
"Ma, apakah anak-anak ibu muda juga pernah menyakiti mama?" tanya Kalila sambil menggenggam tangan ibunya Marshell.
"Mereka, hanya tinggal menunggu keputusan papa untuk menandatangani pengalihan semua harta."
"Soalnya, itu janji Papa dulu di hadapan notaris, sebelum menikahi para ibu muda, bahwa Papa akan mengalihkan seluruh harta untuk di kelola oleh anak laki-laki tertuanya."
"Karena Marshell sudah tidak ada, makanya tinggal menunggu anak ibu muda ke-2 genap berusia 25 tahun pada awal tahun depan."
"Setelah itu, kami hanya tinggal menunggu belas kasihan mereka atau mungkin akan ditendang keluar dari rumah."
"Kenapa Papa tidak bertindak untuk melawan mereka?"
"Ibu muda mengancam, akan menyingkirkan Mama jika Papa membatalkan perjanjian tersebut."
"Ternyata serumit itu ya Ma."
"Semua ini salah Papa, maafkan Papa ya Ma. Seandainya saja Marshell masih hidup, 2 bulan lagi semua akan menjadi miliknya. Kita tidak akan terjerat dengan janjiku sendiri." sesal Papa Marshell.
"Sebetulnya masih ada yang bisa menyelamatkan kita Pa, tapi Mama belum bisa mengatakannya sekarang."
"Mama belum yakin, apakah mereka masih hidup atau nasibnya sama seperti Marshell."
"Maksud Mama mereka itu siapa?"
"Tunggu saja saatnya tiba Pa. Jika memang mereka masih hidup, mama yakin tepat di hari itu, ketiganya akan datang. Dan jika tidak, berarti inilah takdir yang harus kita terima. Tanggung konsekuensi dari janji Papa sendiri."
__ADS_1
Papa Marshell sebenarnya nggak paham apa maksud dari perkataan istrinya, tapi dia akan bersabar sampai saat yang dijanjikan itu tiba.
Mishell dan Kalila yang tidak mengerti hal itu hanya menjadi penonton saja, tapi Mishell berjanji akan menolong kedua orang tua itu agar tidak di aniaya oleh para ibu muda dan kedua putranya.
Mereka pun tiba di rumah, Mishell dan pak sopir mengantar orangtua Marshell, sementara Kalila tetap berada di dalam mobil saja.
Saat Mishell dan pak sopir pergi, pintu mobil di ketuk seseorang, tapi Kalila yang tidak bisa melihat, tidak berani membuka pintu. Kalila yakin, jika itu bukan Mishell maupun Pak Sopir karena saat dia bertanya tidak ada suara yang menjawab.
Kembali suara ketukan pintu mobil terdengar dan Kalila masih juga tidak menghiraukannya.
Beberapa menit kemudian, saat Kalila mendengar suara Mishell berbicara dengan Pak Sopir, barulah Kalila berani membuka pintu.
Mishell dan Pak sopir pun masuk, lalu Mishell meminta Pak sopir untuk mengantarnya ke kantor dulu, baru membawa Kalila pulang ke rumah Kakek.
"Sayang nggak apa-apa kan, kamu nanti pulang dengan Pak sopir? Soalnya, aku baru dapat telepon, jika klien baru kita dari luar negeri sudah sampai dan saat ini sedang menungguku di kantor."
"Iya Sayang."
Pak sopir pun melajukan mobil menuju kantor dan dalam perjalanan Mishell membahas dengan Kalila tentang masalah perusahaan orangtua Marshell yang hampir kolaps.
"Sayang, bagaimana jika kita minta ke kakek untuk membeli sebagian besar saham mereka dan aku sendiri yang akan turun untuk pengelolaannya. Jadi aku bisa pantau tindak tanduk anak-anak ibu muda. Aku tidak tega melihat orangtua Marshell teraniaya."
"Terimakasih Kak, aku setuju dengan ide Kak Mishell. Nanti malam kita akan bicarakan hal ini kepada Kakek. Aku yakin, jika Kak Mishell yang minta, kakek pasti kabulkan."
"Iya, mudah-mudahan saja."
__ADS_1
Mereka pun tiba di kantor, Mishell mencium kening Kalila sebelum dirinya pamit turun.
Setelah itu Pak sopir pun mengantar Kalila pulang.
Kalila tiba di rumah bersamaan dengan ibu yang keluar untuk mengajak Anggun jalan-jalan ke taman.
Ibu terlebih dahulu membantu Kalila turun dan duduk di kursi rodanya, baru setelah Vita datang, beliau pun meneruskan niat untuk membawa Anggun jalan-jalan.
Kalila pun meminta Vita untuk menemaninya menyusul ibu di taman. Dia ingin membantu ibu untuk menghibur Anggun.
Sesampainya di taman, ibu meminta Anggun untuk duduk, sementara beliau memberi makan ikan terlebih dahulu yang terlihat kelaparan di dalam kolam.
Kalila dan Vita pun mendekati Anggun, lalu keduanya menyapa dan membuka percakapan.
Anggun awalnya cuma diam, tapi saat Kalila menceritakan tentang kisah hidupnya, Anggun pun menangis.
"Kamu lebih beruntung Nggun, memiliki ibu dan Kak Mishell yang selalu ada di samping mu dan bisa mendukung di saat terpuruk. Lah, aku dulu tidak memiliki siapapun, hanya kakek yang kerap kali telepon karena beliau juga sedang di rawat."
"Sudah jangan menangis, kita hadapi kesulitan ini bersama. Kamu harus tegar, harus bangkit dan menata hidupmu kembali. Kasihan Ibu dan Kak Mishell."
"Terimakasih Mbak, aku akan mencoba menerima kenyataan pahit ini. Minggu depan aku akan aktif lagi sekolah, tapi di tempat baru."
"Iya bagus, berarti Kak Mishell sudah mengatur kepindahanmu?"
Anggun pun mengangguk lalu membalas genggaman tangan Kalila. Dia memang harus bangkit untuk keluar dari keterpurukannya.
__ADS_1
Bersambung....