HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 43. BERDEBAT


__ADS_3

Di rumah almarhum Marshell, Farhan dan para ibu muda sedang berdiskusi tentang tawaran Mishell. Kedua ibu muda itu merasa kecewa karena tawaran tersebut tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.


Farhan coba kamu bawa kesini papa dan wanita itu, masa mereka tidak bisa merayu Kalila agar membuat kakeknya tetap mempercayakan perusahaan kepada kamu dan Reza.


"Baik Ma."


Kemudian Farhan pun masuk ke dalam kamar di mana papa dan mama Mishell di kurung sehari-hari di sana.


"Tumben kamu kesini?" tanya Papa saat melihat Farhan masuk.


"Anak menjenguk salah, nggak jenguk katanya anak durhaka! Sebenarnya mau papa apa sih!" ucap Farhan ketus.


"Ya aneh saja, kamu dan Reza selama ini mana pernah peduli dengan kami. Yang kalian pentingkan cuma harta, harta dan harta. Sekarang giliran perusahaan goyang karena ulah kalian sendiri, barulah sibuk kesana kemari minta bantuan. Coba Marshell masih hidup, dia pasti bisa diandalkan, nggak seperti kalian!"


"Terserah deh apa kata Papa, yang terpenting kami melakukan ini juga untuk kepentingan kalian. Darimana kalian bisa berobat jika tidak dari hasil jerih payah kami!"


"Hahaha, sudah pandai kamu bersilat lidah ya. Jika tidak karena keserakahan kalian, perusahaan itu masih aman di bawah kendali asisten pribadi ku."


"Sudahlah Pa! Saat ini aku malas berdebat. Aku diminta ibu kesini untuk menjemput kalian," ucap Farhan sembari mendorong kursi roda papanya.

__ADS_1


Sementara, mama almarhum Marshell pun bergegas mengikuti suaminya yang di bawa oleh Farhan.


Sesampainya di hadapan para istri muda, Papa dan Mama Marshell langsung diberondong dengan pertanyaan yang menyudutkan.


"Kalian bagaimana sih, merayu dan meyakinkan begitu saja nggak becus! atau kalian memang sengaja!"


"Memangnya apa yang mereka tawarkan?"


"Ini!" ucap Ibu muda kedua sambil meletakkan secarik surat perjanjian dari Mishell."


Papa membacanya sembari tersenyum, dia tahu maksud dari isi surat perjanjian tersebut dan aku setuju.


"Tolong dong Pa, rayu lagi kakek dan suami Kalila," pinta istri ketiganya.


Saat mereka berbincang, Reza pun baru pulang dengan sempoyongan.


"Kalian lihat itu! Bagaimana perusahaan mau maju jika pemimpinnya saja seperti itu!"


Ibu muda buru-buru menghampiri Reza, "Kamu darimana saja Za, sudah ibu bilang 'kan jangan minum minuman beralkohol lagi!"

__ADS_1


Reza tidak mengindahkan ucapan semuanya, yang dia mau terus bersenang-senang.


"Bang, beri aku uang! Kamu jangan pelit ya, mentang-mentang kamu yang handle perusahaan."


"Uang apalagi! setiap hari aku sudah memberimu uang, jadi kamu harus pandai-pandai mengelolanya. Kamu tahu kan perusahaan kita hampir bangkrut?"


Bang Farhan jangan coba-coba membohongiku, harta Papa tidak akan habis dalam sekejap. Betulkan Pa?"


"Iya seharusnya. Tapi kalian telah menghancurkan semua. Dan kamu Reza, tinggalkan semua kebiasaan burukmu itu, mulailah fokus di perusahaan untuk membantu kakakmu."


"Argh," Reza pun mendesah lalu meninggalkan ruangan tersebut menuju kamarnya.


Papa pun menggeleng, lalu berkata, "Itu hasil didikan mu Ma!"


Ibu muda pun membantah, "Itu karena kesalahan Papa, bukankah dulu papa lebih perhatian terhadap Marshell ketimbang Farhan dan Reza! Jadi tolong jangan selalu menyalahkan kami."


"Iya benar, untung saja Marshell sudah tidak ada, jika masih hidup Papa pasti mempercayakan semuanya kepada dia!" timpal ibu muda kedua.


"Senang kan kau Mbak, melihat anakmu dibanggakan dan anak-anak kami begitu tidak berguna di mata Papa!" ucap ibu muda ketiga.

__ADS_1


Mama Marshell hanya menghela nafas, dia yang sama sekali tidak berkomentar tetap kena batunya. Mereka selalu menyalahkannya atas ketidak beresan anak-anak mereka yang selalu iri dengan almarhum Marshell.


Bersambung....


__ADS_2