
"Terimakasih Shell, Kakek senang, berkat kamu Kalila makin bersemangat untuk sembuh."
"Itu semua tergantung kemauan Kalila Kek, aku hanya berusaha memberikan dukungan semangat."
"Oh ya Nak, Kakek hampir lupa, keluarga Marshell mengundang kita untuk datang ke acara mendoa yang akan dilaksanakan tiga hari lagi."
"Siapa yang datang mengundang kita Kek? Apakah Mama dan Papa Mukhtar?"
"Tidak, mereka sedang sakit. Ibu kedua dan putranya yang datang kesini. Mereka ingin menemuimu, tapi kata Vita kamu sedang tidur, jadi Kakek tidak tega untuk membangunkan."
"Oh, pasti ada tujuan lain Kek. Aku nggak yakin mereka mau kesini jika tidak ada tujuan yang menguntungkan untuk mereka."
"Kenapa kamu berkata seperti itu Yang, nggak baik berprasangka buruk."
"Sejak aku bertunangan dengan Kak Marshell, aku jadi tahu kak, siapa yang benar tulus dan siapa yang hanya berpura-pura baik."
"Ibu kedua dan ketiga hanya bersikap baik jika mereka menginginkan sesuatu. Aku kasihan sama mama yang selalu mengalah."
"Jadi, apa kamu akan penuhi undangan itu Nak?" tanya Kakek.
"Aku akan datang Kek demi Mama, itupun jika Kak Mishell tidak keberatan. Aku harap Kak Mishell bisa dan mau ikut."
"Aku beri izin, tapi belum bisa janji ikut atau tidak. Di perusahaan sedang banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, takutnya terbengkalai."
"Iya benar, suamimu belum tentu bisa ikut. Saat ini di pabrik memang sedang banyak pekerjaan, proses produksi sudah di mulai lagi."
"Oh ya sudah Kek, lusa aku minta tolong Pak sopir saja untuk mengantar."
"Berangkatnya bareng aku saja, sekalian pergi ke pabrik. Nah pulangnya baru minta tolong ke
Pak sopir untuk menjemput."
"Oh begitu juga boleh Kak, biar sekalian aku kenalkan Kakak dengan keluarga Kak Marshell."
"Tuan, mobil sudah siap, apa kita jadi pergi?"
"Oh jadi Pak, sebentar saya siapkan makan malam dulu. Oh ya Kek, Lila, saya mau ke rumah ibu. Kata Ibu, tadi Anggun pulang telat lagi, saya tidak bisa tinggal diam. Daripada nanti terlanjur rusak, lebih baik dicegah sedari sekarang. Saya mau pindahkan Anggun sekolah di sekitar sini."
"Begini saja Shell, lebih baik malam ini juga kamu ajak mereka tinggal di sini, itu menurut kakek jalan yang terbaik. Lagipula jika tinggal di sini, sopir yang akan antar jemput, jadi Anggun tidak bisa berkilah lagi."
__ADS_1
"Kakek benar Kak, biar aku dengan pak sopir yang setiap hari akan antar jemput, sekalian aku membiasakan diri dengan dunia luar lagi."
"Baiklah Kek, Lil...terimakasih. Malam ini juga, aku akan membawa mereka ke sini."
"Pergilah Kak, biar aku ditemani Vita saja, nanti kemalaman."
"Iya Shell, benar yang dikatakan oleh Kalila."
Mishell pun pamit, sebenarnya dia janji dengan ibu untuk datang sepulang kantor. Tapi karena Mishell tadi buru-buru pulang dan terjadi salah paham dengan Kalila, makanya dia jadi telat datang.
Ibu mengurung diri di kamar, beliau sangat marah dengan Anggun hingga tidak mengizinkannya untuk keluar meski hanya pamit ke warung.
Kepercayaan ibu sudah hilang sejak Anggun beberapa kali membohongi beliau.
Ibu sangat sedih kenapa anak kandungnya sendiri tidak bisa diatur, sementara beliau sangat bangga dengan kepribadian Mishell.
"Apa kesalahan ku Tuhan, hingga anakku menjadi pembangkang seperti ini!" monolog ibu sambil menangis.
Perasaan Mishell sangat tidak nyaman, dia memikirkan keadaan ibunya saat ini.
Begitu sampai di halaman rumah, Mishell melihat lampu dalam rumahnya sudah gelap. Tapi yang membuat Mishell penasaran, pintu depan terbuka sedikit. Dengan rasa cemas Mishell pun buru-buru turun dan berlari masuk.
Mishell menghidupkan lampu ruang tamu, dia tidak melihat ada barang yang hilang atau bergeser dari tempatnya.
Ibu yang mendengar suara di luar, lalu bangkit dan ingin melihat siapa yang datang.
Saat beliau keluar kamar, berpapasan dengan Mishell. Mishell melihat wajah ibunya sembab karena kebanyakan menangis.
"Bu, ibu tidak apa-apa? Maaf ya Bu, Mishell telat datang. Anggun kemana Bu, Mishell panggil tidak menyahut."
"Jadi, bagaimana kamu bisa masuk Le, jika bukan Anggun yang membukakan pintunya. Soalnya tadi semua pintu ibu kunci."
"Pintu depan terbuka Bu, tapi lampu mati, jadi Mishell pikir ada maling yang masuk. Tapi setelah Mishell periksa semua barang aman, masih ada di tempatnya."
Ibu bingung mendengar penuturan Mishell, lalu beliau mengajak Mishell kembali ke kamar Anggun.
"Nggun, buka pintunya! Ibu mau masuk!"
Beberapa kali ibu mengetuk tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Pintunya dikunci Bu!"
"Shell, bagaimana ini! Apa yang adikmu lakukan! Kenapa dia jadi bandel seperti ini ya Shell? Ibu pusing memikirkan perangainya sekarang."
"Tadi saja ibu nasehati dia berani membantah, entah apa yang telah mempengaruhi pikirannya."
"Sudah Bu, ibu jangan khawatir. Kita dobrak saja pintunya!" ucap Mishell.
Ibu pun menjauh saat Mishell sudah pasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu.
Dobrakan pertama gagal, lalu Mishell mengulanginya lagi dan kali ini hampir terbuka.
Lalu Mishell mengulanginya lagi dan akhirnya pintu pun terbuka.
Mishell dan ibu kaget saat melihat tubuh Anggun tergantung.
Ibu menjerit histeris, hingga membuat Pak sopir yang berada di luar menghambur masuk. Mishell dengan sigap menurunkan tubuh Anggun di bantu oleh Pak Sopir.
Sementara ibu yang shok melihat kondisi anggun, akhirnya tubuhnya luruh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Mishell merebahkan tubuh sang adik dengan perasaan cemas, lalu dia memeriksa denyut nadi Anggun, sementara Pak sopir membantu mengangkat tubuh ibu dan merebahkan di sebelah Anggun.
"Alhamdulillah, masih ada denyut nadinya Pak, dan tubuhnya masih hangat."
"Syukurlah Den, kita tidak terlambat. Sebaiknya kita bawa ke dokter terdekat saja Den!" usul Pak sopir.
"Iya Pak, sekalian juga ibu."
"Saya putar mobil dulu ya Den!"
Pak sopir pun bergegas memutar arah mobil, lalu beliau membuka pintu mobil sebelum berlari kembali untuk membantu Mishell mengangkat tubuh Anggun serta ibu.
Setelah memastikan rumah terkunci, Mishell pun bergegas naikdan meminta Pak sopir untuk menjalankan mobil ke rumah sakit terdekat.
Di sekitar kampung ada dokter, tapi kebetulan sedang keluar kota dan klinik juga tutup saat malam hari.
Mishell berusaha menyadarkan keduanya dengan memijat dan memberikan aroma minyak ke hidung ibu dan Anggun.
Inilah yang paling membuat Mishell cemas, melihat kedua orang yang sangat dia cintai terbaring tidak berdaya.
__ADS_1
"Bu, sadarlah! Anggun tidak apa-apa Bu, kita akan membawanya ke dokter. Bangunlah Bu, jangan membuat Mishell khawatir."
Dengan beberapa kali membalurkan minyak kayu putih ke hidung ibu dan membisikkan doa ketelinga beliau, Mishell berharap ibunya akan segera sadar.