
Mishell menyelimuti tubuh Kalila, meski dirinya sakit, tapi dia tetap ingin memberikan rasa aman serta nyaman untuk sang istri.
Setelah Kalila tertidur, Mishell pun membawa tiang infus, dia akan tidur di sofa.
Dua penjaga yang mengantuk, pergi ke kantin untuk membeli kopi, keduanya tidak menyangka jika kelengahan mereka di manfaatkan.
Dua orang yang memakai tutup kepala celingukan, lalu mereka membuka pintu ruang rawat Mishell.
Mishell yang mengantuk karena pengaruh obat, tidak menyangka jika bahaya sedang mengancam.
Kedua orang itu mendekati tempat tidur di mana Kalila sedang tidur lelap.
Satu orang memberi kode agar memperhatikan Mishell, sementara yang satunya lagi sudah bersiap untuk membekap mulut Kalila.
Kalila yang merasa gelisah pun terbangun dan kesunyian membangkitkan rasa takutnya lagi akan bayangan masa lalu, saat dirinya hampir dilecehkan.
Kalila meraba-raba, dia berharap menemukan Mishell di sana. Tapi yang membuatnya kaget, dia tersenggol tangan lain.
Jika itu Mishell pasti aroma parfumnya tercium dan bakal bersuara karena lengannya yang luka tersenggol.
Belum sempat Kalila berkata, tangan itu membekap mulutnya, hingga membuatnya terkejut dan ketakutan.
Kalila berontak, tangannya mencakar kesana kesini, berharap mengenai orang yang membekapnya.
Dia tidak boleh menyerah dan Kalila berhasil menggigit tangan orang yang membekapnya.
Suara jeritan dan tangis Kalila pun terdengar hingga membuat Mishell terbangun.
Tapi orang berpenutup kepala yang satunya lagi menghalangi Mishell agar tidak menolong Kalila.
"Siapa kalian! Apa yang kalian inginkan. Jangan coba-coba sakiti Kalila!" teriak Mishell yang mencoba melepaskan diri.
Mishell dan Kalila sama-sama melawan, hingga Kalila terjatuh dari atas tempat tidur.
Kalila dibekap hingga kesulitan bernafas. Mishell yang melihat hal itu mengamuk, dia tidak memperdulikan lukanya yang kembali mengeluarkan darah.
Selang infus juga sudah terlepas dari tangannya.
Mishell bisa lepas dari lawannya dan dia langsung menghambur untuk menolong Kalila. Mishell menarik serta memukul orang tersebut, hingga Kalila bisa bernafas kembali.
Namun, Mishell tidak menyadari jika satu lawannya berhasil memukul kepala Mishell dan diapun pingsan.
Kalila menangis, dia bingung bagaimana caranya untuk membantu Mishell.
Dia berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengar dan datang.
__ADS_1
Dengan bermodalkan filling, Kalila melawan keduanya agar pergi dari Mishell.
Saat Kalila sudah terdesak, kedua pengawal yang tadi pergi membeli kopi pun tiba.
Mereka yang mendengar suara teriakan dan tangis dari dalam, segera masuk dan berusaha menolong Tuannya.
Kedua penyusup itupun kabur. Mereka akan mengejar tapi Kalila melarang, dia ingin mereka menolong Mishell terlebih dahulu.
Satu pengawal memanggil dokter dan satunya lagi berusaha membantu Mishell yang baru sadar untuk naik ke atas tempat tidur.
Setelah itu, pengawal membantu Kalila untuk naik ke atas kursi rodanya.
"Bagaimana keadaan Kalila?" tanya Mishell yang baru sadar.
"Tuan jangan khawatir, Nona selamat."
Mendengar Mishell malah menanyakan keselamatannya, Kalila pun melajukan kursi rodanya dan mendekat.
"Kak Mishell, bagaimana keadaan Kakak?"
"Aku baik-baik saja Yang, kamu bagaimana? Apa ada yang sakit?"
Aku nggak apa-apa lho Mas, cuma pinggang saja yang sakit karena sempat terjatuh dari atas tempat tidur.
"Maaf Nona, maaf Tuan! Ini semua kesalahan kami yang sempat lengah. Kami tidak menyangka, masih saja ada orang yang ingin menyakiti Nona dengan kondisi seperti ini."
Mishell bersyukur Kalila tidak terluka, tapi dia juga harus lebih waspada. Musuh sudah mulai melakukan pergerakan lagi.
"Kak, benarkan yang aku ceritakan tadi. Tapi sebaiknya jangan katakan dulu ke Kakek. Aku nggak mau Kakek khawatir. Sampaikan juga ke pengawal agar waspada dan tutup mulut untuk sementara."
"Di sini tidak aman untuk mu Yang, sebaiknya besok kita pulang. Aku ingin perawatan di rumah saja. Saat ini rumah kakek adalah tempat teraman untukmu."
"Bukannya aku tidak bisa melindungimu, tapi musuh kita sepertinya bukan orang sembarangan. Apalagi dengan kondisiku seperti ini, aku akan sulit melawan untuk melawan mereka."
"Iya Kak."
Kalila memegang lengan Mishell dan Mishell pun mengerang karena lukanya yang berdarah tersenggol oleh tangan Kalila.
Dokter pun masuk ke ruangan mereka, lalu beliau memeriksa keadaan Mishell.
"Bagaimana Dok!" tanya Kalila.
"Kita buka lagi perbannya dan mengganti dengan yang baru. Tampaknya, Luka ini menganga hingga darahnya merembes."
"Iya Dok."
__ADS_1
"Suster, tolong ambilkan alkohol sm
"Baik Dok!"
"Sebenarnya apa yang terjadi Dek, kok bisa lukanya seperti ini?"
Mishell pun menjelaskan kepada Dokter, tentang kejadian tadi. Dokter merasa tidak enak, karena kelalaian pihak rumah sakit hampir membuat pasiennya celaka.
"Dok, apakah saya bisa mendapatkan perawatan di rumah saja?" tanya Mishell.
"Iya Dok, kami rasa akan lebih aman di rumah. Mereka bisa kapan saja datang kembali ke sini, sementara kondisi suami saya belum pulih untuk bisa melawan mereka!"
"Baiklah, nanti saya akan bicarakan hal ini dengan pihak rumah sakit."
"Terimakasih Dok."
Suster pun sudah tiba membawa alkohol serta perban, lalu dokter pun mulai membersihkan luka Mishell satu persatu.
Setelah selesai, dokterpun pamit, beliau akan mengurus kepulangan Mishell pagi nanti.
Mishell meminta Kalila untuk tidur kembali, karena masih dinihari. Tapi, Kalila tidak mau, dia takut akan ada penyerang yang menyusup lagi.
Akhirnya mereka habiskan waktu untuk mengobrol sampai menjelang pagi.
Mishell menceritakan tentang kehidupannya saat kecil dan bagaimana perjuangan ibu untuk membesarkan dirinya serta Anggun setelah ayahnya meninggal.
Kalila mendengarkan dan merasa iba, ternyata hidupnya lebih beruntung. Tapi, dia sedih saat Mishell bertanya tentang kejadian yang menimpa orangtuanya.
Kecelakaan yang hampir sama seperti yang Kalila alami, bedanya Kalila beruntung bisa selamat, sedangkan kedua orangtuanya meregang nyawa di tempat terjadinya kecelakaan.
Mishell minta maaf karena telah mengusik masa lalu Kalila, dia tidak bermaksud membuat Kalila bersedih.
Dia hanya ingin menyelidiki dan mencoba mengaitkan tiap kejadian dengan kejadian yang lain, barangkali bisa menemukan titik terang.
Fajar pun menyingsing, meskipun sakit Mishell tetap menjalankan ibadah, dia melakukan tayammum sebagai pengganti wudhu.
Sama halnya dengan Kalila. Saat ini Kalila juga tidak bisa ke kamar mandi, karena kondisi Mishell belum memungkinkan untuk menggendongnya dan berwudhu.
Setelah menjalankan ibadah, Mishell pun memanggil pengawal dan Mishell memintanya untuk membeli sarapan buat mereka.
Menu rumah sakit tentu saja kurang enak, makanya Mishell memilih membeli makanan dari luar.
Setelah pengawal datang membawa makanan, Mishell pun ingin menyuapi Kalila terlebih dahulu, tapi Kalila menolak.
"Aku makan sendiri saja Kak, Kak Mishell makan saja. Aku harus belajar melayani diriku sendiri."
__ADS_1
"Baiklah, ini sendoknya Yang. Tapi, hati-hati makannya ya."
Kalila pun mengangguk, lalu diapun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mishell juga memakan sarapannya sambil memperhatikan sang istri.