HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 21. UNGKAPAN HATI MISHELL


__ADS_3

"Kenapa pulangnya telat Kak?"


"Banyak pekerjaan di pabrik, lusa proses produksi sudah di mulai," ucap Mishell yang tidak bersemangat.


"Sini tasnya Kak, biar aku yang bawain."


Mishell memberikan tas kerjanya, lalu dia buru-buru melepas sepatu dan menyambar handuk. Mishell harus bergegas sebelum waktu maghrib habis.


Keduanya sama beribadah dan setelah itu Mishell merebahkan dirinya sambil mengotak atik ponsel.


Kalila merasa ada yang aneh dengan Mishell, lalu dia mendekat dan memijat kaki suaminya. Kalila menduga, mungkin perubahan sikap Mishell itu karena dia sedang lelah.


Mishell menarik kakinya, dia merasa tidak enak dan tidak menyangka jika Kalila mau melakukan hal itu.


"Kenapa Kak? biar aku pijat sebentar, setelah itu kita turun makan malam ya. Kakek pasti sudah menunggu kita."


"Sudah, nggak usah! Nanti kamu lelah."


"Gantian dong Kak, selama ini selalu Kakak yang melayani ku, seharusnya aku yang harus melayani Kakak, menyiapkan semua kebutuhan."


"Itu memang tugasku, toh aku sudah terikat perjanjian dengan Kakek. Jika aku tidak melakukannya, maka penjara menantiku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hidup dan mati konyol di sana. Terutama aku memikirkan nasib ibu serta adikku!" ucap Mishell sedikit ketus. Hal itu sengaja dia katakan, karena hatinya masih kecewa.


Kalila mendesah, tapi dia tetap meneruskan, memijat kaki Mishell.


Mishell akhirnya menurut, saat Kalila kembali memijat kakinya. Dia sesekali mencuri pandang, sambil tetap memainkan ponsel. Sebenarnya Mishell tidak tega, bersikap yang kesannya mengabaikan.


Keduanya pun hanyut dalam pikiran masing-masing, hingga terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" jawab kalila, sembari tidak menghentikan pijatannya.


"Maaf Non, Kakek meminta saya memanggil Non dan Tuan untuk turun makan malam."


"Iya Vit, sebentar lagi kami turun," jawab Kalila.


Vita pun mengangguk, lalu menutup kembali pintu kamar dan pergi menyampaikan pesan Kalila kepada kakek.


"Sudah cukup, sebaiknya sekarang kita turun, nggak enak jika kakek terlalu lama menunggu," ucap Mishell sambil mengenakan sendal.

__ADS_1


Mishell pun bangkit dan meninggalkan Kalila. Tapi belum sampai dia ke pintu, Kalila melajukan kursi roda untuk mengikutinya. Tak ayal lagi, Kalila pun menabrak meja kerja Mishell.


Hampir saja kursi roda Kalila terbalik, kalau saja Mishell tidak langsung berlari dan menahannya.


Mishell pun merasa bersalah, lalu diapun meminta maaf.


"Maafkan saya," ucap Mishell.


Saat Mishell hendak mendorong kursi roda Kalila keluar kamar, tiba-tiba Kalila menghalanginya.


"Berhenti Kak! Kenapa sikap Kak Mishell berubah? Apa salahku Kak?"


Mishell tidak menjawab dan dia hendak mendorong lagi, tapi Kalila menekan tombol berhenti, hingga kursi roda itu tidak bisa dijalankan.


Kemudian, Kalila pun berkata lagi, "Jika Kak Mishell memang sudah bosan mengurusku, aku akan bilang ke Kakek agar beliau membebaskan Kakak dari ikatan perjanjian ini."


"Maafkan aku Kak, jika selama ini telah menyusahkan dan tidak bisa memenuhi tugasku sebagai istri. Maaf...atas paksaan yang telah Kakek lakukan," ucap Kalila sambil mengatupkan kedua tangannya.


Bayang air matapun sudah menggelayut di kelopak mata Kalila dan dia merasa sedih karena sikap Mishell yang tiba-tiba mengabaikannya.


"Kakak pergilah temani Kakek makan, aku akan telepon Vita untuk mengantarkan makananku ke sini. Bilang saja sama Kakek jika aku sedang tidak enak badan," ucap Kalila sembari memutar arah kursi rodanya.


Melihat Kalila yang terlihat sedih, Mishell pun merasa menyesal. Lalu, dia menahan kursi roda Kalila, merunduk dan memeluk tubuhnya dari arah belakang.


Mishell menyandarkan kepala di bahu Kalila, lalu diapun berkata, "Pernikahan kita memang berawal dari sebuah keterpaksaan, tapi aku bersumpah, sejak ku ucapkan lafadz ijab qobul, aku ikhlas menjadi suamimu. Apapun keadaanmu, bukan beban untukku!"


"Izinkan aku untuk belajar mencintai dan ku mohon, berilah cintaku sedikit tempat di dalam hatimu, meski cintaku nggak akan mungkin bisa menggantikan cinta Marshell." ucap Mishell sambil mengeratkan pelukannya.


Kalila membalas pelukan Mishell dan menggenggam erat tangannya. Yang ingin Kalila dengar kini sudah terucap dari mulut sang suami.


Senyum mengembang di bibir Kalila, lalu dia menghapus air mata yang hampir menitik dan memiringkan kepala hingga wajah mereka pun bertemu tanpa jarak.


"Aku sudah memberimu kesempatan Kak, tapi kenapa kamu berubah dan mengabaikanku, hingga tadi aku sempat berpikir telah salah menggantungkan harapan kepada Kakak."


"Kamu serius Lil? kamu beri aku kesempatan?" tanya Mishell yang masih belum percaya.


Kalila mengangguk dan berkata, "Makanya, Kak, aku bertekad untuk sembuh. Beri aku waktu, aku janji akan berusaha membuat diriku pantas menerima cinta Kak Mishell."

__ADS_1


Mishell begitu bahagia mendengar pengakuan Kalila, tapi untuk menghilangkan keraguannya, diapun bertanya, "Jadi yang aku dengar tadi...?"


Belum sempat Mishell melanjutkan ucapannya, Kalila tiba-tiba mendaratkan ciuman, lalu berkata, "Memangnya apa yang Kak Mishell dengar?"


"Kamu mengatakan kepada Vita, selamanya tidak akan bisa melupakan Marshell."


"Oh, jadi itu yang membuat Kak Mishell tadi bersikap aneh? Kak Mishell pasti hanya mendengar sebagian percakapan kami."


"Iya. Setelah mendengar hal itu aku langsung ke balkon untuk menenangkan hati. Entah kenapa, hatiku tadi terasa sakit dan begitu kecewa. Harapanku seperti musnah, aku merasa sangat tidak berarti apa-apa dan merasa tidak pantas untuk menggapai cintamu, Lil!"


Kalila meraba wajah Mishell, lalu kembali berkata, "Coba Kak Mishell tadi mendengarkan kelanjutan omongan kami, pasti saat ini aku yang malu," ucap Kalila dengan wajah bersemu kemerahan.


"Ayo katakan Yang, jangan buat aku penasaran. Aku ingin tahu apa kelanjutan omongan kalian?"


Belum sempat Kalila menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi dari arah perut, hingga membuat Kalila meringis malu.


"Kamu lapar ya? maaf, gara-gara aku ngambek, kamu jadi kelaparan. Yuk, kita turun dulu, barangkali Kakek sudah selesai makan."


"Tapi kamu harus janji, nanti ceritakan semua yang kamu omongkan bersama Vita," ucap Mishell sambil mencium Kalila, lalu menggendongnya menuruni anak tangga.


Kakek dan beberapa orang pembantu yang melihat moment tersebut merasa senang. Apalagi saat mendengar gelak tawa keduanya yang sedang bercanda sambil menuruni anak tangga.


"Wah...Tuan Mishell romantis banget, kami jadi iri. Kapan ya, kami bisa mendapatkan jodoh yang baik serta penyayang seperti Tuan Mishell," ucap salah seorang pembantu.


"Mbak bisa saja. Masih banyak pemuda baik di luaran sana Mbak, yang bahkan lebih baik dari saya," timpal Mishell.


Kemudian Mishell pun mendudukkan Kalila di samping kursinya, lalu dia memandang hidangan yang belum tersentuh sedikitpun.


"Lho...Kakek kok belum makan?" tanya Mishell.


"Nggak enak makan sendirian Shell, jadi Kakek putuskan untuk menunggu kalian turun."


"Maaf ya Kek, kami telat. Kakek pasti kelaparan, ini semua gara-gara Kalila," ucap Kalila.


"Nggak apa-apa, kakek juga belum terlalu lapar. Ayo, sekarang kita makan! nggak enak jika semua hidangan menjadi dingin."


Mishell pun mengambilkan piring kakek, lalu mengambilkan makanan untuk Kalila.

__ADS_1


Kalila yang belakangan sudah terbiasa makan sendiri, menolak ketika Mishell ingin menyuapinya.


Kalila harus membiasakan diri dan terus berlatih agar tidak selalu mengandalkan bantuan siapapun lagi.


__ADS_2