HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 8. TERAPI KEJIWAAN ALA MISHELL


__ADS_3

"Kek, Mishell mau menemui Kalila ya. Dia pasti lelah dan butuh istirahat. Mishell akan mengantarnya ke kamar."


"Tunggu sebentar Shell!"


"Iya Kek!"


"Kakek harap kamu waspada dan jaga Kalila, karena musibah yang sama bisa saja menimpa kalian. Dulu istriku serta kedua putraku, lalu kedua orangtua Kalila, juga kedua adiknya. Dan Kalila sendiri bersama tunangannya."


"Maksud Kakek, semua mengalami kecelakaan?"


"Iya. Aku tidak tahu, apa itu unsur kesengajaan, karma atau memang sudah takdir kematian mereka. Tapi yang pasti kamu harus berhati-hati dan jaga keluargamu, Kakek nggak mau sampai kalian terkena musibah yang sama."


'Tapi Kek, jika memang unsur kesengajaan, apa motif mereka. Harusnya Kakek yang jadi sasaran, bukan mereka."


"Entahlah, mungkin mereka ingin melihat aku mati perlahan, tersiksa melihat orang-orang terdekat dan terkasihku mati mengenaskan di depan mataku."


"Mungkin juga ya Kek!"


"Makanya sekali lagi kakek ingatkan. Kakek sebenarnya bersyukur, kamu tidak menginginkan pesta pernikahan, karena semakin sedikit orang yang tahu jika kamu menantu di rumah ini, maka keselamatan mu lebih terjamin."


"Jika tentang Kalila, mereka pasti sudah memperhitungkan, bahwa dia tidak akan bertahan, apalagi dengan kondisinya yang seperti mayat hidup. Jadi, mereka tidak perlu bertindak, cepat atau lambat, Kalila akan mendapati kematiannya."


"Terimakasih Kek, sudah mengingatkan Mishell. Mishell akan menjaga Kalila beserta keluarga ini. Mishell ke bawah dulu ya Kek!"


"Pergilah Nak!"


Mishell pun turun, lalu mencari Kalila dan Vita yang sudah tidak ada di tempatnya semula.


Seorang pelayan menghampiri Mishell dan berkata, "Tuan, Vita membawa Non ke teras."


"Oh, terimakasih Mbak. Saya akan cari mereka. Mbak, tolong letakkan figura ini di kamar saya."


"Baik Tuan!"


Mishell berjalan menuju teras dan benar saja Kalila bersama Vita sedang duduk di sana.


Vita mengajak ngobrol Kalila meski tidak mendapatkan tanggapan. Dan dia membacakan sebuah novel,


agar Kalila terhibur.


Namun yang membuat Mishell terkejut, saat Vita membacakan adegan yang bermakna sebuah ancaman, tangan Kalila bergerak dan menggenggam erat pegangan pada kursi roda.


Vita tidak menyadari hal itu, karena dia fokus dengan bacaan novelnya.

__ADS_1


Mishell yang melihat dari kejauhan merasa penasaran, lalu dia mendekat. Tapi, Kalila sudah kembali seperti semula.


"Eh, Tuan! Maaf, saya membawa Non kesini, biar Non tidak bosan di dalam rumah saja," ucap Vita.


"Nggak apa-apa Mbak, terimakasih. Besok, tolong lakukan hal yang sama ya Mbak, biar Kalila terhibur," pinta Mishell.


Sebenarnya, Mishell hanya ingin memastikan apakah yang dilihatnya tadi benar atau matanya yang salah melihat.


Jika itu benar, setidaknya Mishell punya cara lagi untuk melakukan terapi kejiwaan terhadap Kalila, hingga bisa membangkitkan emosi Kalila yang terpendam.


Mishell akan berusaha membangkitkan semangat Kalila untuk sembuh. Di mulai dari kejiwaannya, baru raganya.


"Mbak, saya akan bawa Kalila ke kamar. Oh ya, apakah tadi Kalila makan banyak?"


"Tidak Tuan, tapi saya paksakan minum jus alpukat."


"Oh, terimakasih ya Mbak. Boleh saya pinjam buku novelnya Mbak, besok pagi akan saya kembalikan. Mbak bisa melanjutkan besok bersama Kalila."


"Iya Tuan!"


Mishell membungkukkan tubuhnya, lalu memegang kedua kaki Kalila, dia akan menggendong dan membawa Kalila ke kamar mereka.


"Tuan mau apa? Nona selalu tidur di atas kursi rodanya. Itu sejak pertama saya datang ke sini. Apa Tuan besar tidak mengatakan hal itu kepada Tuan?"


"Memangnya kenapa sampai Kalila tidur di kursi roda Mbak?


"Pernah beberapa kali kami letakkan di atas tempat tidur, tapi Non seperti ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya dan beberapa kali kami juga mendapati Non terjatuh di lantai, hingga pagi tiba."


"Jika di kursi roda, kami selalu memasang sabuk untuk berjaga-jaga, meski kami menemani Non tidur sepanjang hari."


"Baiklah Mbak, terimakasih infonya. Saya akan menjaga Kalila agar tidak jatuh dan Saya ingin tahu kenapa dia musti takut tidur di atas tempat tidurnya."


"Mbak, nanti sore tolong antarkan kursi roda ke atas ya! Sekarang Kalila akan aman bersama saya. Saya akan menjaganya."


"Iya Tuan, selamat beristirahat ya Tuan!"


Mishell kembali membungkukkan tubuhnya, lalu dia menggendong Kalila ala bridal style. Dia ingin mulai melakukan pendekatan terhadap sang istri.


Kalila masih diam saat Mishell melangkahkan kakinya menuju tangga. Namun, tiba-tiba tangan Kalila sekuatnya menyengkram lengan Mishell.


Mishell meringis menahan sakit, tapi dia tidak mengurungkan niatnya membawa Kalila ke kamar tanpa kursi roda.


Kalila belum melepaskan cengkeramannya pada lengan Mishell, sampai mereka tiba di depan pintu kamar.

__ADS_1


Mishell berusaha membuka pintu tanpa bantuan siapapun dan akhirnya berhasil, meski sambil menggendong Kalila.


"Akhirnya sampai juga, kita istirahat dulu ya Yang," ucap Mishell yang mengubah panggilan saat dia tiba di dalam kamar.


Mishell merebahkan Kalila di atas tempat tidur, namun tangan Kalila belum juga lepas dari lengannya. Padahal lengan Mishell sudah terasa perih, barangkali tergores kuku Kalila.


"Kenapa Sayang? Aku ikhlas kok terluka asal kamu terus memegang tanganku!" ucap Mishell yang sengaja ingin tahu reaksi Kalila.


Kalila makin erat mencengkeram lengannya, tapi Mishell tidak peduli meski lengannya mengeluarkan darah.


Mishell kemudian mendekatkan wajahnya dan kini jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja.


Dengan memejamkan mata, Mishell menikmati harumnya tubuh sang istri.


Meski Kalila tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tapi Vita selalu membuat tubuh Kalila selalu wangi.


Sekarang tugas Vita akan Mishell ambil alih, dia yang akan mengurus semua kebutuhan Kalila termasuk memandikan serta meriasnya.


Mishell menatap Kalila, ternyata istrinya begitu cantik. Meski dia menikah bukan berdasarkan cinta, tapi Mishell berjanji akan menyayangi Kalila hingga akhir hayatnya.


Wangi tubuh Kalila seperti menghipnotis Mishell, tanpa sadar Mishell mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir lembut sang istri.


Sejenak Mishell menikmati bibir ranum itu, tapi refleks Kalila bereaksi, dia melepaskan cengkeraman dan tangannya melayang ke wajah Mishell.


Mishell terkejut dan dia membuka mata sambil mengelus wajahnya.


Namun, Mishell tidak marah, dia malah tersenyum, lalu berkata, "Terimakasih Sayang, ini hadiah untuk pernikahan kita. Maaf, jika aku lancang. Sekarang kamu tidurlah, aku akan menjagamu hingga kamu terbangun."


Setelah mengatakan hal itu, Mishell pun menyelimuti tubuh Kalila. Lalu, Mishell bergegas ke kamar mandi untuk bebersih sebelum melaksanakan ibadah Dzuhur.


Mishell melaksanakan kewajibannya, setelah itu dia meminta kepada Rob untuk kesembuhan sang istri.


Setelah selesai, Mishell duduk di samping tempat tidur sambil memperhatikan Kalila.


Mishell melihat air bening menetes di kedua sudut mata sang istri, lalu diapun menghapus dengan kedua ibu jarinya.


"Kenapa menangis sayang, maaf jika perbuatan ku tadi menyakitimu. Aku tidak sengaja, harummu telah membuatku terhipnotis untuk mendekat."


"Tidurlah, aku akan membacakan novel yang biasa Vita bacakan untuk mu dan aku pasti akan mencarikan cerita yang lebih menarik, setelah yang ini selesai."


Mishell pun mulai membacakan cerita novel dari halaman yang sudah Vita tandai. Dia membaca sambil sesekali memandang wajah sang istri. Mishell ingin tahu, apa Kalila juga bereaksi saat dirinya yang membacakan cerita tersebut.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2