadanya sakit, mungkin karena terkejut jadi jantungnya kembali mengulah.
Hans, langsung menghubungi para pengawal lain agar segera datang dan meminta dokter serta perawat datang ke rumah.
Kedua pengawal juga terluka, serpihan dari alat peledak kecil berhasil mengenai Kaki mereka yang sedang fokus mengganti ban mobil yang bocor.
Setelah menolong kakek, membukakan sebagian kancing bajunya agar bisa bernafas dengan lega, Hans pun mengoyak bajunya sendiri untuk membalut luka kaki kedua pengawal.
Dia berusaha menghambat keluarnya darah sebelum pertolongan tiba.
Mishell masih menenangkan Kalila yang histeris dan menangis. Setelah Kalila tenang, diapun dengan susah payah menggendongnya, membawa ke dekat Kakek.
"Tenang Sayang, jangan takut! Ada aku di sini! Ini kakek juga selamat," ucap Mishell sambil mencium puncak kepala Kalila.
Setelah Kalila tenang, Mishell menanyakan keadaan Kakek dan Hans mengatakan jika Kakek butuh pertolongan segera. Hans takut, saluran pernapasan Kakek makin terganggu.
"Hans, kamu antar saja Kakek dan yang lain ke rumah sakit, biar aku di sini menunggu pengawal lain datang atau mencari bantuan dari pengendara yang lewat."
"Tapi Tuan, apa tidak sebaiknya kita langsung pulang saja, biar dokter datang dan melakukan perawatan di rumah?" tanya Hans.
"Apa tidak beresiko Hans, apakah kakek tidak membutuhkan peralatan untuk pemeriksaan jantung?"
__ADS_1
"Kita pulang saja, dokter sudah tahu bagaimana cara menangani ku saat seperti ini," pinta Kakek.
"Baiklah kalau begitu Kek, Kakek tunggu di sini dulu ya, aku akan membantu kedua pengawal kita naik ke mobil."
"Sayang, kamu tunggu di sini dengan Kakek ya, aku mau bantu Hans."
"Iya Kak."
Mishell membantu memapah satu pengawal dan Hans memapah satunya lagi.
Setelah keduanya naik, kini giliran membantu kakek untuk duduk di depan.
"Kalian hati-hati ya Shell," ucap Kakek.
"Iya Kek, pengawal pasti sebentar lagi juga datang."
"Hans, hati-hati ya. Aku titip Kakek!"
"Siap Tuan!"
Setelah mengatakan hal itu, Hans pun melajukan mobil menuju rumah, sedangkan Mishell dan Kalila menunggu pengawal tiba di dekat mobil yang bannya belum terpasang sempurna.
Jika mereka terlalu lama sampai, Mishell akan meminta bantuan pengendara lain yang melintas di sana.
Mishell tetap berhati-hati, dia takut penyerang akan datang lagi. Untung saja ada teman Mishell yang lewat dan melihatnya di pinggir jalan.
"Shell!" panggil Dani.
"Hei Dan, tolong bantu kami," pinta Mishell.
"Memangnya kamu kenapa, lihatlah luka-lukamu mengeluarkan darah."
"Biasalah Dan, bisa tolong antarkan kami pulang Dan?"
"Oh tentu. Siapa gadis ini Shell?"
"Dia istriku Dan, saat ini sedang sakit."
"Oh, ya sudah ayo naik. Antar ke rumah ibu kamu 'kan?"
"Ke rumah Kakek Kalila Dan. Untuk sementara kami tinggal di sana!"
"Baiklah Shell, kamu beritahu saja alamatnya. Ayo aku bantu kalian naik!"
__ADS_1
"Terimakasih ya Dan."
Dani membalas ucapan Mishell dengan kode tangannya. Dan setelah membantu Mishell serta Kalila naik, Dani pun melajukan mobilnya menuju alamat yang telah Mishell beritahukan.