
Anak-anak panti merasa senang dengan hadiah-hadiah yang mereka terima. Satu persatu memeluk dan mengucapkan terimakasih kepada Kalila dan juga Mishell.
Tingkah lucu mereka membuat Kalila rasanya ingin berlama-lama di sana. Tapi hal itu tentu saja tidak mungkin untuk hari ini karena Mishell harus segera ke kantor.
Sebelum pulang, Mishell berjanji akan menjadi donatur panti dan setiap bulan dia akan mengirimkan bahan-bahan pokok kesana.
Ibu panti pun mengucapkan terima kasih, beliau dan anak-anak mengantar Mishell serta Kalila hingga ke teras.
Mobil Mishell pun melaju, membelah jalanan menuju rumah. Di rumah, kakek menerima telepon dari si pengancam, malam ini mereka harus menyediakan uangnya.
Pengancam meminta 1M dan kakek menyanggupinya dengan syarat semua video termasuk copy-annya harus di serahkan.
Mengenai tempatnya, akan di share satu jam sebelum waktu yang di janjikan.
Kakek pun memberitahu Mishell tentang hal itu. Mishell pun terkejut dengan nilai yang mereka minta.
Menurut Mishell, si pengancam ini pasti bukan orang sembarangan, dia tahu seluk beluk keluarga Kakek Artha.
Bahkan Mishell menduga, masalah ini sengaja mereka ciptakan untuk mengusik keluarga kakek, atau mungkin mereka salah satu dari pesaing perusahaan.
Ibu yang mendengar hal itu juga shock, 1M bukan lah uang yang sedikit, harus bekerja bertahun-tahun untuk menghasilkan uang sebanyak itu.
Apalagi beliau cuma seorang pelayan dan sekarang pengangguran.
"Mereka sebenarnya siapa ya Kek? Kenapa dengan seenaknya meminta uang sebesar itu. Apa ngga mikir, kami itu siapa."
"Beginilah hidup, Bu. Mereka ingin menggunakan aib orang untuk mendapatkan uang, tanpa harus kerja keras," jawab Kakek.
"Kita tunggu malam ya Bu, biar Mishell yang urus. Ibu dan Anggun tenang saja, semuanya pasti beres."
"Iya Kek."
Ibu dan Kalila pergi ke teras belakang, mereka ingin membantu Vita yang sedang membersihkan bunga dari rumput liar yang tumbuh di sana.
Vita yang biasa tugasnya melayani serta menemani Kalila, kini beralih membantu beberes di taman.
Kalila sudah tidak terlalu bergantung kepada siapa pun, dia berusaha untuk bisa melayani dirinya sendiri.
__ADS_1
Mishell yang tiba di rumah lalu menemui Kakek, dia ingin bertanya lebih jelas tentang perintah si penelepon.
Kakek pun menjelaskan semuanya dan nanti malam Mishell akan ditemani oleh Hans, pengawal pribadi kakek untuk mengantar uang.
Karena hari masih siang, Mishell pun memutuskan untuk ke perusahaan keluarga Marshell, hari ini dia akan mengutarakan penawaran kerjasama.
Mishell pun pamit kepada kakek dan juga Kalila, lalu dia menelepon Hans untuk menemaninya. Agar saat pulang telat nanti, bisa langsung ke lokasi di mana mereka harus mengantar uang.
Kakek melepon pihak Bank untuk menyiapkan dana cash sejumlah 1M dan akan di ambil menjelang bank tutup sore nanti. Jadi Mishell dan Hans bisa langsung bertemu di sana.
Hans ternyata sudah tiba di perusahaan keluarga Marshell saat Mishell tiba. Lalu keduanya masuk dan menemui resepsionis.
Sang resepsionis pun menghubungi Presdir yang sekarang di ambil alih oleh salah satu anak ibu muda.
Farhan anak ibu muda kedua buru-buru keluar dari ruangannya untuk menyambut kedatangan Mishell. Dia sudah di beritahu sebelumnya jika perusahaan Kakek Artha bersedia membantu perusahaan mereka.
Farhan mengulurkan tangan saat melihat Mishell dan Hans duduk menunggunya di ruangan khusus tamu.
"Selamat sore Tuan Mishell, terimakasih Anda sudah berkenan datang sebagai wakil dari kakeknya Mbak Kalila. Perkenalkan, namaku Farhan adik almarhum."
Kemudian Farhan pun bertanya, "Tuan sangat mirip dengan Kakak saya, bagaimana mungkin bisa kebetulan seperti ini," ucap Farhan bingung.
"Atau Mbak Kalila sengaja mengoperasi Tuan agar bisa sama persis seperti kak Marshell."
"Hahaha, kamu ternyata humoris juga ya," ucap Mishell sambil tertawa.
"Untuk apa Kalila melakukan hal itu sementara dirinya saja lebih dari dua tahun tidak memiliki semangat untuk hidup."
"Hehehe, iya Tuan. Saya hanya bercanda. Manusia kan memang mempunyai 7 kembaran tidak sedarah. Atau setidaknya mempunyai orang yang benar-benar mirip dengan kita."
"Menurut sains hal ini memang sangat mungkin terjadi, karena kemiripan susunan genetik yang dimiliki tiap manusia. Selain itu, faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah faktor geografis serta kelompok etnis," ucap Farhan.
"Iya, kamu benar."
Sebenarnya Farhan masih penasaran dan dia akan menyelidiki hal itu setelah proses kerjasama mereka di mulai.
Saat ini Farhan hanya ingin fokus untuk mendongkrak kembali perusahaan milik papanya agar tidak gulung tikar.
__ADS_1
Farhan tidak mau tinggal di jalanan, apabila semua aset habis tersita bank.
"Oh ya Tuan Farhan, aku dengar perusahaan ini di pegang oleh dua orang, dimana saudara Anda, kenapa saya tidak hadir?"
"Oh, iya Tuan Mishell. Reza, adik saya masih terlalu muda, jadi tahu sendirilah, nggak betah menangani pekerjaan. Dia lebih senang di lapangan ketimbang duduk di sini."
"Hemm, di luar sambil menghabiskan aset yang ada! Cerdik!"
Farhan mengernyitkan keningnya, dia tidak menyangka jika Mishell banyak tahu tentang perusahaan dan keluarganya.
"Oh ya Tuan Mishell bisa kita lanjut bagaimana tentang kerjasama kita?" ucap Farhan yang mencoba mengalihkan perhatian Mishell agar tidak berbicara tentang Reza.
"Hans, coba kamu perlihatkan kepada Tuan Farhan, konsep kerjasama yang telah aku siapkan!"
"Baik Tuan!" ucap Hans sambil membuka tas dan mengeluarkan berkas atau konsep tentang kerjasama yang Mishell mau.
Hans pun memberikan berkas itu kepada Farhan agar pria itu bisa membacanya.
Farhan mempelajari konsep tersebut, lalu dia berkata, "Maaf Tuan, poin tentang Tuan yang akan mengatur semua kegiatan di sini, itu saya tidak setuju."
"Jadi apa yang Anda mau?"
"Hak keputusan mutlak tetap pada kami!" pinta Farhan.
"Hahaha, Tuan kembali bercanda. Tujuh puluh persen saham akan menjadi milik kami, mana mungkin kami menyerahkan semua keputusan di tangan Tuan Farhan dan juga Tuan Reza. Itu bunuh diri namanya!"
"Kecuali, Tuan bisa menjamin perusahaan tidak akan kolaps lagi di bawah kendali kalian. Itupun harus disertai bukti-bukti."
"Maaf Tuan, hanya dengan cara itu kami bisa membantu. Jika Tuan tidak setuju, apa boleh buat, berarti kita belum berjodoh untuk bekerjasama," ucap Mishell tegas.
"Begini saja Tuan Mishell, saya akan berembuk dulu dengan keluarga, lusa saya akan hubungi Tuan Mishell untuk memberikan keputusan."
"Oke Tuan Farhan, kami tunggu keputusan kalian. Kalau begitu, kami permisi dan tolong sampaikan salam saya kepada Papa serta mamanya Marshell. Kami mau melakukan kerjasama ini hanya demi menolong mereka."
Farhan kesal dengan ucapan Mishell, tapi dia harus berpura-pura bersikap manis untuk sementara waktu, sampai kucuran dana berhasil dia dapatkan.
Bersambung.....
__ADS_1