
"Selamat siang Tuan," sapa Mishell.
Lelaki tua itupun menoleh dan dia sangat terkejut.
"Marshell!" ucapnya sembari menjalankan kursi rodanya mendekati Mishell yang masih berdiri di depan pintu.
"Selamat siang Pa, ini bukan Kak Marshell tapi Kak Mishell, suamiku," ucap Kalila.
Ibu yang terbaring di atas tempat tidur pun bangun dan duduk serta melihat ke asal suara.
Air matanya mengambang, lalu beliau pun berkata, "Anakku Marshell! kesini Nak, mama rindu," ucapnya sambil menghapus air mata.
Kalila pun mengajak Mishell untuk mendekat, lalu Mishell mendudukkan Kalila di pinggiran tempat tidur dekat ibu tua yang tadi memanggilnya dengan sebutan Marshell.
"Ma, apa kabar?"
"Kamu Kalila 'kan? Itu putraku Marshell? Marshell masih hidup?"
"Maaf Ma, dia bukan Kak Marshell tapi Kak Mishell, suami Kalila."
"Iya Bu, yang dikatakan Kalila benar, saya Mishell. Ibu pasti bisa membedakan kami," ucap Mishell sembari mendekat dan duduk di sebelah Kalila.
Bu Laila memperhatikan wajah Mishell dan memang terlihat beberapa perbedaan antara keduanya.
Tapi beliau jadi teringat masa lalu dimana kembaran Marshell dibawa pergi secara diam-diam oleh Anis pengasuh sekaligus orang yang telah membantu Laila dalam melahirkan putra kembarnya.
Laila akan menyelidiki hal ini, tapi dia tidak ingin gegabah yang bisa menimbulkan kecurigaan para istri lain.
Kalau memang benar Mishell ini adalah putranya yang dibawa pergi oleh Anis, maka Laila tidak ingin nasib Mishell sama seperti Marshell.
Karena dia yakin Marshell meninggal dalam kecelakaan yang sudah di rencanakan.
Laila menangkup wajah Mishell, kembali air bening menetes dari kedua sudut matanya.
"Andai Marshell ku masih hidup, dia seperti mu Nak!"
"Ma, kita harus ikhlas, Kak Marshell sekarang sudah tenang di alamnya," ucap Kalila.
__ADS_1
"Maafkan anak Mama ya Nak, gara-gara kecelakaan itu kamu jadi seperti ini."
"Nggak apa-apa Ma, semua sudah takdir. Tapi sekarang Kalila sudah bisa berjalan meski belum lancar. Hanya tinggal memulihkan mata saja."
"Syukurlah Nak, Mama doakan kamu segera pulih dan kembali bisa melihat seperti dulu. Oh ya, selamat ya atas pernikahan kalian, Mama senang kamu telah mendapatkan pendamping lagi, semoga kalian bahagia ya."
"Aamiin, terimakasih Bu," ucap Mishell.
"Jadi dia bukan Marshell Ma?" tanya Papa.
"Bukan Pa, dia hanya mirip. Marshell memiliki tahi lalat di dagunya sementara dia tidak dan kulit Marshell juga lebih putih."
"Oh, padahal Papa tadi sempat berharap jika ada keajaiban, putra kita hidup kembali, walau itu jelas tidak mungkin."
"Iya Pa, Mama juga tadinya berpikir seperti itu."
"Papa menyesal Ma, semua ini kesalahan Papa. Andai dulu papa tidak egois, semua ini tidak akan terjadi."
"Kita pasti hidup tenang bersama Marshell, dan perusahaan tidak akan bangkrut seperti sekarang. Semua ini ulah kedua ular itu dan anak-anak yang tahunya hanya berpoya-poya saja."
"Sudahlah Pa, semua sudah takdir, Marshell tidak akan hidup kembali dan kita hanya bisa pasrah melihat mereka menghancurkan semuanya."
Saat Kalila mengatakan hal itu, kedua ibu muda pun masuk, lalu mereka menyahut.
"Iya Nak, tolonglah kami. Jangan sampai perusahaan hancur. Kami sekarang bergantung hidup dengan perusahaan itu, harta lainnya sudah habis untuk pengobatan. Kalian lihat 'kan keadaan mereka."
"Enak saja kalian bilang untuk pengobatan kami, yang jelas habis untuk poya-poya kalian dan anak-anak," sahut Papa.
"Papa kok ngomong begitu?
"Ya iyalah, itu akibat kalian terlalu memanjakan mereka. Coba kalian pikir, sekarang apa yang bisa mereka lakukan untuk mempertahankannya. Apa kita mesti mengemis, mengharapkan bantuan orang lain?"
"Pa, Kalila bukan orang lain, dia hampir saja menjadi menantu kita. Jadi sangat wajar jika kita meminta bantuannya!" ucap ibu muda kedua.
"Tidak! aku bilang tidak, ya tidak. Sekarang terserah kalian untuk mengatasinya. Kami paling tinggal menunggu masanya untuk menyusul Marshell."
Kedua ibu muda pun bersungut-sungut, mereka pergi sambil menggerutu. Rencana mereka gagal gara-gara kedua orangtua Marshell yang menurut mereka hanya menyusahkan saja.
__ADS_1
"Ma, Pa, sebaiknya kita keluar. Nampaknya acara akan segera di mulai. Nanti, kami akan membawa Papa Mama untuk ikut berziarah ke makam Kak Marshell."
"Terimakasih Nak, kamu memang anak baik, pantas saja Marshell dulu sangat mencintaimu," ucap Papa.
"Maaf ya Nak Mishell, karena itu memang kenyataannya."
"Nggak apa-apa kok Pak. Andai kalian butuh bantuan, jangan segan-segan, anggap saja aku juga anak kalian," ucap Mishell.
Laila sangat senang mendengar hal itu, dirinya jadi memiliki semangat hidup lagi dan sangat berharap jika Mishell memang putranya.
Kemudian Mishell pun membantu mendorong kursi roda Papa Marshell keluar, baru dia memapah sang ibu dan terakhir memapah Kalila.
Kini mereka mulai melakukan acara mendoa. Tapi Mishell di kejutkan saat dirinya melihat ada Reza di antara deretan anak dan para istri papanya Marshell.
Reza juga terperanjat saat bertatapan mata dengan Mishell, dia takut Mishell akan membongkar semua kelakuannya di luaran..
Dengan pura-pura tertunduk, Reza pun berharap acara akan segera selesai agar dia bisa segera kabur dari tempat itu.
Mishell baru sadar, pantaslah jika Reza memiliki sifat buruk karena lingkungannya buruk dan sifat ibunya juga buruk.
Setelah acara selesai, Kalila meminta tolong Mishell dan Pak sopir untuk membantu Papa Mama Marshell naik ke mobil. Mereka akan segera berangkat ziarah ke makam Marshell.
Sementara para ibu muda dan putra-putranya tidak ada yang ikut, mereka beralasan karena masih ada tamu yang belum pulang.
Mishell dan rombongan pun langsung menuju ke TPU yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah itu.
Sesampainya di depan makam, Mishell mewakili yang lain membacakan doa, lalu Kalila pun berjongkok disisi batu nisan, dia sempat menitikkan air mata, teringat akan kejadian yang dulu menimpa dirinya dan Marshell.
Kalila telah mengikhlaskan kepergian Marshell dan sejak hari ini dia berjanji akan menjalani kehidupan rumah tangga sesungguhnya bersama Mishell.
Dan Kalila berjanji akan menolong kesusahan orang tua Marshell karena keduanya sudah Kalila anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Setelah menyelesaikan ritual doa, Mishell pun memapah Kalila kembali ke mobil dan Pak sopir ikut membantu kedua orangtua Marshell untuk naik.
Mereka akan mengantar keduanya pulang terlebih dahulu, barulah pulang ke rumah Kakek.
Mishell berjanji akan mencari cara untuk menyelesaikan kesulitan perusahaan keluarga Marshell.
__ADS_1
Tapi dia tidak akan melibatkan anak-anak dari ibu muda yang bisanya hanya menghabiskan saja.
Bersambung.....