HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 50. MENGUNGKAP KEBENARAN


__ADS_3

"Terimakasih Nak," ucap Kakek sembari memeluk Mishell.


"Kamu sumber kebahagiaan keluargaku. Berkat kehadiranmu, bintang kehidupan ku kembali bersinar. Kalila sembuh dan kini akan menjadi seorang ibu. Seandainya orangtuanya masih hidup, mereka pasti akan mengatakan yang sama sepertiku."


"Kakek terlalu memuji, semua sudah kehendak Tuhan Kek. Justru Mishell yang beruntung, ternyata dibalik musibah ada berkah. Hukuman yang Kakek berikan telah mengubah takdirku, aku yang hanya karyawan bawah bisa menjadi pimpinan dan sekarang aku mendapatkan berkah paling berharga, aku akan menjadi seorang ayah."


Ibu memeluk Kalila dan Mishell, beliau sangat bahagia mendengar kabar itu. Sekarang dirinya makin mantap ingin memberitahu latar belakang Mishell yang sebenarnya.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu Nak, kami akan keluar sambil menunggu kedatangan Anggun. Pak sopir saat ini sedang menjemputnya," ucap Kakek.


"Iya Sayang, kamu tidur dulu ya, aku akan kebruangan dokter untuk mengambil obat yang akan kita bawa pulang."


"Pergilah Nak, biar ibu yang menjaga Kalila."


"Iya Kak, biar kita bisa cepat pulang. Bau rumah sakit membuatku bertambah mual. Aku mau tidur di kamar kita saja."


"Baiklah Sayang, aku pergi dulu ya. Bu titip Kalila ya!"


Setelah mendapatkan anggukan dari Bu Anis, Mishell pun bergegas keluar dan Kakek duduk di luar sembari menghubungi seseorang.


Kakek meminta para pembantu untuk menyiapkan acara syukuran. Beliau ingin mengundang tetangga dan juga anak yatim piatu serta pakir miskin sebagai rasa syukurnya akan kabar gembira tersebut.


Setelah itu Kakek pun meminta Hans untuk mengantarkan sumbangan dana ke beberapa panti asuhan yang terdekat dari tempat kediamannya.


Mishell sudah kembali dari ruangan dokter dan dokter telah mengizinkan Kalila untuk pulang.


Seorang perawatpun datang membawa kursi roda, sesuai permintaan Mishell. Dia tidak ingin Kalila yang masih lemah berjalan hingga ke parkiran.


Setelah Anggun dan Pak sopir tiba, Mishell dan Kalila pun bersiap untuk pulang.


Kali ini Anggun meminta, dialah yang akan mendorong kursi roda hingga ke parkiran. Dia sangat senang saat mendengar akan segera mendapatkan keponakan.


Dengan wajah ceria semua kembali ke rumah dan ternyata di rumah sudah berkumpul para tetangga dan para anak yatim piatu sesuai permintaan Kakek.


Kalila terharu, dia mengelus rambut anak-anak tersebut saat mereka mengucapkan selamat atas kehamilannya.


Begitu pula dengan para tetangga, mereka juga ikut memberikan ucapan selamat dan mendoakan agar rumah tangga Kalila dan Mishell selalu dilimpahi keberkahan.

__ADS_1


Setelah para tamu pulang, Mishell pun mengajak Kalila ke kamar. Dia tidak ingin melihat Kalila kelelahan.


Anggun membantu para pelayan membereskan ruangan, sementara ibu masuk ke dalam kamar. Beliau mempersiapkan barang-barang yang malam ini akan ditunjukkan kepada Mishell.


Mishell tak hentinya memeluk Kalila, dan dia tiap sebentar menanyakan apa yang Kalila inginkan.


Dia berharap bisa menjadi calon ayah siaga saat Kalila mengidamkan sesuatu.


Keduanya pun beristirahat sambil menunggu datangnya senja.


Mishell membantu Kalila menyisir rambutnya sebelum mereka turun untuk makan malam.


Di bawah, Kakek dan yang lain sedang menunggu kedatangan mereka.


Vita dan pelayan lain menyiapkan makanan dan dia memasak menu khusus untuk Kalila sesuai permintaan ibu. Ibu menginginkan Kalila dan bayinya sehat serta mendapatkan gizi yang cukup.


Mereka pun menikmati makan malam dan Kalila terlihat bersemangat dengan menu hidangan yang sediakan untuknya.


Kalila makan lebih banyak ketimbang biasanya, hingga membuat Mishell terperangah.


Mishell takut perut Kalila akan sakit, lalu dia menarik makanan dari hadapan Kalila.


Ibu menjelaskan kepada Mishell jika wanita yang sedang hamil perasaannya sangat sensitif jadi Mishell harus berhati-hati dalam bersikap.


Kemudian Mishell menyusul Kalila, dia ingin meminta maaf atas apa yang dia lakukan tadi.


Kalila menutup telinganya dengan headset dan dia menutup mata, seakan tidak ingin melihat serta mendengar Mishell berbicara.


Mishell mendesah dan dia memberi kesempatan Kalila untuk menyendiri. Mishell turun lagi ke bawah dan di sana dia hanya melihat ibu yang memang sedang menunggunya.


Di tangan ibu ada kotak yang membuat Mishell penasaran. Lalu diapun mendekat dan bertanya, "Itu kotak apa Bu? indah sekali ukirannya."


"Istri kamu bagaimana Le, apa masih ngambek?"


"Iya Bu, ternyata ibu benar. Mulai sekarang aku harus bersikap lebih hati-hati untuk menjaga perasaan istriku."


"Ibu ingin berbicara penting dengan Kalian, apakah ibu boleh masuk ke kamar kalian?"

__ADS_1


"Iya silakan Bu. Mana tahu dengan kedatangan ibu, Kalila tidak ngambek lagi kepada Mishell. Ayo Bu kita ke sana!"


Mishell dan Ibu pun menaiki anak tangga menuju kamar Kalila dan beliau melihat Kalila sedang berbaring sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Kemudian ibu pun berkata, "Boleh ibu masuk Nak?"


Kalila terkejut, lalu dengan wajah sumringah diapun bangkit dan mempersilakan ibu untuk duduk di dekatnya. Sedangkan Mishell tetap dicuekin. Bahkan di minta duduk agak menjauh.


Ibu tersenyum melihat sikap Kalila, beliau jadi teringat saat dulu hamil Anggun. Beliau juga berlaku sama seperti Kalila saat ini.


"Begini Nak, sebelumnya ibu minta maaf, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat. Tapi, ibu harus segera mengatakannya karena waktunya sudah sangat mepet."


"Sebenarnya ada apa Bu?" tanya Mishell yang merasa khawatir.


"Tiga hari lagi kamu berusia 25 tahun dan ibu dulu berjanji dengan seseorang akan mengungkapkan kebenaran yang selama ini ibu rahasiakan dari siapapun."


Bu Anis menghentikan ucapannya, lalu beliau membuka kotak dan mengeluarkan beberapa jenis barang.


Di sana ada kaos kaki, baju dan selimut bayi hingga membuat Mishell bertambah penasaran.


Selain itu, ibu juga mengeluarkan sebuah liontin yang di dalamnya berisi foto kedua orangtua Mishell saat mereka muda dulu dan selembar surat yang ditulis langsung oleh Mama Mishell.


"Barang-barang milik siapa ini Bu?"


"Milikmu saat bayi Le dan semua benda ini adalah pemberian mama mu," ucap Bu Anis sembari tertunduk. Beliau sebenarnya sangat berat mengatakan hal itu. Beliau takut akan reaksi Mishell.


Mendengar hal itu Mishell dan Kalila pun sangat terkejut.


"Apa yang ibu katakan? Mama siapa? Mishell anak ibu 'kan? Iya kan Bu?" tanya Mishell sembari mengguncang kedua tangan Bu Anis.


Bu Anis masih tertunduk dan air mata yang coba beliau tahan akhirnya jatuh juga.


"Bu, kenapa ibu menangis? Ibu pasti bercanda, Mishell anak ibu. Benar 'kan Bu?"


Bu Anis menengadahkan wajahnya, lalu diapun berkata, "Kamu memang anak ibu dan selamanya akan tetap menjadi anak kesayangan ibu, meskipun kamu tidak terlahir dari rahimku."


Mishell akhirnya ikut menangis, dia tidak menyangka, jika ibu yang selama ini sangat dia sayangi bukanlah ibu kandungnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2