
Mishell dan Kalila berharap kakek akan setuju dan mau membantu orangtua Marshell.
Setelah mendengar cerita dari Kalila, kakek pun terdiam. Beliau bingung apakah perlu ikut campur, sementara diantara mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
Mishell kemudian mengutarakan idenya, jika dia sendiri yang akan turun tangan di perusahaan keluarga Marshell, jadi sama-sama menguntungkan untuk kedua belah pihak.
Akhirnya kakek pun setuju dan besok beliau akan ikut turun meninjau perusahaan itu.
Mishell dan Kalila pun senang, akhirnya mereka berhasil meyakinkan dan mendapatkan persetujuan dari kakek.
Setelah Kakek kembali ke kamar, Mishell pun meminta Kalila untuk menelepon orang tua Marshell.
Kalila memberitahukan jika Kakek setuju membantu dan besok ingin bertemu dengan Papa serta Mama Marshell.
Kedua orang tua Marshell pun menangis, mereka tidak menyangka jika Kalila masih begitu perhatian, meski gagal menjadi menantu.
Setelah mematikan panggilan, Kalila pun mengajak Mishell untuk menemui ibu. Soalnya ibu dan Anggun tadi tidak ikut makan malam.
Kalila bangkit dan hendak berjalan, tapi dia menyeringai hingga membuat Mishell khawatir.
Mishell mendekati Kalila, lalu dengan sigap diapun menggendong istrinya itu menuju kamar Ibu.
Kalila merangkulkan tangannya dan berucap, "Terimakasih Kak."
"Sudah tugasku Yang, apalagi aku telah membuat mu bertambah sakit. Tapi masih boleh kan minta lagi?" goda Mishell.
Kalila malu, dia menyembunyikan wajahnya di dada Mishell, hingga mereka tiba di kamar Ibu.
Ibu membukakan pintu, lalu beliau meminta keduanya untuk masuk.
"Bu, kenapa tidak ikut makan malam?" tanya Kalila.
__ADS_1
"Maaf Nak, Anggun tidur dan ibu belum lapar, jadi nanti saja. Jika Anggun terbangun dan merasa lapar baru ibu temani dia makan."
"Oh, kami pikir Ibu sakit," ucap Mishell.
"Ibu baik-baik saja. Bahkan ibu merasa lebih sehat sekarang. Ibu senang melihat Anggun sudah kembali bersemangat, melihat kemajuan kesehatan Nak Kalila dan terutama ikut bahagia saat melihat rumah tangga kalian bahagia."
"Dan kebahagiaan itu pasti akan lebih sempurna, bila suatu hari nanti kalian memberi kabar jika ibu akan menjadi seorang nenek."
"Aamiin, doakan kami ya Bu," sahut Mishell.
Wajah Kalila merona, dia merasa malu. Sepertinya ibu mengetahui jika keduanya telah melakukan penyatuan.
Mishell baru sadar jika hijab Kalila tersingkap dan ada tanda merah di lehernya yang mungkin saja terlihat oleh ibu.
Kemudian Mishell membenahi hijab Kalila, hingga membuat ibu tersenyum.
"Le, kamu harus ingat, istrimu masih belum pulih, jadi jangan terlalu memaksakan keinginan."
"Iya Bu, Mishell paham."
"Iya Bu. Kami balik ke kamar ya Bu," pamit Mishell diikuti oleh Kalila.
Ibu menyunggingkan senyuman, beliau yakin sebentar lagi akan mendapatkan kabar gembira.
Sesampainya di kamar, Mishell menggoda Kalila lagi, dia membisikkan jika akan melakukannya dengan perlahan. Mishell janji Kalila tidak akan merasakan kesakitan seperti tadi.
Akhirnya Kalila pun menyerah, dia tidak bisa menolak kemauan sang suami.
Mishell yang mendapatkan angin segar, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangannya bergerilya menjelajahi ke semua tempat yang kini menjadi kesukaannya.
Respon Kalila membuat semangat Mishell membuncah dan tak ayal lagi, penyatuan yang kedua pun terjadi.
__ADS_1
Mishell dan Kalila sama-sama menikmati surganya rumahtangga dan setelah
tubuh mereka lunglai, keduanya pun tertidur sembari berpelukan.
Kalila terbangun tengah malam, dia ingin ke kamar mandi untuk membuang hajat.
Tapi saat mendengar dengkuran halus sang suami, Kalila pun tidak tega untuk membangunkannya.
Kalila masih merasakan perih di area vitalnya, tapi dia terus berusaha berjalan perlahan sambil berpegangan pada tembok.
Akhirnya Kalila pun sampai di pintu kamar mandi dan dia membukanya perlahan agar Mishell tidak terbangun.
Setelah membuang hajat, Kalila pun bergegas kembali ke kamar, tapi karena kakinya basah, Kalila pun terpeleset dan akhirnya terjatuh ke lantai.
Kepala Kalila membentur pintu dan dia merasakan pusing, samar-samar Kalila kembali melihat cahaya.
Dengan susah payah Kalila pun bangkit, dia harus bisa kembali ke tempat tidur meski tanpa bantuan siapapun.
Bayang-bayang tubuh Mishell terlihat oleh Kalila dan ternyata apa yang di katakan oleh orang-orang saat di rumah Marshell memang benar.
Mishell sangat mirip dengan almarhum Marshell.
Kalila menangis, dia senang sekaligus sedih. Senang bisa melihat wujud sang suami, tapi sedih karena teringat akan Marshell.
Cintanya pada Marshell masih kuat, tapi Kalila juga sedang belajar untuk mencintai Mishell.
Isak tangis Kalila terdengar di telinga Mishell dan Mishell pun bangun untuk mencari istrinya yang saat ini tidak ada di atas kasur.
Mishell melihat Kalila terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya dan sesekali isak tangis masih terdengar.
Kemudian Mishell mendekati dan memeluk Kalila sembari bertanya, "Ada apa Yang? Kamu sakit?"
__ADS_1
Kalila membenamkan wajahnya di dada Mishell dan Mishell pun membawanya kembali ke atas tempat tidur.
Bersambung....