HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 9. MEMBERIKAN RASA AMAN DAN NYAMAN


__ADS_3

Saat Mishell baru mulai membacakan cerita untuk Kalila, terdengar suara ketukan pintu.


Mishell pun beranjak membuka pintu dan dia melihat Vita datang membawa sebuah kotak.


"Tuan Mishell, ini dari Tuan besar, mohon di terima!"


"Apa ini Mbak?"


"Ponsel baru Tuan. Tuan besar berpesan, jika ada apa-apa dengan Nona, hubungi beliau, nomornya sudah di save di sini."


"Ini ada satu lagi Tuan!" ucap Vita sambil mengacungkan sebuah Kartu bank.


"Untuk apa Mbak? Saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami."


"Saya cuma menjalankan amanah Tuan. Oh ya Tuan, jam 4 sore biasanya saya memandikan Non Kalila."


"Biar Saya saja Mbak! Selagi di rumah, semua keperluan Kalila, saya yang urus, tapi jika Saya keluar, mohon bantuan, saya akan merepotkan Mbak lagi."


"Nggak apa-apa Tuan, jangan sungkan, itu memang tugas saya. Saya permisi dulu ya Tuan."


Sepeninggal Vita, Mishell pun kembali duduk di sisi tempat tidur. Mishell melihat, Kalila gemetar dan keringat dingin membasahi keningnya. Sekarang tubuh Kalila juga sudah bergeser dari tempatnya.


Mungkin ini yang dimaksud oleh Vita, Kalila seperti trauma tidur di atas tidur, sendirian dan tidak bisa berbuat apapun.


Mishell ingin membuat sang istri merasa nyaman, dia ingin memberi perlindungan dari apa yang ditakutkan oleh Kalila meski Mishell belum tahu apa penyebabnya.


Dia bergeser, memposisikan tubuhnya agar bersandar di kepala tempat tidur. Lalu, Mishell merengkuh tubuh Kalila ke dalam pelukannya.


Mishell berharap dengan begitu Kalila akan merasa aman dan bisa tidur tanpa rasa takut.


"Tidurlah Sayang. Maaf, aku tadi meninggalkanmu, sebenarnya apa yang membuatmu takut, bicaralah! Aku ingin menolongmu."


Kalila hanya menitikkan air mata, mulutnya masih saja membisu sambil berusaha melepaskan pelukan Mishell.


"Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu. Aku ingin, kamu bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk."


Mishell menghapus air mata Kalila, lalu mencium puncak kepalanya sambil berkata, "Sekarang kamu aman, jangan takut Sayang, aku akan menjagamu. Tidurlah..."


Lelah meronta, akhirnya Kalila pun tertidur. Mishell juga ikut tidur tanpa melepas pelukannya. Namun, Mishell tersentak saat ketukan pintu kembali terdengar.


Mishell melihat Kalila masih tidur nyenyak dan dia perlahan merebahkan tubuh Kalila sebelum turun untuk melihat siapa yang datang.


"Maaf Tuan, Saya mengganggu, ibu Anda datang ingin bertemu, saat ini sedang di pos jaga karena beliau tidak mau masuk!"

__ADS_1


"Ibu? Ada apa ya!"


"Katanya penting Tuan?"


"Baiklah Mang, aku segera keluar. Tapi, tolong panggilkan Mbak Vita, aku ingin dia menemani Kalila selama aku temui Ibu."


Mang Koko pun mengangguk, lalu dia memanggil Vita sebelum kembali ke pos jaga.


Saat Vita datang, Mishell pun memintanya agar jangan meninggalkan Kalila sampai dia terbangun.


Vita diminta menggenggam tangan Kalila, agar dia tetap merasa aman. Bahwa ada seseorang yang menemaninya selama dia tidur.


Mishell ingin tahu, apakah cara tersebut akan berhasil mengatasi trauma Kalila atau tidak.


Setelah Vita melakukan apa yang diminta dan melihat Kalila masih nyaman, Mishell pun segera turun untuk menemui sang Ibu.


Mishell setengah berlari menuju pos jaga, dia tidak mau ibunya menunggu terlalu lama.


Sesampainya di pos jaga, dia melihat Bu Anis yang terlihat gelisah.


"Bu, kenapa tidak masuk?"


"Le, tolong bantu ibu! Anggun tidak ada di sekolah. Kata teman-temannya dia keluar saat jam istirahat. Bagaimana ini Le, kenapa adikmu jadi seperti ini. Tidak mendengar omongan kita."


"Ibu tenang ya, Mishell akan mencarinya. Ibu pulang saja dan menunggu Anggun di rumah. Mana Pak sopir yang mengantar ibu?"


"Ayo Bu, kita temui Pak sopir."


Ibu pun pamit kepada penjaga gerbang, lalu mengikuti Mishell menemui Pak Sopir.


"Pak, tolong antarkan ibu saya pulang ya. Maaf jika kami telah merepotkan Bapak."


"Nggak apa-apa Tuan, inikan memang tugas saya."


"Bu, hati-hati ya. Pokoknya ibu jangan cemas, Mishell pasti bawa Anggun pulang."


"Baiklah Le, ibu pulang dulu ya. Titip salam untuk menantu."


"Iya Bu, nanti Mishell sampaikan."


Mishell harus secepatnya mencari Anggun, tapi diapun bingung harus mencari kemana.


"Anggun...Anggun, kenapa bikin khawatir. Aku tidak boleh lengah, dua wanita butuh perhatian ekstra," monolog Mishell.

__ADS_1


Mishell bergegas masuk, dia tidak boleh sembarang pergi tanpa pamit.


Saat Mishell kembali ke kamar, Kalila sudah bangun. Vita sedang berusaha untuk memindahkan Kalila ke atas kursi roda.


"Biar saya saja Mbak!" pinta Mishell.


"Maaf Tuan, Non Kalila terbangun begitu tuan pergi. Saya akan mengajaknya ke taman, sambil menunggu waktunya Non Kalila mandi."


"Begini Vita, saya ada urusan penting, jadi saya mohon temani dan bantu Kalila. Mungkin malam hari, saya baru kembali."


"Baik Tuan."


Mishell menggendong serta memindahkan Kalila ke atas kursi rodanya, setelah itu diapun merendahkan tubuhnya, pamit kepada Kalila.


"Aku pergi dulu Yang, Mbak Vita akan menemani Kamu. Aku akan pulang secepatnya," ucap Mishell sambil menggenggam dan mencium tangan Kalila.


Kalila menarik lengan baju Mishell, saat Mishell bangkit dan hendak pergi.


Mishell berbalik, menatap wajah Kalila yang masih tanpa ekspresi. Tapi, saat melihat tangan Kalila masih mencengkeram lengan bajunya, Mishell tersenyum, setidaknya ada kemajuan. Kalila menahan Mishell yang hendak pergi.


Menumbuhkan kepercayaan, itulah langkah awal yang harus Mishell lakukan dalam mengambil hati Kalila.


"Ada apa Yang? Aku harus pergi, adikku belum pulang dari sekolah. Ibu khawatir, jadi aku akan mencarinya."


"Oh ya, ibu titip salam, kapan-kapan aku akan ajak kamu ke rumah kami," ucap Mishell.


Kalila belum juga melepaskan cengkeraman tangannya, hingga membuat Mishell kembali membungkukkan tubuhnya, menggenggam tangan itu sambil berkata, "Izinkan aku pergi ya, aku janji akan segera kembali untuk menemanimu."


Kalila pun perlahan melepaskan cengkeraman tangannya, Mishell berhasil berkomunikasi dengan Kalila meski dia belum mau membuka suara.


"Terimakasih Sayang, aku pergi dulu ya. Vit, kalau ada apa-apa dengan Kalila, tolong secepatnya telepon saya. Ini nomor Saya," ucap Mishell sambil menuliskan nomor kontaknya ke secarik kertas dan memberikan kepada Vita.


Sebelum pergi, Mishell menemui Kakek, dia minta izin untuk membawa motor. Bagi Mishell, naik motor akan lebih cepat dan dia bisa leluasa melintasi jalan-jalan kecil bila dibutuhkan.


Kakek memerintahkan pengawal pribadinya untuk mengikuti Mishell, karena beliau tidak ingin terjadi hal buruk, sementara harapan baik baru saja beliau gantungkan di pundak pemuda itu.


Mishell mencoba menghubungi Anggun, tapi tidak ada jawaban, padahal ponselnya aktif.


Anggun yang sedang berada di pesta temannya merasa gelisah, tapi dia tidak berani mengangkat telepon dari sang kakak.


Reza berulangkali menyodorkan minuman, tapi Anggun tetap menolak. Dia tidak terbiasa minum minuman beralkohol.


Mencium aromanya saja membuat perut Anggun mual apalagi meminumnya.

__ADS_1


Karena paksaan dari Reza, Anggunpun mencicip sedikit, sambil menutup hidungnya. Namun, belum lagi tertelan, Anggun berlari ke kamar mandi dan akhirnya memuntahkan isi perutnya.


Bersambung......


__ADS_2