HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 20. SALAH MENDENGAR


__ADS_3

"Papa sebaiknya istirahat, Mama akan kembali ke ruangan. Suster pasti mencari karena, sekarang jadwal terapi Mama."


"Baiklah Ma. Oh ya Ma maafkan Papa ya, aku terlalu egois. Seandainya dulu papa setia, mungkin semua ini tidak akan terjadi dan Mama tidak mungkin meminta Bu Anis untuk membawa pergi putra kita."


"Sudahlah Pa, semua sudah terjadi. Mama hanya bisa menunggu keajaiban, mudah-mudahan putra kita saat ini baik-baik saja dan suatu saat akan kembali."


Mukhtar pun meraup wajahnya dengan kasar, dia menyesal. Istri yang dulu selalu dia sakiti ternyata menjadi teman susah di hari tua.


Sheila kembali ke ruangan, dia harus menjalani terapi syarap kejepit pada punggungnya. Dulu, dia pernah jatuh karena ulah para madunya tapi tidak diambil rasa, hingga imbasnya baru Sheila rasakan saat sekarang.


Mishell sudah menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia bersiap untuk pulang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Kalila.


Seharian meninggalkan Kalila membuat Mishell rindu. Kebersamaan selama ini telah menumbuhkan rasa sayang di dalam hatinya.


Kalila juga banyak melamun seharian. Dia merasa kehilangan teman yang selalu sabar menemani serta melayani dirinya. Perhatian Mishell membuat Kalila merasa nyaman dan percaya diri kembali.


Mishell keluar dari ruangannya, tapi langkahnya terhenti karena panggilan seseorang. Ternyata dia adalah Harjo.


"Tuan, tunggu!"


"Eh, Pak Harjo, ada apa ya!"


"Begini Tuan, saya hanya penasaran, kenapa tuan mau menerima wanita cacat untuk menjadi istri? Tuan besar memperalat Anda Tuan."


"Apa Tuan tidak merasa aneh, kenapa Tuan besar memilih Anda? Tuan hanya akan dijadikan tumbal dan setelah tidak dibutuhkan lagi, maka akan ditendang dari kehidupan mereka."


"Jangan suka memfitnah Pak, kamu tidak punya hak untuk memburukkan orang lain, apalagi itu pemilik tempat kita mencari nafkah dan bapak tidak punya hak untuk mengatur hidup saya. Maaf, jika saya kasar."


"Aku tidak mau Tuan menjadi korban mereka, aku bisa membuktikan ucapanku! Besok temui aku sepulang kerja, ini alamatnya. Aku tunggu Tuan di sana!" ucap Harjo.

__ADS_1


Mishell bingung, dia harus percaya kepada siapa, Kakek dan Kalila sangat baik, tapi memang aneh jika Kakek memilih pemuda miskin seperti dirinya, menjadi menantu dan dipercaya untuk mengelola perusahaan yang sangat besar dan sedang berkembang.


Mishell menyimpan alamat tersebut ke dalam tas, lalu bergegas meninggalkan perusahaan dan kembali ke rumah.


Dia berusaha menepis keraguan, Mishell tidak mau mengecewakan kepercayaan yang telah Kakek berikan tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan perkataan Harjo.


Sesampainya di rumah, Mishell langsung menuju kamar dan di depan pintu, dia mendengar Kalila sedang ngobrol dengan Vita.


Mishell menahan dirinya untuk masuk, dia tidak ingin mengganggu keduanya yang sedang berbicara serius.


Kalila menceritakan tentang kebaikan-kebaikan Marshell dan kejadian naas yang membuat kekasihnya itu meninggal. Kalila terisak-isak, hingga membuat Vita merasa bersalah dan berusaha untuk menenangkannya.


Mishell terharu mendengar obrolan mereka, ternyata cinta Kalila begitu besar terhadap Marshell.


Tapi kenapa saat mendengar Kalila berkata bahwa dia tidak bisa melupakan Marshell, hati Mishell terasa kecewa, sakit dan juga sedih.


Apakah itu artinya Mishell telah mencintai Kalila dan dia merasa cemburu? atau hanya ego seorang pria yang merasa terhina karena apa yang dia lakukan tidak berarti apa-apa.


Rasa senang karena akan segera bertemu Kalila kini sirna karena perkataan yang tidak sengaja dia dengar.


Mishell lama berdiri di balkon sambil memandang kejauhan. Diapun menghela nafas dan berbicara pada dirinya sendiri, "Kamu hanya seorang pria miskin Shell, jadi jangan berani berharap bisa menggantikan posisi Marshell di hati Kalila. Sadar Shell, Kau hanya alat penebus kesalahan!"


Mishell masih berperang dengan hati dan alam pikirannya sendiri, dia tidak akan masuk, sebelum perasaannya tenang.


Sementara di kamar, Kalila merasa cemas, waktu maghrib sudah tiba kenapa Mishell belum juga pulang.


"Vit, Kak Mishell kok belum pulang ya?"


"Barangkali di kantor banyak pekerjaan Non, hingga Tuan telat pulang. Wah...ada yang rindu nih?" ledek Vita.

__ADS_1


"Iya Vit, ternyata aku salah 'kan selama ini berpikir tidak akan bisa melupakan Kak Marshell dan tidak akan mungkin ada pria yang bisa menyamai kebaikannya."


"Pada kenyataannya, baru beberapa jam saja tidak mendengar suara Kak Mishell, hatiku rindu. Aku merasa aman dan nyaman Vit, jika dia ada bersamaku," ucap Vita tanpa malu mengakui perasaannya.


Vita yang mendengar hal itu merasa senang, kini nona mudanya sudah mau membuka hati dan percaya terhadap orang lain.


"Nona Kalila beruntung bisa mendapatkan hati dua pemuda baik, jika di dunia ini masih ada pria baik seperti mereka, Vita pun mau Non," ucap Vita sambil tertawa.


Kalila pun ikut tertawa, lalu diapun berkata, "Pasti ada Vit, karena sesuai janji Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nur yang artinya: "Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.”


"Iya ya Non, saya percaya itu. Saya masih harus banyak memperbaiki diri, agar bisa menjadi lebih baik hingga Allah menyediakan jodoh yang baik pula untukku."


"Nah itu baru klop. Aku yakin Vit, suatu saat kamu pasti akan mendapatkan pasangan hidup yang baik pula."


"Aamiin, terimakasih Non."


Sejenak Kalila terdiam, lalu dia berkata lagi, "Aku memang sangat beruntung, meski buta dan lumpuh, tapi Kak Mishell ikhlas merawatku."


"Kak Mishell itu orangnya sangat perhatian, sabar, penyayang dan terkadang romantis juga sih. Apakah itu artinya dia juga mencintaiku ya Vit? atau hanya aku saja yang terlalu berharap."


"Vita yakin Non, Tuan Mishell juga pasti mencintai Non Kalila."


"Mudah-mudahan ya Vit, dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku."


"Non, Vita kembali ke kamar dulu ya, mau ibadah maghrib. Nanti Vita kesini lagi bila Tuan belum juga pulang."


"Iya Vit, aku juga mau ibadah, Kak Mishell sudah mengajariku tentang tata cara tayammum dan menjalankan ibadah sambil duduk atau tiduran."


"Masya Allah Non, suami idaman banget. Vita pamit dulu ya Non, mau meminta kepada Allah agar diberikan jodoh yang baik seperti Tuan Mishell."

__ADS_1


Kalila pun mengangguk, lalu diapun bersiap untuk melaksanakan ibadah. Namun, belum sempat dia mulai, Mishell pun mengetuk pintu dan mengucap salam.


Kalila menjawab salam, lalu dia melajukan kursi rodanya menuju pintu. Dengan senyum sumringah dan mengulurkan tangan, Kalila pun menyambut kepulangan Mishell.


__ADS_2