
"Ayo kesini Nak, apa perlu kita bangunkan Mishell?"
"Jangan Bu! kasihan, kak Mishell baru saja tidur."
"Iya ya. Ya sudah deh, nanti kalau ada hal yang mencurigakan lagi, baru kita bangunkan dia."
Sementara penyusup tersebut kembali, "Sial, sebenarnya di ruangan mana gadis itu di rawat! Gara-gara wanita lumpuh tadi, aku terpaksa bersembunyi di sini!"
Kemudian, si penyusup pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia ingin menggeledah kamar kembali.
"Aku tidak boleh gagal, bos pasti akan memarahiku!"
Penyusup terus mengendap, dia kembali memeriksa satu persatu kamar yang ada di sana. Hingga tiba di kamar yang terkunci.
"Tadi, gadis lumpuh dan pembantunya masuk kesini, berarti mereka ada di dalam kamar ini. Ah, sial...aku gagal lagi menemukan gadis itu. Aku mau pastikan, jika bos aman dan gadis itu dan keluarganya tidak mengenali dan menuntut bos!"
Akhirnya penyusup itupun pergi, dia tidak menemukan gadis yang dia cari.
Suara panggilan subuh membangunkan Alex, lalu dia bergegas membersihkan diri lalu lanjut beribadah. Begitu pula dengan Kalila, Vita dan juga ibu. Sedangkan Anggun masih meringkuk dan tatapannya masih sama.
Selesai ibadah, Mishell pun mengajak Kalila untuk membeli sarapan di kantin. Sementara Vita menemani ibu menjaga Anggun.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa Yang?"
"Terserah saja Kak, bubur pun jadi."
"Sebentar ya, aku pesan dulu."
Mishell pun segera memesan bubur serta sarapan lain untuk ibu dan juga Vita.
Sambil menunggu pemilik kantin menyiapkan pesanan, Mishell mengajak Kalila ngobrol di teras kantin.
"Kamu sudah telepon Kakek Yang. Aku belum bisa ke pabrik hari ini. Nggak enak juga, baru masuk kerja, sudah libur lagi."
"Nggak apa-apa Kak, biasanya kalau ada kondisi darurat, kakek yang akan langsung turun ke pabrik."
"Baiklah, ayo kita kesana. Maaf ya Yang, jadi menyusahkan kamu."
"Kakak jangan sungkan, masalah Kak Mishell adalah masalah ku dan masalah ku bukankah kak Mishell selalu berusaha membantuku."
"Terimakasih Yang."
Mishell pun menyerahkan kantong plastik berisi makanan kepada Kalila, sementara dirinya membawa minuman sambil mendorong kursi roda.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan, Mishell pun meminta ibu dan Vita untuk makan bareng dengan Kalila, sedangkan dirinya akan menyuapi Anggun terlebih dahulu, baru setelah itu menyantap sarapannya.
Selesai makan, dokter pun masuk, lalu memeriksa Anggun. Walaupun Anggun masih tetap tidak mau ngomong, tapi setidaknya tidak histeris seperti kemaren.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Mishell.
"Biar dia tenang dulu Pak, jangan dipaksa untuk berinteraksi seperti biasa. Anggun sudah boleh pulang, tapi jika keadaan makin memburuk, cepat bawa kembali ke sini."
"Baik Dok, terimakasih ya Dok."
"Pokoknya jangan biarkan dia stres berlarut, hiburlah agar dia bisa kembali ceria dan melupakan masalah yang membuatnya terbeban."
Setelah mengatakan hal itu, dokterpun memberikan resep obat, lalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
Mishell merasa tenang lalu dia mengajak semuanya untuk bersiap, mereka akan pulang ke rumah kakek.
Ibu sudah setuju untuk tinggal di rumah kakek demi kesehatan Anggun.
Pak sopir pun sudah bersiap, lalu Mishell menuntun Anggun ke luar rumah sakit.
Diperjalanan pulang, Anggun tetap diam, pandangannya masih kosong. Mishell merasa sedih, bagaimanapun caranya dia harus bisa memulihkan keceriaan Anggun.
__ADS_1
Anggun masih sangat muda, dia harus bisa menata hidupnya kembali.
Bersambung.....