HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 51. RENCANA MISHELL DAN KALILA


__ADS_3

"Jadi siapa orang tua kandungku Bu?"


Bu Anis pun membuka mainan berbentuk hati pada liontin tersebut dan beliau menunjukkannya kepada Mishell dan juga Kalila.


Mishell dan Kalila sama mengernyitkan dahi, lalu keduanya saling pandang dan bersamaan berkata, "Mereka kok mirip dengan Papa Mama nya almarhum Marshell Bu?"


"Apa maksud kalian Nak? Apakah Marshell tunangan kamu dulu?"


Kalila pun mengangguk lalu menyebutkan nama Papa dan juga mamanya Marshell.


Bu Anis pun menangis, beliau tidak menyangka jika takdir telah mempertemukan Mishell dengan kedua orangtua kandungnya sebelum waktu yang mereka janjikan tiba.


"Bu, kenapa Ibu menangis? Apakah benar orangtua Marshell adalah orangtuaku dan almarhum Marshell itu saudara kembarku?" tanya Mishell.


Bu Anis mengangguk dan air matanya tidak terbendung lagi. Mishell tidak tega melihat ibunya menangis, lalu dia mengelap air mata Bu Anis sembari berkata, "Ibu jangan sedih, Mishell tidak suka melihat ibu seperti ini. Mishell sayang ibu, meskipun kenyataannya Mishell bukan darah daging ibu dan bapak."


Mendengar hal itu Bu Anis langsung menghambur ke pelukan Mishell, dia tahu Mishell anak yang baik dan tidak akan mengabaikannya meskipun dia mengetahui rahasia besar ini.


"Bu, terimakasih. Terimakasih telah merawat dan menyayangiku. Ibu adalah ibuku dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu di hatiku. Aku bangga memiliki Ibu."


Bu Anis makin menangis, kini hatinya merasa lega. Mishell tidak akan melupakannya meski sudah bertemu mamanya.


Kalila pun ikut menangis, lalu diapun bertanya bagaimana bisa Mishell terpisah dari keluarganya.


Kemudian ibupun menjelaskan panjang lebar dari awal sang majikan di nyatakan hamil hingga melahirkan anak kembar tanpa ada yang tahu kecuali dirinya dan suami.


Mendengar cerita Bu Anis, Mishell pun semakin geram, jadi itu semua juga karena ulah kedua ibu muda.


"Dasar mereka tidak tahu diri, sudah di kasi hati jantung pun diminta, aku jadi curiga jika kecelakaan kami ada hubungannya dengan mereka," ucap Kalila kesal.


"Makanya kalian harus hati-hati Nak, jangan sampai mereka mencelakai kalian juga."


"Kali ini mereka rada susah berkutik Bu, karena perusahaan Papa sekarang ada dalam genggamanku. Jika aku mau, aku bisa membalikkan semuanya. Mereka akan menangis dan merangkak di hadapan Papa dan Mama."


"Oh ya Nak, apa Mama kamu tidak curiga dengan kemiripan wajahmu dengan Marshell saat kalian bertemu?"

__ADS_1


"Barangkali curiga Bu, soalnya beliau memintaku mendekat dan memperhatikan serta memegang wajahku cukup lama. Beliau juga menangis, hingga aku mengatakan beliau boleh menganggapku anak."


"Oh, berarti beliau masih menunggu saat perjanjian kami tiba. Cobalah kalian atur pertemuan, saat ulang tahunmu nanti, agar kita bisa bertemu dan mengungkap semuanya."


"Iya Bu, kami akan usahakan hal itu. Tapi kita harus tetap hati-hati, aku tidak ingin mereka menyakiti Papa dan Mama. Aku akan membawa Papa Mama keluar dari rumah itu sebelum mereka curiga dan mengetahui rahasia ini juga."


"Begini saja Kak, biar aku dan Hans yang atur, Kak Mishell tetap saja fokus dengan urusan perusahaan. Tendang mereka secepatnya dari sana."


"Mereka sudah cukup banyak menikmati harta Papa, kini giliran Kak Mishell, lagipula saham terbesar sekarang adalah milik kita."


"Baiklah Sayang, tapi kamu harus hati-hati. Aku tidak mau kamu celaka."


"Siap Kak. Besok aku akan kesana bersama Hans, bila perlu Kakek pun ikut, biar mereka tidak bisa berkutik. Aku pastikan, akan membawa mereka keluar sebelum ulang tahun Kakak."


"Terimakasih sayang."


"Ibu lega sekarang. Terimakasih Nak, Mama kamu orang baik, beliau berhak bahagia apalagi setelah kehilangan satu putranya. Kamu akan menjadi pengobat luka hatinya."


"Sekarang ibu balik ke kamar dulu ya. Kalian istirahatlah, terutama kamu Nak Kalila."


"Oh ya satu lagi pesan ibu Nak, sabarlah dalam menghadapi istri yang sedang hamil, karena emosi ibu hamil seringkali tidak stabil."


"Iya Bu. Inshaallah Mishell akan berusaha tetap sabar."


"Ya sudah, ibu keluar ya."


Keduanya pun mengangguk, lalu Mishell mengantar ibu sampai ke depan pintu.


Setelah itu, Mishell kembali menghampiri Kalila dan bertanya, "Maaf ya Sayang kalau aku tadi membuatmu kesal. Aku sayang kalian," ucap Mishell sembari memeluk Kalila lalu mencium perut yang masih terlihat rata."


Kini Kalila yang merasa bersalah dan diapun berbalik meminta maaf.


"Kak Mishell tidak salah, justru aku yang menyebalkan. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa kesal, padahal Kak Mishell tidak melakukan kesalahan."


"Ya sudah nggak apa-apa, sesuai kata ibu tadi, emosi ibu hamil tidak stabil. Sini aku peluk lagi, aku ingin menjenguk bayi kita."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Kalila melotot, lalu dia buru-buru menarik selimut dan menutup dirinya hingga tidak terlihat.


Mishell tertawa melihat tingkah Kalila, lalu dia mencium puncak kepala istrinya yang tertutup selimut.


"Sayang buka dong, nanti anak kita tidak bisa bernapas."


Kalila membukanya dan memasang muka cemberut sambil berkata, "Jadi Kak Mishell cuma mengkhawatirkan anak kita saja! Kak Mishell tidak mencemaskan aku jika kesulitan juga bernafas."


"Haduh, salah lagi deh," monolog Mishell.


Kemudian diapun memeluk Kalila dan meminta maaf, "Tentu saja aku mengkhawatirkan kalian berdua Sayang. Kalian itu hidupku. Tolong dong jangan ngambek lagi. Aku minta maaf Sayang. Kamu cantik jika tersenyum, ayo dong beri aku senyuman."


Kalila pun merubah mimik cemberutnya dan kini dia tersenyum manis lalu mencium suami tampannya itu.


"Nah, jika begini aku jadi lebih bersemangat untuk menjenguk baby ku."


"No!" tolak Kalila dan langsung mendorong tubuh Mishell, hingga Mishell pun jatuh ke lantai.


Mishell meringis dan memegangi pinggangnya, dia pura-pura merasakan sakit hingga membuat Kalila khawatir dan tentunya merasa bersalah.


Lalu Kalila pun ikut turun ke lantai dan berusaha membantu Mishell agar naik kembali ke sisi tempat tidur.


"Maaf Kak, mana yang sakit, biar aku Balur dengan minyak urut ya."


"Aduh...duh. Nggak apa-apa deh, aku sakit karena kalian. Sakit ini belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan seorang ibu hamil hingga melahirkan."


"Ya sudah deh, aku minta maaf Kak. Sekarang Kakak boleh menjenguk dedek, tapi pelan-pelan ya."


Mendengar hal itu, senyum Mishell mengembang. Daripada istrinya berubah pikiran, lebih baik Mishell segera melancarkan aksinya.


Mishell mendaratkan ciuman dan dia tidak membiarkan bibir manis istrinya itu berucap lagi. Dengan rakus Mishell pun ********** hingga Kalila kesulitan bernafas.


Mishell pun melanjutkan aksinya seperti biasa, tapi kali ini Mishell sangat berhati-hati agar tidak menyakiti bayi yang baru tumbuh di rahim istrinya.


Keduanya pun tertidur setelah pertempuran panas itu dan mereka terbangun saat mendengar suara ponsel Mishell berdering berulangkali.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2