
"Huh, dasar mental penipu! Dia pikir bisa mengkadali kita!" ucap Mishell kepada Hans yang pergi meninggalkan ruangan Farhan.
"Iya Bos, enak saja mereka yang mau pegang kendali. Mending sedekahkan ketimbang di sikat habis oleh para pecundang seperti mereka.
"Aku jadi curiga Hans, jangan-jangan Marshell disingkirkan oleh mereka bukan karena kecelakaan biasa."
"Bisa jadi Bos. Begitulah jika memiliki istri dan putra banyak dari pernikahan yang berbeda. Harta bisa jadi pemecah belah dan keserakahan menjadi malapetaka."
"Beruntung Tuan besar tidak menikah lagi, jika iya kita juga tidak bisa menjamin jika mereka tidak akan menyingkirkan Non Kalila, apalagi jika kondisinya masih sama seperti kemaren."
"Iya, kamu benar Hans."
"Dan syukurnya Tuan besar jeli memilih cucu menantu. Bisa saja kan orang memperalat Non Lila hanya untuk menguasai harta Tuan besar."
"Kamu bisa saja Hans."
"Benar Tuan Mishell, pertimbangan dan keputusan Tuan besar sejak dulu patut diacungi jempol, apalagi dalam hal bisnis. Makanya beliau bisa mencapai kejayaan seperti saat ini."
"Kamu sudah lama ya Hans bekerja dengan Kakek?"
"Sejak Non Kalila kecil."
"Berarti kamu sempat mengenal orangtua Kalila?"
"Iya Tuan, mereka sangat baik. Tapi sayang, nggak panjang usia. Nasib mereka sama seperti Tuan Marshell, meninggal dalam kecelakaan."
"Kok bisa begitu ya? Apa mungkin ada unsur kesengajaan juga Hans?"
"Entahlah Tuan, dulu kakek tidak mau mengusut hal itu. Beliau fokus dengan mengurus Non Kalila. Tapi memang aku curiga dengan seseorang."
__ADS_1
"Maksudmu, memang ada yang sengaja mencelakai mereka?"
"Iya. Tapi itu dugaan saya Tuan."
"Kalau boleh saya tahu, siapa orang itu Hans?"
"Kerabat Tuan besar dan sekarang mengurus bisnis Tuan yang ada di luar negeri."
"Oh, kakek punya bisnis di luar juga?"
"Ada beberapa, tapi beliau telah percayakan kepada kerabatnya itu. Padahal menurut saya kinerja mereka kurang bagus. Dan aset banyak yang mereka selewengkan."
"Kenapa kakek tidak curiga atau menindak kerabatnya itu Hans?"
"Tuan besar pernah berkata, selagi tidak ada yang mengusik beliau di sini, hal itu tidak akan beliau permasalahkan. Karena bagi Tuan besar asetnya di sini sudah lebih dari cukup untuk Non Kalila beserta keturunannya nanti."
"Aku juga menduga seperti itu Tuan. Tapi lagi-lagi Tuan besar tidak mempermasalahkan."
"Bagi beliau kebahagiaan Non Kalila lebih penting ketimbang berprasangka buruk terhadap orang."
"Iya sih, tapi kita juga harus berhati-hati, bisa saja hal yang sama terjadi lagi."
"Iya Tuan. Oh ya Tuan, apakah sudah ada kabar dari kakek tentang orang yang mengancam itu?"
"Belum Hans, ini yang aku tidak habis pikir. Mereka memanfaatkan posisi kami malah untuk memeras kakek. Aku penasaran, siapa sebenarnya orang-orang ini. Musuh keluargaku atau musuh kakek."
"Aku sebenarnya tidak setuju Hans jika Kakek memenuhi keinginan mereka, bisa saja mereka telah menduplikat video itu dan suatu saat memeras lagi. Tapi Kakek sudah membuat keputusan, aku tidak bisa membantah beliau."
"Tapi cuma cara ini Tuan untuk sementara membungkam mereka, kasihan juga Non Anggun jika sampai video itu tersebar. Masa depannya bakal hancur dan Non Anggun tidak akan punya muka lagi di mata masyarakat."
__ADS_1
"Iya Hans. Coba aku hubungi kakek dulu ya Hans."
Kemudian Mishell menelepon Kakek Artha dan ternyata memang belum ada kabar dari si pemeras tersebut.
"Belum ada Hans, sebaiknya kita balik ke rumah saja. Kita tunggu di sana."
"Baiklah Tuan."
Hans melajukan mobil ke rumah kediaman kakek Artha. Sepanjang jalan Mishell dan Hans banyak ngobrol tentang perusahaan dan masa lalu Kalila bersama kedua orang tuanya.
Tapi Mishell juga penasaran dengan Hans yang sampai sekarang belum juga menikah.
"Oh ya Hans maaf jika aku ikut campur, aku sebenarnya juga penasaran dengan hidupmu."
"Ada apa dengan hidupku Tuan. Aku cuma pengawal Tuan besar. Dulu aku di tolong oleh orangtua Non Kalila hingga bisa bekerja di sini."
"Bukan itu Hans, kenapa sampai sekarang kamu belum juga menikah? Padahal kamu cukup tampan dan kehidupan mu juga sudah mapan?"
"Belum ada wanita yang cocok Tuan. Tuan tahu sendiri, aku harus siap siaga kapanpun Tuan besar membutuhkan tenagaku, jadi aku masih ingin fokus melayani Tuan besar beserta seluruh keluarga ini."
"Wanita yang menjadi istriku harus faham dengan tanggungjawab ku Tuan. Jangan gara-gara wanita aku jadi orang yang tidak tahu balas budi."
"Tapi Hans, usiamu tidak lagi muda, kamu juga harus pikirkan masa depanmu sendiri. Kakek pasti faham dan tidak mau melihatmu hidup melajang sampai tua."
"Iya Tuan, nanti pasti saya pikirkan hal itu. Terimakasih Tuan Mishell atas perhatian Anda."
Keduanya pun terus berbincang hingga tidak terasa telah sampai di rumah.
Bersambung.....
__ADS_1