
Mishell dan Kalila tiba di kantor, banyak mata memandang kearah mereka. Sejak kecelakaan, baru kali ini Kalila mau datang lagi ke kantor.
Kalila tetap tidak mau menggunakan kursi roda, dia ingin berjalan dengan dipapah Mishell.
Para staf mengucapakan selamat datang dan juga memberi ucapan selamat atas kemajuan kesehatan Kalila.
Sementara para karyawan pabrik pada bergunjing, ada yang merasa senang dan ada juga yang iri karena Mishell mereka anggap bodoh mau menikahi wanita cacat.
Serta sebagian juga menganggap jika Mishell pria materialistis yang mengejar harta serta kedudukan dengan mengorbankan harga diri.
Mishell tidak pernah mempedulikan hal itu, yang terpenting baginya adalah menolong Kalila dan mewujudkan harapan Kakek Artha.
Apalagi saat ini, dengan sikap Kalila yang sudah mau menerima Mishell. Dia semakin yakin untuk memperjuangkan kebahagiaan rumah tangganya.
Mishell bertekad untuk mendapatkan cinta Kalila karena dia juga telah mencintai gadis itu dengan segala kekurangannya.
Mereka pun tiba di ruangan, Mishell meminta Kalila untuk duduk di sofa, sementara dia akan menyelesaikan pekerjaannya.
Melihat Mishell sudah tiba, Sekretarisnya pun datang ke ruangan membawa beberapa berkas yang musti Mishell tandatangani.
Setelah itu, Mishell menjelaskan beberapa tugas yang harus di handle sementara dirinya pergi menemani Kalila.
Ada beberapa agenda pertemuan yang di undur dan telah mendapatkan persetujuan dari klien.
Meski Kalila buta, tapi dia bisa merasakan, jika kepemimpinan Mishell bisa di acungi jempol.
__ADS_1
Pantas saja sang Kakek percaya untuk melimpahkan semua tanggungjawab kepada suaminya itu. Termasuk tanggungjawab untuk menjaganya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Mishell pun meninggalkan ruangan dan kali ini agar lebih cepat, diapun menggendong Kalila.
Mereka yang melihat hal itu merasa kagum, karena Mishell ternyata benar menyayangi istrinya meskipun cacat.
Dalam perjalanan Kalila pun bertanya, "Kak Mishell ngga malu membawaku ke kantor?"
"Kenapa musti malu Yang, kamu itu istriku dan apapun keadaan mu aku tidak akan pernah malu. Aku ikhlas mencintaimu dengan semua kekuranganmu."
"Terimakasih Kak, aku yakin para gadis yang melihatku pada iri. Meski aku belum bisa melihat wajah Kak Mishell tapi aku yakin Kak Mishell sangat tampan."
"Buktinya tadi, aku sempat mendengarnya sendiri, ada yang nyeletuk, mengatakan jika Kakak seorang yang bodoh. Pria sempurna seperti Kak Mishell mau mencintai gadis sepertiku."
"Kamu mau 'kan, selamanya hidup denganku, membina rumah tangga sesungguhnya hingga maut memisahkan kita?"
Kalila pun mengangguk, lalu dia tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Mishell.
"Terimakasih Sayang, itu saja sudah cukup bagiku."
"Kak, nanti saat kita di rumah keluarga Kak Marshell jangan kaget ya. Dua ibu muda di sana pasti meremehkan kita. Mereka sejak dulu selalu iri dengan Mama kak Marshell."
"Jadi apa maksud mereka mengundangmu, sedangkan kamu sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka."
"Entahlah Kak, aku juga penasaran. Rasanya mustahil jika kedua ibu muda itu tidak memiliki tujuan lain."
__ADS_1
"Aku sekarang cacat Kak, aku tidak bisa melihat apa yang akan mereka lakukan, jadi aku mohon kakak harus waspada, harus jeli, jangan sampai terjebak oleh permainan mereka."
"Apalagi yang aku dengar, Mama dan Papa sedang di rawat di rumah sakit. Tapi mudah-mudahan saja, mereka hari ini bisa pulang untuk menghadiri acara ini."
"Heemm, keluarga yang rumit. Pasti Marshell dulu hidupnya sangat sulit berada diantara para ibu yang tidak menyukai mamanya."
"Kakak benar, kalau tidak memikirkan Mamanya, sejak masih sekolah Kak Marshell pasti memilih meninggalkan keluarganya. Apalagi para ibu muda memiliki anak-anak laki-laki yang saling berebut harta."
"Jadi untuk apa Papa Marshell menikah lagi, sementara mereka sudah memiliki putra. Hanya membuat masalah."
"Ntahlah Kak, memang yang aku dengar, mama dulu lama hamil, saat papa sudah menikah dengan kedua ibu muda, barulah anugerah itu datang. Makanya, anak ibu muda ada yang seumuran dengan Kak Marshell."
"Itulah egoisnya laki-laki, belum tentu kesalahan itu ada pada istri. Kalau sudah begini yang susah ya diri sendiri. Melihat anak serta para istri tidak akur, bahkan bisa saling sikut dan sikat demi memenuhi ambisi masing-masing."
"Iya Kak. Almarhum Papa ku juga dulu ngomong begitu, makanya Papa tidak mau menikah lagi meski tidak memiliki anak laki-laki. Padahal mama sudah mengizinkan Papa, tapi beliau tetap tidak mau. Cinta Papa hanya untuk mama."
"Aku juga, meski nantinya Tuhan tidak mengizinkan kita mendapatkan anak, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Lebih baik memilih adopsi daripada harus menikah lagi, yang hanya akan menyakiti hati istri."
Kalila tersenyum, dia bersyukur telah memiliki suami seperti Mishell.
Dia berjanji dalam hati, setelah ziarah ke makam Marshell Kalila akan menyerahkan segenap jiwa raganya untuk Mishell.
Kalila siap untuk menjadi istri sesungguhnya dan berharap akan segera menjadi seorang ibu.
Bersambung.....
__ADS_1