
Hari ini Mishell berangkat lebih pagi ditemani Kalila, mereka menuju ke perusahaan milik keluarga Marshell.
Setibanya di sana, para staf belum pada datang, hanya karyawan rendahan saja yang satu persatu memasuki area kantor.
Hal ini membuat Mishell menggelengkan kepala, dia harus memperbaiki manajemen perusahaan, baik dari tingkat kedisiplinan maupun sistem kerja.
Mishell dan Kalila sengaja berkeliling untuk melihat-lihat suasana. Baru setelah itu mereka pun kembali ke ruangan tunggu.
Sekitar dua jam kemudian barulah Farhan hadir dan itu membuat Mishell sangat kecewa.
Farhan meminta maaf, dia telat karena baru pulang dari rumah sakit.
"Maaf Tuan, saya telat. Reza, adik saya di rawat di rumah sakit. Jadi saya dari tadi malam menemaninya di sana."
"Oh, memangnya Tuan Reza sakit apa?"
"Katanya ada orang yang menganiaya dia. Dan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan."
"Oh, semoga cepat sembuh untuk Tuan Reza. Mungkin besok kami usahakan untuk menjenguknya."
"Terimakasih Tuan Mishell. Oh ya mari saya tunjukkan ruangan Anda," ajak Farhan.
Mishell dan Kalila pun mengikuti Farhan dan mereka diajak ke ruangan yang biasanya di tempati sekretaris, sedangkan sekretaris di minta pindah ke ruangan Farhan.
Setelah melihat-lihat, Mishell pun mengajak Farhan duduk, lalu Mishell mendiskusikan masalah kedisiplinan kerja. Dan mulai besok dia akan mulai merubah aturan masuk.
Farhan berjanji, nanti siang akan mengumpulkan para staf di ruangan rapat. Kemudian Farhan pun menelepon OB agar menyiapkan kopi untuk Mishell dan juga Kalila.
Mereka berbincang cukup lama, mengenai banyak hal yang ingin Mishell ketahui.
Lalu Mishell meminta Farhan agar memerintahkan bagian keuangan untuk mengantarkan laporan keuangan tahun sebelumnya ke ruangan Mishell. Dia ingin mempelajari semuanya.
Farhan terpaksa menuruti semua permintaan Mishell dan untuk saat ini dia benar-benar tidak bisa berkutik.
Saat laporan sudah di antar ke ruangan Mishell, Farhan pun pamit untuk kembali ke ruangan.
Di sana Farhan melempar pena kesembarang arah, dia kesal karena Mishell terlalu mengorek ke dalam manajemen perusahaan.
Setelah emosinya mereda, Farhan pun menelepon sekretarisnya agar menyiapkan rapat serta mengundang para staf. Dan sekretaris itupun segera melaksanakan perintah.
__ADS_1
Mulai sekarang sang sekretaris harus lebih rajin lagi karena dia tidak ingin kena PHK. Dia masih sangat membutuhkan pekerjaan untuk menopang ekonomi keluarganya.
Sementara keperluan rapat masih dipersiapkan, Mishell dan Kalila sibuk memeriksa laporan pengeluaran dana dan di sana ternyata pengeluaran untuk pemilik melampaui batas kewajaran makanya perusahaan nyaris gulung tikar.
Mishell harus bekerja keras untuk menormalkan kembali perusahaan dengan tanpa pemecatan karyawan.
Para karyawan belakangan ini memang gelisah karena takut tempat mereka bernaung akan bangkrut. Tapi Mishell hari ini akan memastikan kenyamanan pekerja asal mereka juga mendukung untuk perubahan struktur kepemimpinan.
Mishell akan merotasi beberapa bagian untuk penyegaran suasana dan mengungkap adanya tindakan korupsi.
Saat keduanya tengah asyik bekerja, Sang sekretaris pun datang memberitahu jika para peserta rapat sudah berkumpul.
Mishell menutup laptopnya, lalu dia bersama Kalila bergegas menuju ke ruangan rapat.
Semua yang hadir memberi hormat, mereka sudah mendengar selentingan bahwa pimpinan akan ganti.
Mishell memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa mulai hari ini banyak aturan yang akan berubah.
Namun aturan tersebut tetap akan didiskusikan dulu untuk kenyamanan bersama.
Sebenarnya dulu semua karyawan sangat disiplin saat masa kepemimpinan papa serta almarhum Marshell. Tapi sejak kepemimpinan perusahaan di ambil alih oleh Farhan dan Reza, mereka pun jadi malas-malasan. Karena gaji mereka juga seringkali di tunda pencairannya.
Minggu depan Mishell akan mengadakan pemeriksaan laporan untuk setiap divisi, makanya dia meminta para staf divisi untuk mempersiapkannya.
Sebagian besar merasa senang dengan berubahnya aturan, karena mereka berharap perusahaan bisa stabil kembali, hingga mereka tidak terancam kehilangan pekerjaan.
Mishell dan Kalila kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaan dan saat jam makan siang mereka putuskan untuk makan di kantin bersama para karyawan.
Pada kesempatan ini, Mishell mentraktir seluruh karyawan sebagai tanda perkenalan darinya.
Para karyawan pun senang, mereka tidak menyangka jika Mishell sama baiknya seperti pimpinan mereka sebelumnya yaitu Marshell.
Setelah makan merekapun mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke ruang kerja masing-masing.
Para karyawan sangat tidak menyangka, jika pemimpin baru mereka sangat ramah, peduli dan membaur kepada bawahan.
Selesai makan Mishell dan Kalila pun memutuskan untuk kembali ke perusahaan Kakek. Besok pagi mereka akan datang lagi ke tempat itu.
Namun sebelum pulang, Mishell akan singgah dulu untuk menemui Papa serta Mama Marshell, dia hanya ingin mengkonfirmasi bahwa audit perusahaan sedang berlangsung.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Mishell memencet bel tapi tidak ada jawaban. Salah seorang pembantu pun tergopoh-gopoh datang dari arah taman.
"Tuan mencari siapa? Kalau mencari para ibu muda mereka tidak di rumah dan mungkin baru akan kembali menjelang Maghrib."
"Tapi jika mwncari Tuan besar beserta Nyonya, mereka ada di ruang kamar paling ujung," kata sang pelayan.
"Baiklah, tolong antar kami kesana," ucap Mishell.
Mereka pun di antar ke kamar tersebut, dan ternyata sangat memprihatikan. Kamar itu sangat kecil dan pengap bukan seperti saat Mishell kemaren datang kesini saat acara selamatan.
Kamar itu dulunya memang untuk pembantu, tapi Ibu muda kedua meminta pembantu untuk pindah ke paviliun sementara kedua orangtua Marshell di pindahkan ke kamar itu.
Kalila mendesah dan merasa iba, kenapa setelah kepergian Marshell, kehidupan orangtuanya begitu memprihatinkan.
Saat melihat Kalila bisa berjalan dan melihat, keduanya pun merasa sangat senang. Mama Marshell langsung memeluk Kalila.
Sementara Mishell berbincang dengan Papa Marshell tentang perusahaan yang baru di ubah tata aturan untuk para karyawan.
Papa Marshell mendukung semua rencana Mishell, yang terpenting perusahaan bisa kembali normal.
Setelah berbincang banyak hal, Papa Marshell pun meminta secarik kertas dan pena, lalu beliau menuliskan sebuah nomor kontak di sana dan menyerahkan kepada Mishell serta Kalila.
Mishell menerimanya dengan bingung, lalu diapun bertanya, "Ini nomor siapa Pak?"
"Nomor Pengacara, aku ingin bicara dengan dia tapi jangan sampai kedua istri dan anak-anakku mendengarnya."
"Tolong Nak, bantu kami untuk menemuinya. Ada surat penting yang harus aku ubah secepatnya."
"Baiklah Pak, kami akan membantu, tapi tidak sekarang, mungkin besok kami akan kembali untuk menjemput Bapak Ibu agar bisa bertemu pengacara tersebut."
Mishell dan Kalila pun pamit tapi sebelumnya Mama Marshell meminta izin untuk menyentuh wajah Mishell.
Beliau ingin melepas kerinduan terhadap almarhum Marshell melalui Mishell.
Sejenak Mama Marshell memperhatikan tahi lalat di dagu Mishell dan beliau teringat dengan bayi mungil yang dulu diserahkan kepada pelayan yang membantunya saat melahirkan.
Air mata pun menetes, beliau berharap Mishell lah bayi itu. Tapi untuk saat ini Mama masih menunggu saatnya tiba untuk membuktikan hal itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Bersambung.....